
"Aaaa …." Suara teriakan Nayry mengejutkan Abraham dan Heiki yang sedang sibuk membicarakan masalah keuangan perusahaan. Dua laki-laki itu menoleh dan mendekat ke arah Nayry yang sudah bergetar ketakutan.
"Kenapa, Nay?" tanya Heiki.
Nayry dengan cepat mendekat ke arah sang suami dan bersembunyi di belakang tubuh Heiki. "Itu, Mas. Itu …."
Abraham dan Heiki saling tatap merasa bisa menebak apa yang terjadi. "Tidak mungkin Damar kan?" tanya Abraham.
"Aku baru mengantarnya kemarin, Pa. Kalau pun dia menghilang atau terjadi apa-apa. Pasti ada yang melapor kepadaku," tutur Heiki.
"Terus siapa?" tanya Abraham. Sepasang ayah dan anak itu nampak begitu penasaran. Mereka bisa menebak jika di dalam kotak besar yang baru sampai itu adalah potongan tubuh seseorang. Seperti paket yang telah sering mereka terima sebelumnya.
Namun, karena rasa takut dan ngeri. Abraham dan Heiki tidak berani membuka kotak besar itu. Heiki menoleh ke arah Nayry yang nampak masih bergetar ketakutan. "Apa yang ada di sana?* tanya Heiki penasaran.
"Kepala, Mas," balas Nayry pelan.
Abraham dan Heiki kembali saling tatap mendengar jawaban Nayry. Rasa penasaran mereka semakin kuat sambil menebak kepala siapa yang ada di dalam kotak itu. "Kau periksalah," titah Abraham.
__ADS_1
Heiki nampak diam merasa ragu, tetapi karena rasa penasarannya yang lebih tinggi membuat laki-laki itu memberanikan diri untuk mendekat. Dada Heiki naik turun merasa begitu tegang harus membuka isi kotak itu. Secara perlahan kaki Heiki mulai membuka kotak itu dari kejauhan.
Deg …. Heiki dan Abraham terkejut saat melihat kepala korban. Itu adalah korban dua hari yang lalu, bedanya dua hari yang lalu mereka mendapatkan potongan tangan. "Dia benar-benar gila," tutur Abraham.
"Terima kasih." Abraham, Heiki dan Nayry terkejut saat mendengar suara berat seseorang menggema di ruangan kerja Heiki.
Tiga manusia itu menoleh dan terkejut melihat keberadaan Gieno sudah duduk santai di kursi kebesaran Heiki dengan kedua kaki di atas meja. Tiga wajah manusia itu mulai nampak pucat melihat keberadaan Gieno. Sedangkan Gieno sudah tersenyum miring melihat ketegangan mereka.
"Kenapa terkejut seperti itu? Tidak ada sambutan untuk kedatanganku? Padahal kita sudah satu minggu lebih tidak bertemu," celetuk Gieno.
"Ayo bernegosiasi," balas Abraham.
"Apa?" jawab Heiki cepat. Laki-laki paruh baya itu nampaknya sudah begitu ingin mengakhiri semua keadaan itu.
Gieno tersenyum miring mendengar kalimat Heiki. "Perusahaan atau Naraya?" celetuk Gieno.
Deg …. Tiga manusia yang mendengar perkataan Gieno sudah melotot terkejut. Tangan Heiki terkepal erat merasa tidak terima putrinya dibawa ke dalam pilihan aneh itu. "Tidak usah mengganggu Naraya, dia tidak salah apa pun dalam hal ini," geram Heiki.
__ADS_1
"Kalau begitu, apa bisa aku juga berbicara seperti itu? Kalian tidak bercermin dengan sifat dan sikap kalian? Jika Papaku masih hidup, maka dia pasti juga akan mengucapkan hal yang sama, bukan?" sindir Gieno santai.
Abraham dan Heiki terdiam mendengar kalimat Gieno. "Maafkan kami, kami tahu kami salah. Tapi tolong maafkan kami, seperti apa pun … kita tetaplah keluarga. Tolong jangan mengganggu Naraya," pinta Nayry angkat suara.
Gieno menoleh dan menatap Nayry dengan padangan datarnya. "Baiklah, karena kalian tidak milih. Itu berarti, kalian ingin aku mengambil keduanya."
Duar …. Tiga jantung manusia yang mendengar kalimat itu, sekarang sudah berpacu begitu cepat. Nayry bahkan sudah menggelengkan kepalanya sambil menatap Gieno dengan pandangan memohon. "Tolong, aku akan lakukan apa pun supaya kamu tidak menyakiti Naraya. Aku mohon," pinta Nayry.
Gieno menyeringai menatap wajah Nayry tanpa rasa kasihan. "Kalau begitu, apa kau mau melompat dari jendela ini? Jika kau bersedia, maka aku akan melepaskan Naraya," cetus Gieno santai.
Tiga pasang mata itu membulat merasa terkejut dengan kalimat Gieno. "Apa kau gila?" teriak Heiki.
"Aku memang gila, bukannya kau tahu itu?" balas Gieno santai.
"Kalau kau gila, tidak usah mengajak orang lain untuk melakukan hal gila sepertimu," geram Heiki.
Gieno tersenyum sinis menatap Heiki. Setelahnya Gieno berdiri dari duduknya sehingga membuat tiga manusia itu mundur dengan kaku. Padahal Gieno tidak mendekat ke arah mereka. Iblis gila itu malah mendekat ke arah jendela besar itu, tempat dia masuk tadi.
__ADS_1
"Ya sudah, aku sibuk dan tidak punya waktu banyak untuk bercerita dengan kalian. Satu pesanku, jaga keturunan Barka itu dengan baik."