
Gieno menatap sendu wajah pucat gadis manis yang saat ini sedang terbaring tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Gieno menggenggam tangan dingin Mentari hangat. Tatapan bersalah sangat jelas terlihat dari mata laki-laki tampan itu.
"Lux, aku … minta maaf. Ini adalah pertama kalinya bagiku mengucapkan maaf kepada seorang manusia. Kamu tahu bagaimana sifat aku selama ini? Kata itu pantang di dalam kamus hidupku, Lux. Tapi kepadamu, aku menghapusnya. Aku menghapusnya untukmu, aku benar-benar minta maaf," lirih Gieno.
Gieno menunduk menatap genggaman tangannya dengan tangan kecil Mentari. Secara perlahan laki-laki itu menunduk dan mengecup singkat tangan dingin itu. "Kamu biasanya begitu hangat, apa sekarang kamu kedinginan? Apa kamu ingin aku peluk supaya lebih hangat? Apa kamu ingin aku temani saat tidur? Tapi sepertinya sekarang tidur kamu lebih nyenyak dan tidak terganggu lagi. Apa kamu sudah tidak membutuhkan pelukanku untuk tertidur nyenyak? Apa aku sudah tidak berguna?" sambung Gieno terdengar begitu menyedihkan.
Gieno mendongak dan menatap wajah pucat Mentari. Laki-laki itu terus menatap intens setiap lekuk wajah gadis yang saat ini sukses menduduki posisi tertinggi di dalam hatinya. Secara perlahan laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke arah wajah Mentari dan mengecup pelan pipi gadis manis itu.
"Aku suka mata bulatmu, Lux. Jangan terlalu lama terpejam, aku akan sangat merindukan binar mata itu," bisik Gieno.
...*****...
__ADS_1
Gieno manatap tajam Naraya yang sedang berdiri di depannya. Laki-laki itu terlihat masih menahan amarahnya supaya tidak membunuh Naraya saat itu itu juga. Sedari awal tujuan laki-laki itu memang tidak akan langsung menghabisi keluarga Barka. Gieno selalu bergerak dengan cara santai khas miliknya.
Namun, kali ini sepertinya laki-laki itu kehilangan ciri khasnya itu. Gieno marah dan kehilangan kendali karena bersangkutan dengan Mentari. Masih untung laki-laki itu masih bisa mengontrol emosinya di saat Naraya masih berani menemuinya.
"Kak, ini semua terjadi karenamu. Jadi aku ingin kamu bertanggung jawab atas semua ini. Kemungkinan besar aku akan hamil anak mereka. Tapi aku tidak tahu siapa bapaknya, ini semua karenamu. Sampai saat ini aku masih ingin penjelasanmu kenapa kamu melakukan ini kepadaku. Bukankah selama ini hubungan kita baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba kamu melakukan hal sekejam ini kepadaku?" cetus Naraya.
Gieno masih saja menatap Naraya dengan mata tajamnya itu. Tidak ada lagi senyum miring dan seringnya yang biasa dia keluarkan. Hanya ada wajah datar nan dingin dan tatapan tajam yang menakutkan. Sejujurnya Naraya sedari tadi sudah bergetar merasa ngeri ditatap sedemikian rupa oleh Gieno.
"Mana mungkin bisa aku mengembalikannya? Dia saja yang bodoh menyelesaikan masalah dengan bunuh diri," balas Naraya.
Kedua tangan Gieno mengepal saat mendengar kalimat Naraya. Mata laki-laki itu semakin menajam menatap wanita di depannya. "Seandainya aku menyuruhmu untuk melompat dari gedung tinggi, apakah berani melakukannya?" ucap Gieno sinis.
__ADS_1
Naraya terdiam dan terkejut mendengar kalimat Gieno. "Maksud Kakak?" tanya Naraya.
"Tidak ada, hanya saja aku rasa hidupmu itu sudah tidak berguna. Setidaknya dengan kau mati, masih ada beberapa orang yang akan merasa bersedih," papar Gieno dingin.
Deg …
Napas Naraya tercekat mendengar kalimat Gieno. Wanita itu menatap Gieno dengan pandangan tidak percaya. "Kak, kamu menyuruhku bunuh diri seperti gadis itu?" tanya Naraya tidak percaya.
"Iya, kau berani?" sahut Gieno.
'Apa dengan aku bunuh diri nanti, Kak Gieno akan melakukan hal yang sama seperti kepada gadis itu?' batin Naraya.
__ADS_1
Gieno tersenyum miring melihat raut wajah Naraya. Nampak wanita itu sedang terdiam seakan sedang berpikir. 'Jika benar dia bunuh diri, berarti dia memang perempuan bodoh. Tapi … dengan begitu, maka tiga manusia itu pasti akan sangat gila kan?' batin Gieno licik.