Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
114. Menipu


__ADS_3

Bruk … Puss …


Srett …. Mendengar suara reruntuhan itu berhenti, Gieno dan Ferry ikut menghentikan lari mereka. Dua laki-laki itu menoleh ke belakang dan mendongak saat melihat cahaya yang begitu terang. Setelahnya dua laki-laki itu saling tatap sejenak.


Tanpa banyak bicara, dua laki-laki itu mulai memanjat tumpukan tanah itu. Mereka memanjat untuk bisa naik ke permukaan. Jaraknya tidak terlalu tinggi sehingga Gieno dan Ferry tidak terlalu kesulitan untuk memanjat.


Bruk …. Dua laki-laki itu akhirnya sampai di permukaan. Keadaan di sekitar mereka sangat luas tanpa penghuni. Tanah luas yang nampak tidak berujung.


"Persiapkan," ucap Gieno.


"Baik, Yezo dan Petrik sudah lebih dulu berangkat," sahut Rangga seberang benda komunikasi itu.


"Dapat?" tanya Gieno.


"Tentu, kali ini misi kita lebih menantang tapi mulus," sahut Rangga.


"Bagus, perkiraan waktu aku sampai?" balas Gieno.


"Helikopter sudah berangkat, kemungkinan sampai sekitar sepuluh menit lagi. Untuk kembali ke markas, kira-kira sekitar empat puluh menit. Aku dan Melvin mengambil jalan pintas," jelas Rangga.


"Suruh jenderal utama untuk menungguku sekitar satu jam lagi. Aku tidak ingin mengulur waktu, selesaikan misi ini cepat dan kembalikan ke aparat negara," jelas Gieno.


"Kau ingin cepat pulang ya? Tidak sabar ingin bertemu dengan Mentari?" goda Rangga.


"Masih kau pantau?" Bukannya menyahut godaan Rangga. Gieno malah memberikan pertanyaan lain.


"Masih, dia sedang bercanda dengan seorang laki-laki. Sepertinya laki-laki itu sedang bertanya sesuatu," balas Rangga.


"Apa?" Ferry terlonjak saat mendengar suara teriakan Gieno. Begitu pula dengan Rangga di seberang.

__ADS_1


"Bangsat, terkejut aku," ucap Ferry kesal.


"Tumben kau berteriak? Biasnya selalu berdesis," ejek Rangga.


"Siapa laki-laki itu?" desis Gieno tajam.


Terdengar suara tawa Rangga dan Melvin di seberang alat komunikasi itu. Mendengar itu jelas saja Gieno merasa semakin kesal. "Bangsat! Jawab pertanyaanku," sambung Gieno marah.


"Ternyata kau mudah sekali ditipu kalau masalah asmara, ya," ejek Rangga.


Kening Gieno berkerut sejenak, setelahnya laki-laki kembali bersuara. "Kau menipuku?" geram Gieno.


"Gadismu itu sedang sibuk di dekat kandang kucing. Sepertinya dia begitu menyukai kucing. Apa kau tidak berniat membelikan dia kucing?" tutur Rangga.


"Jenis yang dia lihat, pesan berapa pun harganya," titah Gieno.


Ferry menoleh saat mendengar kalimat Gieno. Setelahnya laki-laki itu menggelengkan kepalanya mereasa tidak percaya dengan sifat Gieno. Begitu pula dengan Rangga dan Melvin di seberang sana.


"Kapan aku bercanda?" balasa Gieno balik bertanya.


"Tidak pernah," sahut Rangga tanpa sadar.


"Itu kau tahu," balas Gieno.


"Tapi itu kucing milik orang, aku ra …."


"Beli berapa pun harganya," sela Gieno.


Terdengar suara Rangga menghela napas di seberang sana. "Baiklah, terserah kau saja," balas Rangga pasrah.

__ADS_1


Gduk … Gduk … Gduk …


Tidak lama kemudian suara helikopter mengalihkan perhatian Gieno dan Ferry. Dua laki-laki itu bersiap mengambil masker dan kaca mata mereka untuk menghindari debu yang akan beterbangan oleh kipas helikopter. Setelahnya Gieno dan Ferry mulai membenarkan tas yang mereka sandang.


Setelah helikopter mendarat, seorang laki-laki nampak bergegas mendekat ke arah Gieno dan Ferry. "Semua sudah siap, Ketua," ucap laki-laki itu.


"Kau membawa bom itu?" tanya Gieno.


"Ini, Ketua." Laki-laki itu memperlihatkan benda itu kepada Gieno.


"Lakukan," titah Gieno.


"Baik, Ketua." Setelah menyahut, laki-laki itu bergerak mendekat ke arah sisa reruntuhan lorong tadi. Berbeda dengan Gieno dan Ferry yang sudah bergerak masuk ke dalam helikopter.


Tidak lama kemudian, laki-laki tadi nampak berlari bergegas menuju helikopter. Tanpa banyak bicara, laki-laki itu masuk ke dalam helikopter. "Start," ucap laki-laki itu kepada pilot helikopter tersebut.


Beberapa detik kemudian, helikopter itu mulai bergerak naik. Gieno dan Ferry nampak duduk santai di atas helikopter sambil melihat keadaan sekitar. Tidak berapa lama, dua laki-laki itu menunduk menatap tempat yang sempat mereka pijaki tadi.


Duar … Duar … Duar …


Ledakan besar itu terdengar bertubi-tubi dari atas sana. Lorong tempat misi inti Zero tadi saat ini mulai hancur tidak bersisa. Melihat itu, Gieno tersenyum miring. 'Apapun hasil tangan Zero, akan aku buat menjadi sebuah legenda besar. Meski ini misi dari negara,' batin Gieno.


.


.


.


Maaf karena masih belum bisa kasih lebih dari satu bab ya🙏

__ADS_1


Terima kasih bagi yang masih terus menunggu kedatangan iblis gila dan si polos🥰🌷


__ADS_2