Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
11. Kelanjutan


__ADS_3

Gieno memang begitu jeli dan lihai dalam menghindari serangan lawan. Sedari tadi lawan mencoba menyerang dengan menembaki laki-laki iblis itu. Namun, tidak satu pun yang berhasil mengenai kulit putih Gieno. Tepat di depan sana, sekumpulan laki-laki menggunakan setelan khas Zero menunggu kedatangannya.


"Lanjut Gi," tutur Fery.


Tepat saat pertempuran dimulai, Gieno menjauh dan memanjat tembok tinggi didepannya itu. Bruk …. Gieno mendarat dengan sempurna, laki-laki itu dengan gerakan santai berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di sana. "Petrik," panggil Gieno.


"Stay," sahut Petrik.


"Simpang tiga lurus," ucap Melvin.


Sesuai aba-aba, Gieno terus melajukan mobilnya. "Jalan tanah sebelah kanan," aba-aba Melvin lagi.


Ckiit … brass …

__ADS_1


Bunyi ban mobil yang dipaksa berbelok memekakkan telinga di malam sunyi itu. "Gedung kedua," ucap Yezo.


Gieno melihat sebuah gedung tua di sebelah kiri. Laki-laki itu terus memacu mobilnya sampai akhirnya melihat satu gedung tua lagi. Dengan gerakan lihai sang pemimpin Zero itu keluar dari mobil dengan membawa satu pistol di tangannya.


Prok … prok … prok …


Gieno menatap datar seorang laki-laki yang sedang bertepuk tangan di antara lima laki-laki di belakangnya yang sedang menodongkan pistol kepadanya. "Ternyata kau benar-benar lihai Tuan De Larga, perhitunganku kau sampai ke sini dalam waktu dua jam. Tapi … ternyata cukup dengan waktu empat puluh tujuh menit saja," puji laki-laki itu.


Gieno masih menatap datar laki-laki itu tanpa berekspresi. "Tuan Liam, berikan secara baik-baik atau … kasar?" tutur Gieno dingin.


Namun, siapa sangka jauh di dalam hati Tuan Liam. Laki-laki itu sedang menyembunyikan ketakutannya. Pujiannya untuk Gieno tadi tidaklah main-main, dia sangat terkejut. Kemampuan Gieno yang selalu melintas di telingannya membuat rasa percaya dirinya mulai memudar. Gieno membuktikan secara langsung dihadapan matanya. Belum lagi tatapan maut Gieno mampu membuatnya merinding.


"Sepertinya kau yang memiliki banyak nyawa, sehingga berani menantang iblis," tutur Gieno dingin.

__ADS_1


Tuan Liam tersenyum kaku. "Sepertinya begitu," sahut Tuan Liam singkat.


"Kalau begitu, mari kita lihat ada berapa nyawa di dalam tubuhmu," bisik Gieno rendah.


Bisikan itu mampu membuat Tuan Liam merinding, begitu pula dengan lima laki-laki yang sudah mulai gemetar memegang pistolnya. "Kau terlalu percaya diri Tuan De Larga, tembak!" teriak Tuan Liam.


Belum sempat lima laki-laki di belakang Tuan Liam menarik pelatuk pistol. Gieno berguling cepat dan menarik kaki Tuan Liam. Bruk …. Bunyi hempasan tubuh Tuan Liam itu mampu menarik perhatian lima laki-laki yang sedang memegang pistol.


Pats … dor … dor


Tangan kanan Gieno melemparkan tiga pisau kecil ke arah orang yang berbeda. Sedangkan tangan kirinya menembak dua orang secara berentetan. Bruk …. Lima tubuh manusia ambruk ke lantai dengan bersimbah darah.


Tuan Liam melotot melihat kejadian itu secara jelas. Gieno berdiri tegak dan menoleh ke arah Tuan Liam yang sudah beringsut dengan wajah pucatnya. Gieno sibuk melihat pistol di tangannya membuat Tuan Liam merasa seakan memiliki kesempatan untuk kabur.

__ADS_1


Pats …. Baru dua langkah kaki Tuan Liam bergerak. Sebuah pisau kecil sudah mendarat di betis kanannya. Tuan Liam menjerit kesakitan, sedangkan Gieno berjalan mendekat ke arah Tuan Liam yang mulai gemetaran.


__ADS_2