Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
110. Makan Mie


__ADS_3

"Kak." Gieno yang sedang sibuk dengan laptop di tangannya menoleh saat mendengar suara lembut Mentari. Laki-laki itu dapat melihat Mentari sedang berjalan ke arahnya sambil membawa sebuah piring di tangan gadis itu.


Gieno terus melihat pergerakan Mentari yang saat ini sudah duduk di sampingnya. Setelahnya laki-laki itu menatap sebuah mie yang berada di dalam piring. "Kamu membuat ini?" tanya Gieno.


"Iya, tiba-tiba aku ingin makan mie," sahut Mentari.


Baru saja gadis itu berniat ingin menyuap mie di dalam piring. Namun, pergerakan Mentari terhenti saat dengan tiba-tiba Gieno menarik piring itu. Melihat itu tentu saja Mentari menatap bingung ke arah Gieno.


"Kenapa, Kak? Kakak mau juga? Ingin aku buatkan?" tanya Mentari.


"Dalam satu bulan ini kamu sudah berapa kali memakan mie?" balas Gieno balik bertanya.


Mentari nampak terdiam sejenak memikirkan jawaban dari pertanyaan Gieno. Setelahnya Gieno dapat melihat, Mentari seakan menghitung sesuatu dengan jari tangannya. Mata laki-laki itu melotot saat dia menebak mungkin Mentari sudah memakan mie terlalu banyak bulan ini.


"Kamu …."

__ADS_1


"Satu kali," sela Mentari cepat.


Kening Gieno berkerut sambil menatap Mentari dengan mata memicing. Sedangkan orang yang ditatap, hanya menatap Gieno dengan mata polosnya itu. Melihat itu, Gieno menjadi tidak tahan sendiri. "Kamu yakin?" tanya Gieno memastikan.


Mentari mengangguk cepat menanggapi pertanyaan Gieno. "Terus kenapa harus menghitung, bahkan sampai menggunakan jari-jari tanganmu itu?" tanya Gieno heran.


Mentari terkekeh bodoh saat mendengar kalimat Gieno. "Itu hanya sebagai perumpamaan," sahut Mentari.


Mendengar itu Gieno menghela napas berat sambil memutar bola matanya malas. "Aku pikir kamu sudah memakan satu kardus mie dalam satu bulan ini," tutur Gieno.


"Nah makanya, jangan sering-sering makan mie. Perutmu itu bisa meledak," ucap Gieno menakuti Mentari.


Untuk kedua kalinya, mata bulat gadis itu melotot mendengar kalimat Gieno. Setelahnya gadis itu menunduk menatap perut ratanya dan membayangkan jika perut itu benar-benar meledak. Melihat pergerakan Mentari, Gieno mengulum bibirnya menahan tawa.


'Astaga, apa aku harus bersyukur atau bagaimana mendapatkan gadis polos ini?' batin Gieno tertawa.

__ADS_1


"Ya sudah, aku makan kue ini saja." Mentari akhirnya mengambil toples yang berada di atas meja. Melihat itu Gieno terkekeh kecil.


"Kamu benar-benar ingin memakan mie ini?" tanya Gieno.


Mentari menoleh mendengar suara Gieno. Gadis itu mengangguk menanggapi pertanyaan laki-laki itu. Namun, beberapa detik kemudian, Mentari malah menggelengkan kepalanya. Jelas aja hal itu membuat Gieno merasa bingung.


"Mana yang benar? Iya atau tidak?" tanya Gieno.


"Iya, aku mau mie itu. Tapi … aku tidak mau kalau perutku meledak," celetuk Mentari.


Akhirnya tawa yang sedari tadi ditahan Gieno, meledak sudah. Laki-laki itu tertawa sambil merebahkan tubuhnya di sandaran sofa. Melihat itu tentu saja Mentari merasa bingung. Gadis itu mendekat ke arah Gieno sambil menempelkan telapak tangan yang di kening laki-laki itu. Aksi Mentari itu menghentikan tawa Gieno.


Iblis gila itu menatap Mentari bingung saat tangan gadis itu masih berada di keningnya. "Kakak tidak kerasukan kan?" celetuk Mentari polos.


Sekarang giliran Gieno yang melotot mendengar kalimat Mentari. Laki-laki itu mendengus merasa kesal dengan kalimat gadis itu. Ingin marah pun, laki-laki itu tidak sanggup.

__ADS_1


__ADS_2