Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
128. Oleng


__ADS_3

Hosh … Hosh … Hosh …


Heiki menarik napas dalam saat dirinya sudah berada di atas rooftop gedung tinggi perusahaan Barka. Laki-laki paruh baya itu menoleh dan melihat keberadaan putrinya di sana. Nampak Naraya sedang berdiri di atas pembatas rooftop itu.


Dengan napas yang masih tersengal, Heiki berjalan mendekat ke arah Naraya yang nampak membelakangi dirinya. “Naraya,” panggil Heiki pelan.


Laki-laki paruh baya itu nampak begitu panik dan cemas dengan keberadaan putrinya itu. Bergerak sedikit saja, sudah dipastikan Naraya akan terjatuh dan berpindah alam. Gedung perusahaan Barka itu ada sepuluh lantai. Jadi jika Naraya benar-benar menjatuhkan tubuhnya dari sana, bisa dipastikan wanita itu tidak akan selamat.


“Naraya, apa yang kamu lakukan? Jangan seperti ini, ayo turun. Ini bukan tempat untuk bermain-main,” ucap Heiki.


“Aku tidak bermain-main,” sahut Naraya pelan.


“Apapun itu, jangan berbuat gila seperti ini. Cepat turun, apa yang kamu pikirkan, hah?” tutur Heiki.


“Aku? Bukannya Papa, Mama dan Kakek sudah tidak memperdulikan aku lagi? Aku sudah mencoreng nama baik keluarga Barka kan?” papar Naraya.

__ADS_1


“Tapi tidak begini juga, Naraya. Lagi pula itu semua terlanjur terjadi. Yang paling penting insiden itu juga tidak tersebar. Jangan berpikiran bodoh,” sahut Heiki.


“Yah, insiden itu memang belum tersebar karena mereka belum menyebarkannya,” jawab Naraya.


“Mereka?” tanya Heiki.


“Kak Gieno dan teman-temannya,” sahut Naraya.


Deg …


“Aku juga sudah tahu jika perusahaan kita sebentar lagi akan menyatakan kebangkrutan. Semuanya sudah hancur, untuk apa aku hidup. Kemungkinan besar aku akan hamil jika aku terus hidup. Aku tidak siap, aku tidak ingin hidup di dalam kemiskinan apalagi dalam keadaan hamil. Lebih baik aku mati saja.”


“Jangan gila, Naraya!” bentak Heiki.


“Aku memang gila, aku sudah tidak ingin hidup seperti ini. Masa depanku sudah hancur, aku sudah melihat jalan gelap di depan sana. Dan aku tidak sanggup untuk melewatinya,” jawab Naraya.

__ADS_1


‘Aku juga berharap, Kak Gieno akak datang dan mencegahku untuk bunuh diri. Aku sangat berharap,’ sambung Naraya di dalam hati.


“Ini bukan akhir dari segalanya, Naraya. Turunlah dan kita bicara dengan kepala lapang. Keadaanmu saat ini masih begitu tertekan, kita tidak bisa mengambil keputusan di saat seperti ini. Ayo turun, apa kamu tidak ingat Mama? Dia pasti saat ini sangat khawatir dengan keadaanmu,” papar Heiki masih mencoba membujuk Naraya.


“Sayang.” Suara serak seorang wanita paruh baya mengalihkan perhatian Heiki. Laki-laki itu menoleh dan melihat kedatangan Nairy dengan Abraham yang nampak kesulitan mengatur napas.


Nairy berjalan mendekat ke arah Naraya dengan wajah basahnya. Wanita paruh baya itu saat ini sangat telihat pucat. Nairy sangat mengkhawatirkan keadaan Naraya. Wanita paruh baya itu begitu cemas, panik san takut dengan pikiran nekat putrinya.


“Ayo ke sini, Sayang. Berbicaralah dengan Mama,” bujuk Nairy lembut.


“Aku minta maaf atas segala kesalahanku selama ini kepada Mama. Aku benar-benar minta maaf karena tidak patuh kepada perkataan kalian selama ini. Memang semua ini salahku, aku terlalu buta karena mencintai Kak Gieno. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan perasaanku yang memilih dia,” papar Naraya panjang lebar.


“Tidak, Sayang. Tidak ada yang menyalahkan kamu atas semua itu. Memang seperti yang kamu katakan, kita tidak bisa menyalahkan perasaan yang memilih seseorang. Sekarang kamu turunlah, Sayang. Jangan membuat Mama seperti ini, Mama sangat cemas dan khawatir, Sayang. Turunlah,” balas Nairy begitu lembut.


‘Sudah hampir satu jam aku di sini, tetapi Kak Gieno masih tidak muncul. Padahal aku tahu kalau orang itu pasti sudah memberi tahu keberadaanku. Atau mungkin memang Kak Gieno yang tidak berniat menghalangi niatku ini? Terus sekarang apa yang harus aku lakukan?’ batin Naraya.

__ADS_1


__ADS_2