Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
7. Paksa


__ADS_3

Gieno tersenyum miring. "Bawa dia," titah Gieno datar.


Mendengar perintah sang ketua, beberapa anggota Zero mendekat ke arah Andreas. "Jangan, aku tidak salah. Tolong lepaskan aku." Andreas memberontak sambil berteriak minta tolong.


Sedangkan orang lain yang melihat itu hanya bisa diam tanpa berani melakukan apa-apa. Jelas saja mereka tidak berani untuk ikut campur ke dalam urusan gengster kejam itu. Tubuh Andreas ditarik paksa oleh beberapa anggota Zero.


Melihat kepergian mereka, Gieno berbalik berniat keluar dari ruangan kelas yang masih saja sunyi. Namun, tiba-tiba langkah kaki laki-laki itu terhenti. Gieno menoleh ke arah bagian bangku mahasiswa dengan tatapan tajamnya. Hal itu sukses membuat para mahasiswa terkejut dan ketakutan.


Tubuh kaku sekumpulan mahasiswa itu semakin kaku kala Gieno masih saja memandang tajam ke arah mereka. Satu objek sukses membuat Gieno tersenyum miring. 'Pertemuan kedua, kau harus ikut aku,' batin Gieno.


Pemimpin Zero itu melanjutkan langkahnya. Namun, arah kakinya bukan lagi ke pintu keluar melainkan ke arah bangku mahasiswa. Melihat itu jelas saja para mahasiswa merasa begitu ketakutan.


Tak … tak … tak …

__ADS_1


Kembali, suara langkah kaki itu kembali membuat penghuni ruangan menahan napas. Jantung mereka masing-masing sudah marathon di dalam sana. Jika saja mereka bisa menjerit, mungkin ruangan itu sudah tidak sanggup menahan jeritan ketakutan mereka semua.


Glek …. Seorang wanita menelan salivanya susah payah kala laki-laki datar itu berdiri tepat dihadapannya. 'Apa dia mengingatku?' batin wanita itu ketakutan.


"Kita bertemu lagi," ucap Gieno dingin.


Sedangkan wanita yang diajak berbicara hanya diam tanpa berani menyahut. Gieno yang melihat itu tersenyum miring. "Karena kau hadir dua kali di depan mataku, maka kau harus ikut bersamaku," sambung Gieno.


Sedangkan wanita itu kembali menunduk karena tidak mampu beradu tatap dengan mata iblis Gieno. 'Ternyata gosip itu tidak main-main, matanya saja mampu membuat aku merinding,' ucap wanita itu di dalam hati.


"Berdiri dan ikut aku," titah Gieno. Namun, wanita itu tetap diam tanpa mengikuti perintah Gieno. Melihat itu Gieno tersenyum miring merasa tertantang. Tanpa aba-aba, laki-laki tampan itu dengan mudahnya mengangkat tubuh wanita itu ke atas pundaknya.


"Akhh …." Wanita itu berteriak karena terkejut. Gieno kembali berjalan dengan membawa tubuh wanita itu seperti karung beras.

__ADS_1


Wanita itu terus memberontak. "Lepaskan aku … tolong …." Wanita itu berteriak meminta pertolongan.


Namun, itu semua hanya berakhir sia-sia. Tidak ada satu orang pun yang berani menolongnya. Mereka hanya bisa diam mendengar teriakan minta tolong dari mulut wanita itu. "Tolong lepaskan aku Tuan, aku tidak ada urusan denganmu," sambung wanita itu.


Sedangkan lima teman Gieno yang berada di ambang pintu sudah menatap sang ketua dengan wajah bingung. "Kenapa kau membawanya? Apa dia ada sangkut pautnya dengan Andreas?" tanya Petrik.


"Melvin, semuanya tanpa terkecuali," tutur Gieno tidak nyambung.


"Oke," sahut Melvin singkat.


"Kalau kau tidak mengenalnya kenapa kau membawanya? Apa kau sudah kekurangan wanita?" sambung Petrik masih penasaran.


Namun, kalimat tanya yang sedari tadi dilontarkannya berakhir zonk. Tidak satu pun dari pertanyaannya itu yang mendapat jawaban dari Gieno. Hal itu membuat Petrik mendengus kesal. "Tolong aku," lirih wanita itu lesu.

__ADS_1


__ADS_2