Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
93. Nyaman


__ADS_3

"Buka," titah Gieno kepada Mentari. Dengan patuh gadis itu membuka pintu kamar Gieno. Setelahnya iblis gila itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar itu.


Bruk …. Mentari terkejut saat dengan tiba-tiba Gieno menghempaskan tubuhnya sendiri ke atas kasur empuk itu. Hal itu tentu saja membuat Mentari yang sedang berada di gendongan Gieno ikut terhempas.


Secara perlahan Mentari mendongak bermaksud menatap wajah Gieno. Gadis itu saat ini sedang berbaring tepat di atas tubuh Geino. Dengan kepala berada di dada bidang laki-laki itu.


Kedu bola mata Mentari membulat kala melihat luka di leher laki-laki tampan itu. "Kakak luka?"


Gieno terkejut saat dengan tiba-tiba Mentari menyentuh lehernya. Laki-laki itu menegang merasakan aura panas menjalar di sekujur tubuhnya. Sedangkan Mentari saat ini sudah mendudukkan tubuhnya di atas Gieno tanpa sadar karena terlalu panik. "Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, ayo aku obati," tutur Mentari.


Gadis itu tidak tahu saja jika saat ini Gieno sudah mati-matian menahan sesuatu. Sesuatu yang bahkan sedari di kejadian di atas mobil tadi sudah memberontak. Laki-laki itu bernapas lega kala Mentari turun dari tubuhnya. "Hufft, mudah sekali kau terpancing oleh gadis satu ini, Jon," gumam Gieno.


"Mana obat tadi, Kak?" Suara Mentari mengalihkan perhatian Gieno. Laki-laki itu menoleh menatap Mentari yang nampak sedang mencari sesuatu di dalam laci meja.


"Tidak usah, aku tidak apa-apa," sahut Gieno. Dari dulu, laki-laki itu paling malas mengobati lukanya. Sebab memang selama ini dia tidak pernah mendapatkan luka yang parah.


Mentari menoleh cepat ke arah Gieno. "Mana bisa begitu, tetap harus diobati. Ayo cepat, di mana?" balas Mentari tidak setuju.


"Laci yang di sana," jawab Gieno malas.


Mentari dengan segera mendekat ke arah sebuah meja yang dimaksud Gieno. Gadis itu kembali ke arah Gieno dengan membawa sebuah benda di tangannya. "Geser ke sini, Kak."


Sadar atau tidak, Mentari saat ini mulai berani berbicara kepada Gieno. Malah gadis itu sekarang dengan begitu santai menyuruh Gieno. Sepertinya Mentari memang tidak sadar dengan hal itu. Begitu pun dengan Gieno yang begitu patuh. Tanpa membantah, laki-laki itu mendekat ke arah Mentari.

__ADS_1


"Taruh kepala Kakak di sini." Mentari menepuk pahanya menyuruh Gieno meletakkan kepalanya di sana.


Laki-laki itu nampak terkejut, tetapi dia tetap patuh dan mengikuti perkataan gadis itu. Beberapa detik kemudian, Gieno baru tersadar dengan kelakuannya sendiri. 'Kenapa aku malah patuh saja kepadanya?' batin Gieno bingung.


Gieno mendongak menatap Mentari yang nampak mulai serius. "Nah, seperti itu lebih mudah, Kak," celetuk Mentari.


Laki-laki tampan itu terus mendongak sambil memperhatikan wajah manis Mentari. Tanpa laki-laki itu sadari, dia sudah mulai jatuh kepada pesona gadis polos nan manis itu. 'Dia ternyata cantik juga,' batin Gieno memuji paras Mentari.


"Nah, kalau seperti ini kan lebih aman. Tidak akan infeksi, jangan biasakan membiarkan luka tidak diobati atau dibersihkan. Sekecil apa pun itu, bisa menjadi sangat berbahaya nantinya. Apa lagi …."


Mentari terus berceloteh, sedangkan Gieno malah memperhatikan gerak bibir gadis itu. Hanya memperhatikan gerak bibir, tanpa mendengar kalimat yang keluar dari mulut Mentari. Merasa gemas, Gieno menarik leher Mentari pelan.


Cup …. Mata bulat mentari membola saat dengan tiba-tiba Gieno menarik lehernya dan mencium bibirnya pelan. Hanya beberapa detik, tapi itu mampu membuat jantung Mentari maraton di dalam sana, bahkan sampai saat ini. Mentari sibuk dengan jantungnya, sedangkan Gieno saat ini sudah menyembunyikan wajahnya di perut rata gadis itu.


'Nyaman sekali,' batin Gieno. Laki-laki itu mulai melingkarkan tangannya ke pinggang Mentari dan memejamkan matanya menikmati kenyamanan itu.


"Jadi bagaimana sekarang?" tanya Yezo.


"Satu kali lagi … kesempatan mereka tinggal satu kali. Jika setelah ini mereka masih mengganggu Zero, maka itu berarti mereka siap untuk ke neraka. Aku sudah menepati janji untuk memberi mereka tiga kali kesempatan. Tapi jika mereka masih berani mencari masalah setelah ini, maka … bantai habis," desis Gieno.


"Lion sudah terlalu lama bertahan, mereka merasa besar kepala karena kau selalu membiarkan mereka kabur di saat pertempuran," cetus Ferry.


Gieno tersenyum miring mendengar kalimat Ferry. "Mereka saja yang bodoh, apa mereka pikir Zero sebaik dan selunak itu?" cibir Rangga.

__ADS_1


"Mungkin mereka melupakan perjanjian kita kala itu," cetus Petrik remeh.


"Atau mereka yang lupa diri," sahut Ferry.


"Semua kegiatan mereka saja berada di tangan kita," celetuk Melvin yang sedari tadi diam.


"Benar, pergerakan mereka kan selalu diawasi oleh Melvin," papar Petrik.


"Aku ingin melihat permainan terakhir mereka seperti apa," cetus Gieno.


"Tapi kalau sesuai dengan ancaman mereka bagaimana? Mentari diseret," ucap Yezo. Lima pasang mata menoleh ke arah Gieno yang saat ini nampak terdiam dengan raut wajah tidak dapat diartikan.


"Mereka pikir semudah itu untuk menyentuh sesuatu yang bersegel milik iblis gila?" Gieno berucap sambil menyeringai iblis. Lima manusia yang berada di sana, dengan serentak mengusap tengkuk mereka yang terasa merinding. Aura Gieno saat ini terasa lebih mencekam dari biasanya.


'Dia benar-benar iblis, tidak salah orang-orang memberi dia julukan iblis gila,' batin lima inti Zero.


"Aku pergi." Lima laki-laki itu mendongak menatap Gieno yang sudah berdiri dan menuju ke arah lift markas mewah itu.


"Ke mana kau?" tanya Yezo.


"Kamar," sahut Gieno.


"Tumben, ini masih jam satu. Kau sudah ingin tidur saja? Ayo kita main dulu," balas Ferry.

__ADS_1


"Mentari sendiri."


Ting …. Pintu lift itu terbuka, Gieno masuk ke sana dan menghilang di balik pintu lift. Sedangkan lima laki-laki yang sedari tadi memperhatikan itu, sudah saling tatap. "Sudah tidak bisa berpisah lama dia," ucap Petrik.


__ADS_2