Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
58. Tidak Suka


__ADS_3

Setelah kepergian Leina dari kamarnya. Gieno mengambil telepon genggamnya dan menatap nama Mentari di layar ponselnya. "Ada apa dia meneleponku?" gumam Gieno.


Gieno memencet nama Mentari dan sambungan telepon pun mulai tersambung. Namun, telepon itu tidak mendapatkan jawaban. Gieno melirik jam di layar ponselnya. "Apa dia sudah tidur?" gumam Gieno lagi.


Tok … tok … tok …


Gieno menoleh ke arah pintu kamar hotelnya. "Maaf, Ketua. Persiapan sudah mencapai sembilan puluh lima persen. Kami tinggal menunggu aba-aba dari Ketua," ucap seorang laki-laki di seberang pintu.


"Tunggu Laksa turun, setelahnya lakukan sesuai rencana," balan Gieno.


"Baik, Ketua."


Gieno melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dalam keadaan seperti ini, laki-laki itu masih tampak begitu santai. Padahal beberapa menit lagi, sebuah pertempuran gila akan segera terjadi. Namun, memang dasarnya iblis gila, Gieno tidak terpengaruh sedikit pun.


...*****...


"Dia melakukan rencana sambil bersenang-senang. Dasar, apa dia tidak memikirkan perasaan Mentari?" celetuk Petrik.


"Entahlah, dia benar-benar gila. Melakukan apa-apa selalu disertai dengan itu," balas Ferry.


"Kau masih memantau gadis itu?" tanya Rangga kepada Yezo.


"Tentu saja, iblis gila itu bisa mengamuk kepadaku kalau tidak melapor," dengus Yezo.


Tiga laki-laki lainnya tertawa mendengar perkataan Yezo. "Apa ada yang aneh?" tanya Rangga lagi.


"Sejauh ini tidak ada, aku lihat dia tidak memiliki niat untuk kabur. Gieno mengancamnya dengan nama keluarga, nama berani dia kabur. Lagi pula penjagaan juga diperketat, tidak ada cela untuk melarikan diri," ungkap Yezo.

__ADS_1


"Gieno saja yang terlalu takut, dia takut gadis itu kabur. Dasar," pungkas Rangga.


"Iya, tapi aku heran. Kenapa Gieno seakan tidak sadar dengan perasaannya? Padahal sudah sangat jelas dia menyukai Mentari," kata Ferry bingung.


"Kau seperti tidak kenal dengan sifat Gieno saja. Dia memang seperti itu, egois. Dia saat ini dalam fase bingung. Dia bingung dengan perasaannya dan memilih menekan seakan tidak mengakui dia suka kepada Mentari," jelas Rangga.


"Akan sampai kapan dia seperti itu? Takutnya nanti dia menyesal," ucap Petrik.


"Biarkanlah, Gieno bukan laki-laki yang mudah diberi pengertian. Kita tunggu saja dia sadar sendiri dengan perasaannya itu," papar Yezo.


...*****...


Gieno melangkah santai di lorong hotel. Beberapa anggota Zero mengikuti langkah kaki sang pemimpin. "Mereka mengepung tempat, mereka mendapat bantuan. Entah dari siapa," ucap seorang laki-laki.


Gieno memperbaiki letak benda kecil di belakang telinganya. "Pasang punya kalian baik-baik," pesan Gieno.


"Baik, Ketua!" sahut mereka serentak.


"Stay … mereka berada dititik tikungan. Posisi mereka cukup bagus, dan anggota mereka juga lumayan. Jika beradu jumlah, Zero kalah jauh. Tapi … kau tahu sendiri bagaimana Zero Alfa," jelas Rangga.


Gieno tersenyum miring mendengar penjelasan Rangga. "Petrik," panggil Gieno singkat.


"Prima Justin, sekarang dia berada dua tingkat di bawahku. Dia membawa tiga anggota, dan itu sudah jauh dari cukup," sahut Petrik.


"Ferry," panggil Gieno lagi.


"Trios, laki-laki yang sedari tadi bersamamu. Dia tangan kiriku, kau bisa mengandalkannya dalam memandu perang," sahut Ferry.

__ADS_1


"Melvin."


"Satu hacker blok, satu hacker CCTV dan satu hacker luar. Mereka akan berkoordinasi langsung denganku. Data mereka sudah masuk," terang Melvin.


"Yezo."


"Aku? Apa kau menanyakan Mentari? Dia aman bersamaku," ejek Yezo.


"Kenapa dia meneleponku?" tanya Gieno.


"Kapan?" balas Yezo balik bertanya.


"Baru saja, saat aku sedang beraksi," sahut Gieno.


"Apa kau mengangkat teleponnya saat kau sedang bermain?" tanya Yezo was-was.


"Iya." Empat pasang mata yang mendengar jawaban Gieno melotot terkejut.


"Bangsat, apa kau tidak memikirkan perasaannya?" tutur Yezo tidak habis pikir.


Kening Gieno berkerut tidak mengerti. "Memangnya kenapa?" tanya Gieno.


"Bedebah, hatinya pasti sakitlah," sambar Petrik kesal.


"Sakit kenapa?" tanya Gieno masih belum mengerti.


"Ck, kalau seandainya kau meneleponnya dan mendengar dia sedang bercinta dengan laki-laki lain. Bagaimana kira-kira?" cetus Rangga.

__ADS_1


Rahang Gieno mengeras mendengar kalimat Rangga. Tangannya ikut mengepal merasa tidak suka dengan kalimat itu. "Siapa yang berani menyentuhnya?" desis Gieno.


"Huh, seperti itulah Mentari sekarang. Kau tidak suka kan? Dia juga pasti tidak suka itu," papar Petrick malas.


__ADS_2