Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
92. Mata


__ADS_3

Bugh … Bugh … Brak …


Pertempuran terus berlangsung semakin panas. Namun, tidak dengan Gieno yang nampak biasa-biasa saja. Laki-laki itu nampak menyerang dengan santai musuhnya. Sedangkan Raka menggeram marah saat melihat ekspresi wajah Gieno. Dia merasa begitu terhina dengan ekspresi biasa milik Gieno. 'Bedebah,' batin Raka merasa marah.


Raka menyeringai licik saat merasa ada kesempatan untuk menjalankan rencananya. Laki-laki itu menatap Gieno yang nampak masih saja santai menghadapinya. 'Aku buat kau menyesal karena mengganggap kami remeh,' ucap Raka kembali membatin.


Dengan gerakan cepat Raka mengambil pisau kecil di balik jaketnya dan mengarahkan benda tajam itu kepada leher Gieno. Sret … Brak …. Raka tersungkur ke atas tanah dengan tangan dipenuhi darah. Niat hati ingin menusuk leher Gieno, tetapi malah berakhir dirinya yang terluka.


Raka menahan suara saat telapak tangannya robek cukup besar. Pisau kecil yang berada di tangannya malah berakhir mengenai telapak tangannya satu lagi karena tendangan dari Gieno. Siapa sangka, dibalik wajah biasa-biasa iblis gila itu, ternyata dia menyimpan keawasan yang sangat bagus. "Shhh, brengsek," desis Raka menahan sakit.


Sedangkan Gieno yang melihat itu sudah menyeringai iblis. Kaki Gieno mendekat ke arah Raka yang mulai menjauh sambil menatap Gieno awas. "Kenapa? Tidak sesuai keinginan?" ejek Gieno.


"Tidak usah sombong kau," geram Raka.

__ADS_1


"Terserahku, karena aku bisa untuk sombong. Tidak sepertimu yang pengecut ini," hina Gieno.


Raka menggeram menatap wajah Gieno dengan tatapan penuh bencinya. Setelahnya laki-laki itu tersenyum miring ke arah Gieno. "Setidaknya kali ini aku bisa melihat darahmu," ujar Raka nampak senang.


Gieno terkekeh mengejek sambil mengusap lehernya yang mengeluarkan sedikit darah. Memang pisau kecil milik Raka tadi, sempat menyapa kulit leher Gieno. Meski hanya sedikit, tapi kali ini Raka cukup senang. Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa melihat bentuk darah Gieno. "Ya, suatu kemajuan bukan?" balas Gieno nampak santai.


"Pertemuan selanjutnya, aku akan mendapatkan yang lebih dari ini. Kau tunggu saja," ucap Raka. Setelah mengucapkan itu, Raka membalikkan tubuhnya bergerak menuju mobil sportnya.


Brum …. Tangan Gieno mengepal erat mendengar perkataan Raka. Rahang laki-laki itu mengeras membayangkan Mentari diambil alih oleh Raka. "Sebelum kau menyentuhnya, kulit tanganmu itu akan segera berpisah dari dagingnya," desis Gieno.


Yezo dan Ferry saling pandang dan tersenyum penuh arti mendengar kalimat Gieno. Setelahnya mereka mengikuti langkah Gieno menuju mobil masing-masing. "Kembali!" teriak Ferry kepada anggota Zero.


...*****...

__ADS_1


Brum … Ckitt … Brak …


Gieno menutup pintu mobilnya secara kasar. Perkataan Raka tadi masih begitu terngiang di telinganya. Bahkan selama perjalan pulang, laki-laki itu nampak kesetanan dalam membawa mobil. "Ketua," sapa para anggota Zero penjaga pintu utama.


Gieno terus berjalan dengan wajah datar yang nampak menahan amarah. Dia sendiri bingung dengan perasaannya yang tidak dapat dikontrol. Dia juga bingung kenapa hatinya begitu tidak terima dengan perkataan Raka yang membawa nama Mentari. Laki-laki itu terus berjalan tanpa menoleh, sehingga tidak menyadari keberadaan Mentari.


Sedangkan Mentari bergerak antusias saat melihat kedatangan Gieno. Gadis itu tanpa aba-aba berdiri dan mendekat ke arah Gieno. "Kak Gieno," panggil Mentari.


Gieno terkejut mendengar suara lembut itu. Laki-laki itu mendongak dan melotot saat melihat Mentari bergerak ke arahnya dengan penampilan yang begitu tidak disukainya. Pluk …. Mentari memeluk tubuh Gieno begitu saja. Sepertinya gadis itu tidak sadar dengan aksi beraninya itu.


Sedangkan Gieno sudah menoleh ke sekitar dan melihat semua anggota Zero yang berada di sana sudah mengalihkan wajah mereka. Namun, tidak dengan para inti Zero termasuk Yezo dan Ferry yang baru saja masuk ke sana. Lima laki-laki itu sengaja nenatap Mentari untuk memancing sifat posesif Gieno. "Mata kalian bangsat!" geram Gieno.


Setelahnya laki-laki itu menarik tubuh Mentari dan menggendong gadis itu ala bridal style. Tanpa aba-aba Gieno membawa tubuh kecil gadis itu menjauh dari sana. Sedangkan Mentari hanya diam tanpa bersuara. Kenyamanan yang diberikan Gieno memang membuat Mentari tidak dapat berkata-kata.

__ADS_1


__ADS_2