Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
45. Penyakit Kulit


__ADS_3

Gieno keluar dari mobilnya dan berjalan santai ke arah gerbang utama kediaman Tanuta Wijaya. Pemandangan pertama, ada banyak sekali keamanan yang yang berjaga di gerbang depan itu. "Apakah dia juga membentuk sebuah perkumpulan? Hampir disetiap sudut ada penjaga," ucap Gieno.


"Pekerjaannya yang seperti itu jelas membuatnya banyak diincar lawan. Dia sendiri menyadari itu, kau sudah bersiap?" tutur Rangga.


"Ya," balas Gieno. Gieno berjalan dengan setelan seorang pengantar pizza. Tato di lehernya jelas saja dia tutupi, jika tidak permainan mereka tidak akan lebih seru, itulah ucapan Gieno.


"Permisi, saya ingin mengantarkan pizza pesanan Tuan Tanuta," ucap Gieno berakting.


Lima orang penjaga gerbang itu saling tatap, setelahnya salah satu dari mereka mendekat dan menatap tajam Gieno yang sedang memakai masker. "Buka maskermu," titah laki-laki itu.


"Saya memiliki penyakit kulit," balas Gieno.


"Kalau kau tidak ingin membuka maskermu, silakan pergi dari sini."


"Baiklah, tapi … mungkin cukup dengan Anda saja. Biarkan empat teman Anda berbalik badan, takutnya nanti kalian tidak berselera saat makan."


Mendengar perkataan Gieno, lima laki-laki itu kembali saling pandang. "Apa kalian mencurigaiku? Bukankah cukup dengan satu orang saja, aku bisa kalian lumpuhkan? Badan kalian lebih besar dariku," sambung Gieno.

__ADS_1


Jika dilihat dari ukuran tubuh, memang benar lima laki-laki itu lebih besar dan kekar jika dibandingkan dengan Gieno. Akan tetapi, tubuh besar juga tidak menjamin keahlian di dalam bela diri bukan? Begitu pula dengan kekuatan. Tubuh Gieno tidak kalah kekar dan berisi, tidak terlalu besar tetapi juga tidak kecil. Sangat pas dengan proporsi tubuh dan tinggi badannya.


"Baiklah, kalian berbalik badan saja," kata laki-laki yang berada di dekat Gieno. "Sekarang buka maskermu," sambung laki-laki itu.


Secara perlahan Gieno membuka maskernya dan tersenyum miring ke arah laki-laki itu. Sedangkan laki-laki penjaga itu melotot saat mengetahui jika Gieno berbohong. Krak …. Belum sempat laki-laki penjaga itu bersuara, Gieno sudah lebih dulu mematahkan lehernya.


Setelahnya Gieno berjalan mendekat ke arah empat laki-laki yang masih membalikkan badannya. Gieno terkekeh sinis sebelum laki-laki memukul tengkuk mereka satu persatu. Hanya dalam satu kali hempasan, mereka semua hilang kesadaran.


Gieno kembali memasang maskernya dan berjalan santai ke dalam halaman luas mansion Tanuta. "Mansion yang bagus, hasil dari korupsi memang menggiurkan," gumam Gieno sinis.


"Saya ingin mengantarkan pizza pesanan Tuan Tanuta." Gieno mengangkat kotak pizza itu.


Laki-laki itu memicing menatap tajam ke arah Gieno. "Kenapa kau memakai masker?" tanya laki-laki itu lagi.


"Aku punya penyakit kulit," balas Gieno.


"Kalau begitu kenapa kau bisa menjadi pengantar pizza?" tutur laki-laki itu lagi.

__ADS_1


"Karena itu aku memakai masker," balas Gieno santai.


Kening laki-laki penjaga itu semakin mengernyit saat tidak menangkap raut takut dari gelagat Gieno. Biasanya siapa saja orang yang datang ke sana, pasti akan merasa takut dan terimtimidasi. "Apa kau tidak percaya? Saya sudah melewati gerbang utama," kata Gieno.


"Masuklah, dan segera pergi." Laki-laki itu akhirnya membukakan pintu untuk Gieno.


"Mantap, penyakit kulit jenis apa yang terlihat begitu glowing?" kelakar Yezo. "Kau ingin berceramah berapa lama sebelum aku turunkan ultimatum?" sambung Yezo.


"Bangsat!" umpat Gieno kesal. Laki-laki dingin itu mendengar jelas lima tawa yang berbeda dari alat yang tepasang di belakang telinganya.


"Aku beri kau waktu berucap selama sepuluh menit, apa lagi untuk memberikan waktu koruptor itu mengucapkan kalimat terkahirnya," papar Yezo lagi.


"Kau pantau saja, bangsat!" umpat Gieno lagi. Suara tawa kembali terdengar dari alat yang melekat di belakang telinga Gieno.


"Tawa kalian bisa mengganggu Mentari," geram Gieno.


"Tenang saja, kami berada di luar," ucap Yezo. Lebih kurang ajar sekali bukan? Hanya inti Zero yang berani berisik di lorong rumah sakit. Sebab tidak akan ada satu orang pun yang berani menegur mereka.

__ADS_1


__ADS_2