Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
79. Gendong


__ADS_3

Gieno tersenyum miring saat melihat video yang baru saja dikirimkan Melvin kepadanya. 'Bagus, mereka sudah mulai panik dengan semua permainanku. Tinggal menunggu waktu yang tepat, aku akan membuat keluarga Barka hancur tidak bersisa,' batin Gieno licik.


Tring … tring … tring …


Tanpa menunggu lama Gieno langsung menerima panggilan telepon dari Rangga. "Bagaimana?" tanya Gieno.


"Semuanya aman, sebentar lagi kami akan mengirimkan kepalanya," balas Rangga.


Gieno menyeringai iblis mendengar perkataan Rangga. "Baguslah … aku juga sedang menunggu kedatangan pasukan bodoh itu. Kalian sudah bersiap bukan?" papar Gieno.


"Tentu saja, Yezo juga sudah menyiapkan semuanya. Kau bisa membawa Mentari nanti melalui pintu samping. Di sana ada dua anggota Zero Beta akan menunggumu," jelas Rangga.


Mendengar nama Mentari disebut oleh Rangga, membuat Gieno menoleh dan menunduk menatap Mentari. Gadis itu saat ini sudah tertidur lelap sambil memeluk paha Gieno. "Baiklah, kalian urus saja urusan di luar dan urusan Barka. Setelah ini, aku yang akan menemui pria tua itu dan dan Paman tercintaku itu," balas Gieno.


"Tapi aku rasa kau tidak akan bisa menemui mereka sekarang. Mungkin kau bisa menundanya besok malam. Aku juga bisa menunda pengiriman kepala itu besok malam," ucap Rangga.

__ADS_1


Kening Gieno berkerut mendengar perkataan Rangga. "Kenapa begitu?" tanya Gieno.


Dor … dor … dor …


Belum sempat Rangga menyahut kalimat Gieno. Suara tembakan sudah menggema di bagian luar mansion Gieno. Mendengar itu bukannya merasa takut, Gieno malah tersenyum miring begitu kesenangan. "Mereka sudah datang bersiaplah," tutur Gieno.


"Siap!" sahut Rangga cepat.


Setelah sambungan telepon itu terputus, Gieno meraih sebuah benda. Setelahnya laki-laki itu memasangkan benda itu di kepala Mentari. Benda yang mampu untuk menutup kedua telinga Mentari. Supaya gadis itu tidak terbangun oleh kebisingan suara tembakan. "Let's we start the game," desis Gieno senang.


Gieno diam sejenak, laki-laki itu saat ini sedang menggendong Mentari layaknya koala. Setelah merasa tidur Mentari tidak terusik, Gieno mulai melangkahkan kakinya. "No, kau menuju ke bagian mana?" Suara Yezo menggema di telinga Gieno.


"Arah barat," sahut Gieno.


"Aku sarankan kau ke arah timur saja, di barat ada pasukan tembak. Bukannya aku khawatir kepadamu. Kau saat ini sedang membawa tubuh Mentari. Jelas dengan mudah bagi mereka bisa membidik gadismu," terang Yezo.

__ADS_1


Mendengar itu, Gieno akhirnya memilih membelokkan tujuannya dari barat ke timur. Laki-laki itu nampak berjalan santai seakan tidak terjadi apa-apa. "Di mana mereka?" tanya Gieno.


"Aku sudah menyuruh mereka ke pintu samping bagian timur," balas Rangga.


Buk …. "Akh." Gieno dengan sigap menendang kaki seseorang, saat laki-laki itu berniat menendak tubuh Mentari. Gieno memutar tubuhnya dan kembali menendang tubuh laki-laki itu. Namun, kali ini tendangan Gieno mendarat sempurn di ulu hati laki-laki itu. Sehingga dengan sekali tendangan, laki-laki itu ambruk ke atas lantai.


Iblis gila itu terus berjalan tanpa beban. Pegangan tangannya pada tubuh Mentari semakin erat. Begitu pula dengan kedua tangan Mentari yang semakin erat memeluk lehernya. Plak …. Gieno menepis tangan seseorang yang berniat menarik lengan Mentari. "Berani sekali kau berniat menyentuh milikku," desis Gieno tajam.


Dua laki-laki yang berada di sana sudah saling pandangan dengan wajah pucat. Mereka tampak ragu, ingin menyerang Gieno atau malah kabur dari sana. Aura yang dikeluarkan oleh laki-laki itu saja sudah mampu menekan keberanian mereka. "Serang!" teriak dua laki-laki itu bersamaan.


Buk … plak … bruk …


Gieno melawan dua laki-laki itu dengan satu tangan. Satu tangan lagi digunakan untuk menahan tubuh Mentari. Satu laki-laki berniat kembali menarik tangan Mentari. Namun, mata Gieno menajam sehingga membuat konsentrasi laki-laki itu terpecah. Krak …. "Akhh."


Laki-laki itu berteriak kesakitan kala tulang tangannya menjulur keluar dari kulitnya. Satu laki-laki lagi yang melihat itu semua, jelas saja merasa ketakutan. Jauh di dalam lubuk hati laki-laki itu, dia ingin segera berlari menjauh dari iblis gila itu. Namun, entah kenapa kakinya malah terasa begitu berat. Sehingga laki-laki itu hanya terdiam kaku dengan wajah takut.

__ADS_1


__ADS_2