
Gieno mengayunkan langkahnya ke di lorong rumah sakit itu. Berat, langkah kaki laki-laki tampan itu terasa sangat berat. Sejujurnya dia sudah begitu merindukan Mentari. Namun, ketakutannya lebih besar sehingga laki-laki itu memilih menahan rindu.
“Ketua.” Seluruh laki-laki yang berada di depan ruangan rawat Mentari menyapa Gieno dengan nada tegas. Ada sekitar sepuluh anggota Zero pilihan yang ditugaskan Gieno untuk menjaga ruangan rawat Mentari.
“Hufftt ….” Gieno menghela napas panjang sebelum menggapai pintu ruangan rawat Mentari.
Cklek …
Akhirnya laki-laki itu membuka pintu itu dan berdiri di dekat daun pintu sambil melihat keadaan di dalam ruangan itu. Semua orang yang berada di sana terdiam kaku tidak berani bergerak saat melihat kedatangan Gieno. Saat ini kedua orang tua Mentari dan dua adik laki-lakinya sedang berada di dalam ruangan itu.
Tap … Tap … Tap …
Gieno menghiraukan rasa takut dan gugup seluruh orang yang berada di sana. Laki-laki itu terus berjalan mendekat ke arah ranjang Mentari yang masih setia memejamkan matanya. Gieno terdiam melihat wajah pucat itu lagi.
“Ayo kita tunggu di luar saja, sepertinya Tuan De Larga butuh waktu berdua dengan Tari,” bisik laki-laki paruh baya kepada istri dan dua anak laki-lakinya.
“Iya, ayo,” sahut istrinya.
“Ekhm … maaf, Tuan. Kami permisi keluar, ayo,” pamit bapak Mentari kaku.
Gieno masih diam, laki-laki itu tidak menggubris kalima laki-laki paruh baya itu. Gieno masih sibuk dengan wajah gadisnya yang nampak sangat pucat. Wajah laki-laki itu memang masih sangat datar, tetapi hatinya saat ini dangat merasa terpukul.
__ADS_1
Gieno masih diam, laki-laki itu menundukkan wajahnya seakan merenungi sesuatu. Setelahnya Gieno kembali menghela napas sebelum kembali mengangkat wajahnya. Gieno akhirnya mengangkat tangan kekarnya untuk menyentuh pipi pucat gadis cantik itu.
Desiran aneh menjalar di dalam hati Gieno saat kulit tangannya menyentuh kulit dingin pipi Mentari. “Kenapa kamu begitu dingin? Apa kamu sangat kedinginan di sini? Biasanya kamu sangat hangat, apa kamu ingin aku peluk?” gumam Gieno.
Secara perlahan Gieno mendekatkan wajahnya ke arah wajah Mentari. Laki-laki itu akhirnya mengecup pelan pipi dingin gadis itu. Cukup lama Gieno menahan bibirnya bersentuhan dengan pipi dingin itu.
Deg …
Gieno terkejut saat merasakan pipinya yang bersentuhan dengan pipi Mentari terasa basah. Laki-laki itu menarik wajahnya dan semakin terkejut saat melihat mata Mentari yang sedang terpejam itu malah mengeluarkan air mata. Gieno nampak panik dan khawatir dengan keadaan Mentari. Namun, detak jantung gadis itu masih normal tanpa ada ada kejadian apapun.
“Lux, kamu menangis? Lux? Apa kamu kesakitan?” ucap Gieno panik. Laki-laki itu memencet tombol darurat di atas ranjang rawat Mentari. Gieno terus menatap mata terpejam Mentari yang nampak masih mengeluarkan air mata.
Clek …
Seluruh tenaga medis yang berada di sana jelas saja merasa terkejut sekaligus tidak percaya saat mendengar Gieno berbicara begitu panjang dan tekesan cerewet. Namun, keadaan Mentari yang baik-baik saja membuat mereka merasa bingung. Bahkan keluarga Mentari yang tadi menunggu di luar ikut masuk karena khawatir.
“Bagaimana?” tanya Gieno tidak sabar.
“Ada apa?” Belum sempat dokter menyahut, suara seorang laki-laki mengalihkan perhatian mereka. Nampak lima laki-laki tampan sedang berdiri di daun pintu ruangan itu.
“Cepat jawab,” ulang Gieno tidak sabar.
__ADS_1
“Kondisi Nona Mentari baik-baik saja, Tuan. Dia tidak apa-apa, apa tadi Tuan melihat sesuatu yang terjadi dengan Nona Mentari?” jelas dokter wanita itu.
“Kalau dia tidak kenapa-kenapa, terus kenapa dia mengeluarkan air matanya? Kenapa dia menangis kalau dia tidak kesakitan?” cecar Gieno.
Seluruh orang yang berada di sana terdiam mendengar kalimat Gieno. Mereka secara serentak menoleh dan melihat wajah pucat Mentari. Mereka memang melihat jejak air mata di pipi gadis itu. Para tenaga medis nampak bingung harus menjawab seperti apa. Sebab memang keadaan tubuh Mentari tidak apa-apa.
“Kapan kau melihatnya menangis?” tanya Rangga.
“Baru saja, aku tadi sedang menyapanya dan mencium pipinya. Tapi tiba-tiba matanya berair, dia menangis. Ini tidak benar,” papar Gieno.
Rangga mengangguk pelan merasa mengerti dengan penjelan Gieno. “Kalian pergilah, tidak ada yang perlu kalian jelaskan kepadanya,” ucap Rangga kepada para tenaga medis itu.
“Apa yang kau lakukan? Mereka harus tahu apa yang terjadi dengan tubuh Lux,” geram Gieno.
“Kau tidak butuh mereka, tapi kau butuh aku untuk menjelaskannya. Sudah, kalian keluarlah,” balas Rangga.
Gieno kali ini diam mendengar kalimat Rangga. Laki-laki itu menatap Rangga dengan wajah bingungnya. “Cepat katakan apa?” tanya Gieno tidak sabar.
Rangga menghela napas berat sebelum menyahut kalimat Gieno. “Kau sudah tiga hari tidak ke sini. Seperti yang Dokter katakan, meski mata Mentari terpejam, dia masih tahu hal disekitarnya. Jadi saat tahu kau ke sini, dia merasa sedih. Sesuai dengan apa yang kami katakan, Mentari pasti sudah merindukanmu selama tiga hari ini. Pasti dia selalu menunggu kedatanganmu. Sampai dia menangis di alam bawah sadarnya saat kau datang.”
Deg …
__ADS_1
Gieno tertegun mendengar penjelasan Rangga. Laki-laki itu menatap wajah pucat Mentari dengan tatapan sendu. “Apa benar begitu, Lux? Jadi aku membuatmu menangis lagi? Maafkan aku, mulai sekarang aku akan datang ke sini setiap hari,” bisik Gieno.