Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
65. Mengganjal


__ADS_3

Gieno terbangun dari tidurnya, mata laki-laki itu memicing mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam bola matanya. Laki-laki itu menunduk saat merasakan tubuhnya seakan sedang dililit sesuatu. Mata tajam iblis gila itu menangkap wajah bulat milik Mentari. Secara perlahan Gieno mendekat ke area wajah bulat itu dan mendaratkan satu kecupan singkat di pipi gembung milik Mentari.


Mentari mengggeliat kecil saat merasakan benda kenyal menempel di pipi kanannya. "Engh," lenguh Mentari pelan.


Secara perlahan bola mata bulat itu mulai terbuka. Dada bidang Gieno menjadi pemandangan pertama yang dilihat Mentari saat ini. Mata gadis itu memicing merasa kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul. Sedangkan Gieno hanya diam menatap wajah polos Mentari.


"Ini apa?" gumam Mentari bingung.


"Menurutmu?" Mentari terlonjak saat kalimatnya mendapat jawaban. Gadis itu mendongak dan terkejut saat melihat mata tajam Gieno sedang menatapnya intens.


Melihat Gieno, kesadaran Mentari perlahan hadir. Gadis itu menunduk dan melihat kedua tangannya sedang melingkar sempurna di tubuh kekar Gieno. Dengan gerakan cepat Mentari menarik tangannya dengan wajah mulai memerah. Gieno yang tahu Mentari sedang merasa malu, sudah tersenyum miring. "Jadi, itu apa?" goda Gieno.


Mentari menutup wajah dengan kedua tangannya merasa begitu malu dan salah tingkah. 'Kenapa aku bisa memeluknya begitu erat? Malu sekali aku,' jerit Mentari di dalam hati.

__ADS_1


"Kenapa dilepas? Tadi malam saja kau begitu agresif," sindir Gieno.


Mendengar kalimat Gieno membuat Mentari melotot menatap wajah tampan Gieno. "Maksud Kakak?" tanya Mentari was-was.


Gieno yang menangkap raut salah paham di wajah Mentari menjadi tersenyum miring. 'Sepertinya asik juga mengerjai dia,' batin Gieno.


"Kau menarikku ke sini, padahal aku belum sempat memakai pakaian. Kau bergerak begitu agresif di atas tubuhku. Sampai aku tidak bisa ke mana-mana, lihatlah … aku masih tidak memakai baju," tutur Gieno tidak berbohong.


Mentari ikut menoleh mengikuti arah pandang Gieno. Pipi gadis itu semakin memerah saat melihat tubuh kekar itu secara nyata dan begitu dekat. "Tidak mungkin," gumam Mentari.


Mentari dengan cepat menggelengkan kepalanya menanggapi perkataan Gieno. "Ti-tidak usah, Kak," balas Mentari gugup.


"Berarti kamu mengakui kejadian tadi malam?" tanya Gieno.

__ADS_1


Mentari terdiam mendengar pertanyaan Gieno. "Memangnya apa saja yang aku lakukan?" tutur Mentari balik bertanya.


"Kau menarik tanganku, memeluk tubuhku. Kau juga menggesekkan kakimu itu pada juniorku sehingga dia terbangun. Sampai aku ingin pergi, kau malah menaiki tubuhku dan duduk di atas perutku. Kau menggeliat seakan sedang memancing singa yang sedang kelaparan," bisik Gieno tepat di daun telinga Mentari.


Glek …. Mentari menelan salivanya kasar saat mendengar nada rendah Gieno yang begitu memabukkan. Bulu kuduk gadis itu meremang mendengar kalimat Gieno. Namun, hal yang paling membuat Mentari malu saat ini adalah kelakuannya yang baru saja dibacakan oleh sang iblis gila. 'Apa benar aku begitu? Memalukan sekali,' ucap Mentari di dalam hati.


Gieno menarik lengan Mentari dan membawa tubuh gadis itu naik ke atas perutnya. Mata Mentari melotot sempurna, merasa terkejut dengan pergerakan tiba-tiba dari Gieno kepada tubuhnya. "Seperti ini, kau duduk di atas perutku persis seperti ini," papar Gieno.


Mentari menunduk menatap wajah tampan Gieno dari atas. Gadis itu tampa sadar saat ini menatap mata tajam Gieno dengan pandangan begitu hangat. Bahkan Gieno yang tadi berniat menggoda gadis itu, sekarang sudah tertegun melihat mata bulat itu memandangnya begitu tulus. 'Ada apa ini?' batin Gieno bingung dengan perasaannya.


'Dia benar-benar tampan, bagaimana aku bisa melupakannya kalau kami terus seperti ini?' keluh Mentari di dalam hati.


Kening Mentari berkerut saat merasakan sesuatu yang akan di bawah tubuhnya. "Kak, kenapa aku merasa ada yang mengganjal?" Mentari menatap wajah Gieno dengan pandangan bingung.

__ADS_1


Sedangkan Gieno hanya diam tidak mampu bersuara saat sang junior kembali meronta. Mentari yang tidak mendapatkan jawaban memilih menuduk dan ingin melihat sendiri apa yang menjadi penghalang duduknya. "Jangan lihat jika kau tidak ingin menyesal," bisik Gieno memperingati.


Kening Mentari semakin berkerut tidak mengerti. Gadis itu menatap wajah Gieno yang nampak memerah seakan sedang menahan sesuatu. "Turunlah," titah Gieno.


__ADS_2