Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
105. Tidak Dapat Menghentikan


__ADS_3

Gieno menarik kerah baju Raka, memaksa laki-laki yang sudah mengenaskan itu untuk berdiri. Tepat saat Raka sudah setengah berdiri Gieno malah mengangkat tubuh laki-laki itu dan membantingnya keras ke lantai. Teriakan kesakitan dari mulut Raka, terendam oleh teriakan dari para penghuni klub.


Iblis gila itu masih merasa tidak puas, padahal saat ini keadaan neraka sudah begitu mengenaskan. Naraya yang melihat kejadian itu tepat di depan matanya merasa ngeri dan tidak mampu melakukan apa-apa. Bahkan untuk sekedar mendekat ke arah Gieno, wanita itu tidak berani.


'Ya ampun, ternyata dia benar-benar mengerikan. Pantas saja Mama, Papa dan Kakek melarangku untuk dekat dengannya. Jika dilihat dalam keadaan seperti ini, memang aku tidak berani untuk mendekatinya. Tapi, selama ini aku tidak melihat jiwa lain seperti ini dari tubuhnya. Memang selama ini dia begitu datar dan dingin memperlakukan aku. Tapi … aku tidak tahu jika ada jiwa yang lebih mengerikan dari itu. Ya, aku baru sadar jika julukannya adalah iblis gila,' batin Naraya merasa ngeri.


Aksi gila Gieno masih terus berlangsung, pengunjung klub masih banyak yang terus memperhatikan pertikaian itu. Sesekali mereka berteriak merasa ngeri melihat keadaan Raka. Namun, penasaran mereka lebih mendominasi daripada rasa takut mereka. Sehingga mereka memilih untuk tetap di sana melihat kejadian sampai akhir.


"Hentikan, aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi," lirih Raka meminta ampun.


Gieno tertawa, bukan tawa yang mengenakkan tetapi tawa yang begitu mengerikan khas milik iblis gila. Gieno tertawa benar-benar seperti orang gila sehingga membuat bulu kuduk seluruh manusia yang berada di sana berdiri. Bahkan karena terlalu merasa ngeri secara spontan seluruh pengunjung klub itu memundurkan langkah mereka. Padahal saat ini jarak mereka dengan kejadian itu sudah sangat jauh.


Bagaimana dengan neraka yang saat ini menjadi sasaran utama dari iblis gila di hadapannya itu. Jantung Raka berdetak berkali lipat melihat Gieno terus melangkah mendekat ke arahnya. Bersusah payah Raka mencoba menghindar dari Gieno.


Namun, itu semua berakhir sia-sia sebab kekuatannya sudah tidak ada lagi. Saat ini Gieno sudah berdiri tepat di hadapannya. Menunduk sambil menatapnya dengan tatapan iblis.

__ADS_1


Grep …. Para pengunjung kembali terpekik saat melihat dengan tiba-tiba Gieno meraih leher Raka. Hanya dengan satu tangan kanannya Gieno mengangkat tubuh Raka dan mencekik leher laki-laki itu. "Inilah akibatnya jika kau bermain denganku tetapi melampaui batas," desis Gieno.


"Krrk … krrk …." Suara tenggorokan Raka berbunyi seakan laki-laki itu ingin mengucapkan sesuatu.


Naraya yang merasa ngeri mulai mencoba mendekat ke arah Gieno berniat membujuk laki-laki itu. Berapa orang yang melihat aksi nekat Naraya berteriak kepada wanita itu. "Apa kau gila? Jangan mendekat! Kau ingin mati!" ucap salah seorang laki-laki.


Namun, sepertinya wanita itu terlalu percaya diri untuk terus mendekat ke arah Gieno. "Hei kau! Jangan mencari mati!" teriak seorang wanita kepada Naraya.


"Cih, apa karena dia tadi bersama iblis gila, jadi dia berpikir bisa memenangkan iblis gila itu?" cibir seorang wanita.


"Biarkan saja, biar dia tahu rasa," ucap seorang laki-laki.


Kembali kepada Naraya, wanita itu masih terus bergerak ke arah Gieno yang masih mencekik leher Raka. Semakin mendekat wanita itu mencoba mengeluarkan tangannya menyentuh pundak iblis gila. "Kak," ucap Naraya pelan.


Naraya terkejut saat melihat mata gelap milik Gieno sedang menatapnya. Wanita itu terdiam kaku merasa kakinya sedang diikat tidak mampu berlari. Sosok di depannya saat ini bukanlah Gieno yang dia kenal.

__ADS_1


"Bi**h," desis Gieno. Mata Naraya melotot saat mendengar kata kasar itu keluar dari mulut Gieno untuk dirinya. Beberapa detik setelah Gieno mengucapkan kata kasar itu. Semua orang terpekik saat tubuh Naraya melayang dan terhempas ke lantai keras itu.


Brak …. "Uhuk …." Semua orang menjauh dari Naraya yang saat ini sudah terbatuk mengeluarkan darah. Beberapa orang yang melihatnya ada yang menatap sinis ke arah Naraya seakan mengejek wanita itu.


"Apa kau pikir iblis gila akan luluh kepadamu?" Suara mengejek seorang laki-laki mengalihkan perhatian seluruh pengunjung klub. Semua orang terkejut saat melihat lima anggota inti Zero masuk dengan tampang gagah mereka.


Lima laki-laki itu menoleh ke arah Gino yang masih sibuk dengan tubuh Raka. "Ck, Untung kau sudah menghubungi Mentari. Kalau tidak, aku jamin Raka itu akan mati di tempat ini," cetus Rangga santai.


Lima laki-laki itu masih diam sambil menatap aksi Gieno dengan tatapan santai meraka. Jelas saja hal itu membuat semua penghuni klub merasa bingung. Mereka berpikir jika lima anggota inti Zero datang untuk melerai aksi gila Gieno.


"Uhuk …." Suas batuk Naraya kembali mengambil alih lima inti Zero dan para pengunjung klub.


Petrik tersenyum sinis ke arah Naraya yang masih duduk di atas lantai sambil meringis kesakitan. "Makanya tidak usah sok, jangankan kau … kami saja tidak akan mampu menghentikan dia," cibir Petrik.


"Apa Mentari masih lama? Raka itu bisa benar-benar mati, tidak ada permainan nanti. Jadinya tidak seru," celetuk Ferry.

__ADS_1


"Lima menit lagi," sahut Yezo.


__ADS_2