
“Ada apa?” sela Gieno cepat.
“Nona Mentari ada di rooftop, Tuan. Nona Mentari ingin bunuh diri.”
“Apa? Jangan bercanda!" murka Gieno marah.
"Mana mungkin saya berani bercanda masalah ini, Tuan. Nona Mentari sedang berada tepat di pembatas rooftop mansion. Kami sudah mencoba membujuknya tapi dia tetap tidak ingin turun," jelas kepala pelayan cemas.
Gieno terpaku sejenak saat mendengar penjelasan kepala pelayan itu. Berbeda dengan Naraya yang berada di belakang laki-laki itu. Naraya saat ini sudah tersenyum miring merasa senang jika aksinya tadi berhasil. 'Baguslah, dia benar-benar gadis bodoh. Segampang itu dia mempercayai kata-kataku, tapi ini malah semakin mempermudah jalanku. Biarkan saja dia mati,' batin Gieno.
Sreettt …
__ADS_1
Tepat saat Gieno akan berlari ke arah lift mansion. Naraya dengan sengaja menarik baju yang dikenakan oleh laki-laki itu. Sehingga aksi wanita itu menyebabkan baju yang dipakai oleh Gieno robek dan terbuka. Jelas aja hal itu membuat seluruh pasang mata yang melihatnya merasa terkejut.
"Kau!" Gieno menatap tajam ke arah Naraya yang sedang tersenyum dan menatap tubuh telanjang laki-laki itu dengan tatapan mendamba.
"Maaf, Kak. Aku tidak sengaja," tutur Naraya sok polos. Wanita itu terus melihat lekuk tubuh Gieno yang nampak begitu kekar menggoda seakan memanggilnya untuk dipeluk.
Gieno menghiraukan Naraya sebab laki-laki itu ingin segera menemui Mentari. Laki-laki itu berlari dengan tubuh atasnya yang terbuka. Dia tidak menghiraukan Naraya yang juga mengikuti langkahnya. Entah apa yang direncanakan oleh wanita itu, Gieno tidak sempat untuk memikirkan itu.
Gieno terus memacu langkahnya, bahkan saat di dalam lift pun laki-laki itu nampak tidak tenang. "Kenapa? Kenapa dia tiba-tiba berpikiran seperti itu?" gumam Gieno.
Ting …
__ADS_1
Gieno memacu langkahnya keluar dari dalam lift. Macam-macam itu kembali berlari ke arah tangga yang menghubungkan lantai terakhir itu dengan rooftop mansion mewahnya. Gieno nampak begitu cemas dan khawatir dengan keadaan Mentari.
Tap … Tap … Tap …
Bunyi pijakan sandal dengan lantai tangga itu memetakan telinga. Laki-laki itu secepat kilat menyelesaikan setiap tanjakan tangga. Setelah berada di anak tangga teratas, Gieno langsung menendang pintu rooftop itu dengan gerakan cepat.
Brak …
Mata tajam Gieno menatap puluhan pelayan mansionnya memenuhi rooftop itu. Nampak wajah dari seluruh pelayan itu pucat dan cemas. Bukan apa-apa, sifat lembut, polos dan baik milik Mentari membuat seluruh pelayan di mansion Gieno begitu menyukai dan menyayangi Mentari. Jadi aksi nekat Mentari saat ini jelas saja membuat mereka panik dan takut.
Gieno menatap Mentari yang sedang berdiri di atas pembatas rooftop sambil menatapnya dengan mata memerah. Gieno dapat menebak gadis itu sedang menangis. Melihat itu tentu saja hati Gieno merasa begitu sakit dan perih.
__ADS_1
Setelah laki-laki itu tahu jika nama Mentari sukses berada di puncak tertinggi di dalam hatinya. Gieno selalu mencoba untuk membuat gadis itu merasa senang dan nyaman di dekatnya. Gieno tidak lagi menginginkan air mata dan raut ketakutan timbul di wajah manis itu.
Namun, saat ini Gieno kembali melihat wajah basah gadis itu setelah beberapa bulan lamanya. Ada desiran sakit di dalam hati laki-laki itu saat melihat wajah basah milik gadisnya. Apalagi tatapan kesakitan, kekecewaan dan tatapan luka dapat laki-laki itu tangkap dari bola mata bulat itu.