
Semua mata menatap ke arah Mentari dengan pandangan bingung. Melihat penampilan Mentari tentu saja mereka merasa tidak habis pikir. Hanya dengan sekali lihat mereka juga tahu jika Mentari adalah gadis polos.
Namun, melihat lima anggota Zero yang berada di belakang gadis itu. Membuat mereka semua tahu jika gadis yang sedari tadi ditunggu oleh lima inti Zero itu adalah Mentari. Naraya pun saat ini ikut menoleh dan menatap ke arah mentari dengan tatapan tidak suka.
Naraya masih duduk di atas lantai dengan tangan menyentuh dadanya yang masih terasa begitu sakit. Bahkan jejak darah di bibir wanita itu masih jelas terlihat. Tubuh Naraya terhempas cukup kuat ke atas lantai keras itu.
Kembali kepada Mentari, gadis itu berjalan ke aku saat menyadari jika di sana sangat ramai. Namun mata bulat gadis itu melotot saat melihat keberadaan Gieno yang sedang mencekik seorang laki-laki. 'Astaga, itu …,' batin Mentari terkejut.
"Mentari." Suara berat seseorang mengalihkan perhatian mentari yang nampak terdiam menatap ke arah Gieno.
Gadis itu dapat melihat keberadaan lima inti Zero sedang menatap ke arahnya. Secara perlahan kaki gadis itu mulai melangkah mendekat ke arah lima laki-laki itu. "Kak, itu …."
"Iya, kamu bisa lihat sendiri bagaimana kekacauan yang diperbuat oleh iblis gila itu," sahut Yezo.
"Terus aku harus apa?" tanya Mentari bingung.
"Kamu ke sana dan cukup memanggil namanya aku yakin dia segera sadar dan berhenti dari aksi gilanya itu," ujar Rangga.
__ADS_1
"Tapi …."
"Kamu percaya saja kepada kami, dia tidak akan menyakitimu," sela Yezo.
Mendengar kalimat Yezo, Mentari akhirnya memberanikan diri untuk berjalan mendekat ke arah pusat keributan. Setiap langkah dan pergerakan gadis itu saat ini menjadi objek perhatian seluruh pasang mata yang berada di dalam ruangan itu. Termasuk Naraya yang saat ini sedang menatap sinis ke arah Mentari.
'Cih, aku yakin kau juga akan segera dihempaskan. Aku berharap kau bahkan mendapatkan hal yang lebih parah dari yang aku rasakan,' batin Naraya licik.
Kembali kepada Mentari yang saat ini semakin mendekat ke arah Gieno. Tepat saat gadis itu berada di belakang punggung kokoh iblis gila itu. Mentari meringis ngeri melihat keadaan laki-laki yang sedang dicekik oleh Gieno.
Dengan gerakan sedikit ragu, Mentari mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh pundak kokoh Gieno. Setiap pergerakan itu seakan membuat ketegangan kepada para penghuni klub malam itu. Kejadian yang dialami oleh Naraya tadi cukup membuat mereka ketakutan dan merasa ngeri sendiri. Mereka takut jika Mentari juga mendapatkan hal yang serupa.
Deg … Glek …
Mentari terkejut melihat mata tajam milik Gieno apalagi bola mata hitam milik laki-laki itu. Saking terkejut dan takutnya gadis itu bahkan sampai menelan salivanya kasar. 'I-ini bukan Kak Gieno,' batin Mentari ketakutan.
Berbeda reaksi yang diberikan Gieno. Jika tadi laki-laki itu nampak semakin marah saat Naraya menyentuh tubuhnya. Berbeda dengan sekarang, laki-laki itu nampak mulai melunak. Bahkan aura gelap di bola mata laki-laki itu, secara perlahan mulai menghilang.
__ADS_1
Ketegangan yang diciptakan oleh kejadian itu secara perlahan juga mulai memudar. Digantikan dengan rasa terkejut dan tidak percaya dari seluruh pengunjung klub malam itu. Begitu pula dengan Naraya yang saat ini sudah menghangat tidak percaya sambil menatap ke arah Mentari dan Gieno.
'Tidak mungkin, kenapa Kak Geino tidak membantingnya sampai mati?' batin Naraya marah.
"Ka-Kak," ucap Mentari pelan dan begitu gugup.
Bruk …. Tubuh Raka terhempas ke atas lantai saat tangan kekar Gieno melepaskan cekikannya. Mata Gieno sudah dari tadi tidak berpindah arah dari mata bulat kegemarannya itu. Iblis gila di dalam jiwa Gieno perlahan memudar dan digantikan dengan jiwa hangat Gieno.
Terbukti dengan tatapan mata Gieno yang saat ini sudah begitu lembut menatap Mentari. "Kamu kepada di sini?" tanya Gieno pelan.
"Karena Kakak," sahut Mentari jujur.
Laki-laki itu menunduk menatap penampilan mentari dari atas sampai bawah. "Kamu keluar dengan baju tipis seperti ini? Kamu bisa masuk angin dan sakit," tutur Gieno.
Mentari ikut menunduk memperhatikan penampilan dirinya. Setelahnya gadis itu menoleh ke arah Gieno sambil tersenyum lebar. Sedangkan Gieno yang melihat senyum lebar gadis itu hanya mampu mengulum bibirnya menahan senyum.
"Ini karena aku buru-buru ingin ke sini." Mentari menyahut sambil menggaruk puncak kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Mentari, Gieno menganggukkan kepalanya pelan. Setelahnya laki-laki itu membuka jaket kulitnya. Menyampirkan jaket kulit itu ke tubuh Mentari. "Angin malam tidak sehat untuk tubuhmu, ayo kita pulang."