Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
113. Benar-benar Gila


__ADS_3

Gieno dan Ferry akhirnya sampai ke tempat tujuan. Dua laki-laki itu menoleh ke arah sebuah mobil box yang terparkir di sudut ruangan bawah tanah. Gieno dan Ferry saling tatap sejenak, kemudian mereka saling tersenyum miring. "Kau atau aku?" tanya Ferry.


"Kau saja, aku sisanya," sahut Gieno.


"Okey," balas Ferry nampak senang.


"Senang sekali kalian, seharusnya aku ikut di lorong abjad." Suara Petrik terdengar di benda yang berada di telinga Gieno dan Ferry.


"Tidak usah banyak omong kau, cepat selesaikan mereka." Tidak berapa lama terdengar suara Yezo dari benda yang sama.


"Wah, kalau ini aku suka," ucap Petrik lagi.


Gieno dan Ferry menghiraukan suara tidak penting para temannya itu. Mereka memang sudah mendapatkan misi masing-masing dengan partner masing-masing pula. Jika Gieno dengan Ferry, maka Yezo dengan Petrik. Berbeda dengan Rangga dan Melvin yang stay di sebuah ruangan jaringan utama.


"Wah, aku rasa ini bisa menjadi salah satu hal untuk balas dendammu, No," tutur Ferry.


Kening Gieno berkerut mendengar kalimat Ferry, setelahnya laki-laki itu berjalan mendekat ke arah Ferry. Mata tajam iblis gila itu melihat sebuah data yang memperlihatkan beberapa perusahaan yang sempat melakukan jalur hitam. Sudut bibir Gieno terangkat saat melihat nama perusahaan Barka di dalam daftar hitam itu.

__ADS_1


"Ternyata tidak perlu aku cari, dia sudah ada di depan mata," ucap Gieno.


"Yah, setidaknya mengurangi pekerjaan Melvin," ucap Ferry.


"Tunggu dulu, astaga. Kita malah asik bercerita, kau lihat waktu bom itu?" Ferry terkejut menatap sebuah layar waktu yang nampak berhitung mundur.


Gieno hanya menatap layar itu dengan pandangan santainya. Setelahnya laki-laki itu mengambil seluruh barang yang menjadi tujuan mereka ke sana. "Sudahlah, masih sisa dua menit lagi," balas Gieno santai.


"Bangsat, aku tahu kau memang iblis gila. Tapi tidak usah membawa aku gila juga. ****! Cepatlah, kalau bom ini meledak, lorong ini juga dipastikan akan runtuh, bedebah. Aku tidak ingin mati sia-sia di sini, aku masih belum merasakan nikmatnya bercinta yang seperti kau rasakan itu," celoteh Ferry di sela kegiatannya.


"Woi, kau masih sempat melamun dikedaan seperti ini? Kau memang gila! Ayo cepat, kau tidak lihat itu tinggal satu menit?" teriak Ferry tidak habis pikir.


Gieno tidak menyahut, laki-laki itu mulai berjalan dan mamacu langkah menjauh dari mobil box itu. Dua laki-laki itu berlari sambil menyandang satu tas di belakang tubuh mereka. "Ke kanan, lorong lebih panjang. Kalau meledak, aku yakin lorongnya hanya akan putus," ucap Gieno.


"Apa yang Gieno katakan benar, lorong sebelah kanan panjangnya sekitar dua kilometer. Aku perkirakan getaran dari bom ini mampu meledakkan sejauh dua kilometer. Sedangkan kalian saat ini sudah berjalan hampir satu kilo meter. Pacu langkah, saat lorong putus kalian menjadi lebih cepat untuk keluar." Suara Rangga terdengar dari benda di masing-masing telinga dua laki-laki itu.


Gieno dan Ferry terus berlari sekencang mungkin. Sampai detik-detik peringatan bom mulai terdengar. Bukannya merasa takut, Gieno malah menyeringai kesenangan. Ferry yang sempat melihat itu, benar-benar tidak habis pikir.

__ADS_1


'Benar-benar iblis gila,' batin Ferry.


Tit … Tit … Duar … Duar …


Dua kali ledakan, tepat saat bom meledak, dua laki-laki itu hampir mencapai persimpangan. Sebab itu mereka masih bisa merasakan getaran dan hawa panas dari api yang menyembur dari area ledak. Sesuai perkiraan, lorong mulai runtuh sehingga menimbulkan bunyi yang sangat mengerikan.


Gluduk … Bruk … Gluduk …


Strett …. Bunyi dua sepatu dan lantai lorong yang bergesekan terpaksa, terdengar di indera pendengaran Gieno dan Ferry. Kecepatan lari dua laki-laki itu membuat mereka harus mengerem dan menyeimbangkan tubuh dengan baik saat akan berbelok ke kanan. Gieno dan Ferry masih terus berlari berkejaran dengan lorong yang terus runtuh.


"****! Pengalaman pertamaku ini, benar-benar dikejar maut," celoteh Ferry di sela larinya.


"Ah, andai aku juga bisa ikut di sana," sahut Petrik dari seberang alat komunikasi itu.


"Menantang, tapi aku masih merasa was-was. Yang membuat aku kesal, karena aku sedang bersama iblis gila, bukannya takut, dia malah kesenangan. Bangsat kan?" sindir Ferry.


Terdengar suara gelak tawa terdengar di seberang alat komunikasi itu. Empat laki-laki yang menunggu aksi Gieno dan Ferry hanya mampu menertawakan kekesalan Ferry. Itulah yang akan terjadi jika mereka mendapat partner Gieno. Laki-laki yang tidak pernah takut akan hal apapun.

__ADS_1


__ADS_2