Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
9. Misi


__ADS_3

Gieno berjalan santai ke arah kamarnya, tetapi langkah kaki laki-laki itu terhenti di depan sebuah pintu yang dulunya kosong sekarang sudah ada yang mengisi. Cklek …. Gieno membuka pintu kamar itu begitu saja tanpa mengetuk terlebih dahulu. Mentari yang sempat terkejut melotot saat melihat Gieno masuk ke dalam kamarnya. 'Bagaimana ini?' batin Mentari takut.


Gieno berdiri tepat dihadapan Mentari yang masih menunduk. "Lihat aku," ujar Gieno dingin.


Perlahan Mentari mengangkat kepalanya, mata bulat gadis itu sukses mencuri perhatian laki-laki datar nan tampan itu. "Kau tidak bersih-bersih?" tanya Gieno.


Mentari menggelengkan kepalanya pelan. "Apa kau bisu? Jawab pertanyaanku, keluarkan suaramu," ucap Gieno.


"Tidak Tuan, aku … tidak memiliki baju," sahut Mentari pelan.


"Kau tidak mengecek isi walk in closet?" tanya Gieno.


Mentari mengernyit, kemudian gadis itu kembali menggelengkan kepalanya. "Aku tidak suka jika aku berbicara hanya mendapat gerakan. Kau tidak bisu," desis Gieno.


"Tidak Tuan," sahut Mentari cepat.


"Pergi mandi, di dalam ruangan itu kau bisa ambil pakaian dan keperluan lain." Gieno menunjuk sebuah pintu yang berada di dalam ruangan itu dengan mata tajamnya.


"Baik Tuan," sahut Mentari.

__ADS_1


"Jangan panggil aku Tuan," ucap Gieno.


Mentari mendongak dan mengernyit. "Lalu …saya harus panggil apa?" tanya Mentari.


"Gieno," sahut Gieno singkat.


"Ta-tapi … Anda lebih tua dariku," balas Mentari ragu.


"Tidak masalah bagiku," sahut Gieno santai. Setelahnya laki-laki datar itu pergi begitu saja dari sana.


...*****...


"Sudah dipersiapkan?" tanya Gieno.


"Kondisi lalu lintas dan CCTV?" Gieno menoleh ke arah Melvin.


"Aman," sahut Melvin singkat.


"Setelah kau bergerak ke kiri, mereka akan menyerangmu melalui sisi depan. Di saat itu, kau bisa mengumpan mereka ke arah selatan. Di sana dua puluh pasukan Nfour Zero sudah bersiap dengan komando dari Fery. Tepat saat kegaduhan terjadi, kau bisa pergi ke kandang inti," terang Rangga.

__ADS_1


Gieno tersenyum miring. "Bagus," ujar Gieno.


"Petrik sudah memeriksa senjata yang akan kau gunakan, dia juga akan membantumu dari jarak jauh. Aku yakin mereka pasti menyiapkan rencana cadangan. Petrik akan memantau dari jauh," sambung Rangga.


"Aku sudah meletakkan semua perlengkapan di dalam mobilmu. Mobil yang akan kau gunakan untuk ke kandang inti ada di belakang tembok pertempuran nanti," papar Yezo.


"Jika kau sudah berhasil mengambil barang yang kita butuhkan, aku akan menghancurkan mobil kedua sesuai dari komandomu. Setelahnya Rangga akan datang menjemputmu di jalan utama yang tidak jauh dari sana. Untuk mencapai itu aku tahu kau lebih pintar," sambung Yezo.


"Baguslah, semua tertata rapi," ujar Gieno. Setelahnya enam laki-laki inti Zero itu bergerak ke tempat masing-masing. Malam ini mereka akan melakukan sebuah misi yang cukup penting. Mereka berada di dalam peran masing-masing dan mengambil posisi yang tepat.


.


.


.


"Pasang alat komunikasi kalian baik-baik. Cek …," papar Gieno.


"Cek," sahut Yezo.

__ADS_1


"Cek," sambung Rangga dan seterusnya. Setelah dipastikan semua aman, enam laki-laki itu berpisah menuju posisi masing-masing.


Gieno sendiri mulai memasuki mobilnya santai. Selama ini setiap misi yang dilakukan oleh Zero tidak pernah gagal. Mereka bermain santai dan begitu bersih tanpa meninggalkan jejak. Namun, orang-orang jelas sudah bisa menebak jika ada kekacauan atau ada hal besar, kemungkinan itu ada sangkut pautnya dengan Zero.


__ADS_2