
Naraya terus melihat sekeliling gedung dengan pandangan berharap. "Naraya, selamat ulang tahun, ya. Pesta kamu ternyata lebih menggemparkan dari pada pesta Sindi kemarin," ucap salah satu wanita kepada Naraya.
Naraya yang mendengarkan itu hanya tersenyum manis. "Kamu bisa saja, aku tidak menyangka ternyata Kakek dan Papaku membuatkan aku pesta semewah ini. Padahal aku tidak masalah jika tidak dirayakan," papar Naraya berbohong.
"Wah, kamu benar-benar dimanja, ya," balas wanita itu.
"Iya, Naraya kan keturunan tunggal Barka. Jelas akan dimanja," tambah seorang wanita lagi.
Naraya tersenyum senang mendengar kalimat-kalimat pujian itu. "Mana kamu cantik sekali malam ini, benar-benar seperti seorang putri," cetus seorang wanita lain.
"Iya, aku saja sebagai perempuan merasa sangat iri."
Naraya yang mendengar itu semakin merasa angkuh. 'Aku memang cantik,' batin Naraya sombong.
__ADS_1
Tepat saat Naraya sedang menggulir bola matanya. Wanita itu melotot saat melihat keberadaan Gieno yang saat ini sudah menjadi pusat perhatian. Naraya dengan cepat merapikan penampilannya. "Tamu spesialku sudah sampai," celetuk Naraya.
"Hah? Tamu spesial?" Lima perempuan yang tadi sedang bercerita dengan Naraya itu membalikkan badan. Mata mereka melotot saat melihat sosok yang begitu mencolok dari ratusan orang yang berada di ruangan itu.
"Astaga, kamu mengundang Tuan De Larga? Naraya, kamu benar-benar hebat," ucap seorang wanita merasa begitu terkejut.
"Benar, lihatlah. Ya ampun, aku merasa beruntung sekali bisa hadir ke sini tadi. Jadi bisa melihat wajahnya secara langung."
"Aku tidak menyangka, ternyata dia benar-benar tampan. Seperti malaikat, meski julukannya iblis gila."
"Aku tahu, kamu memang sangat cantik. Bahkan mampu menarik Tuan De Larga," bisik salah satu dari mereka.
Melihat Gieno semakin mendekat, lima wanita itu menghentikan percakapan mereka. Secara perlahan mereka memundurkan langkah saat melihat Gieno mendekat dengan wajah datarnya. "Akhirnya Kakak datang juga, aku sudah menunggu sedari tadi," tutur Naraya dengan suara dilembutkan.
__ADS_1
Lima wanita yang mendengar itu merasa begitu terkejut saat mengetahui Naraya memanggil Gieno dengan sapaan yang begitu santai dan Terlihat sangat dekat. "Sepertinya benar yang Naraya katakan, bahkan Naraya memanggil Tuan De Larga dengan sapaan kakak," bisik salah satu wanita.
"Selamat ulang tahun." Gieno tidak menyahut kalimat Naraya, melainkan langsung mengucapkan selamat kepada wanita itu.
Saat ini keberadaan Gieno sudah menjadi pusat perhatian para tamu. Mereka tidak menyangka jika Tuan De Larga yang mereka kenal nampak cukup dekat dengan keturuan Barka. Begitu pula dengan tiga manusia yang saat ini sedang menatap ke arah Naraya dan Gieno dengan pandangan waspada.
"Tuan Barka, saya tidak menyangka jika cucu Anda dekat dengan Tuan De Larga. Ini suatu hal yang sangat bagus," ucap salah seorang laki-laki.
"Ah, iya. Kalau begitu kami permisi dulu, kami ingin menyambut kedatangan Tuan De Larga," pamit Abraham.
"Iya, Tuan. Silakan," sahut laki-laki itu.
Kembali kepada Naraya dan Gieno, Naraya sudah tersenyum manis ke arah sang penguasa Zero itu. "Iya, Kak. Terima kasih, ya," ucap Naraya.
__ADS_1
"Hadiahnya masih dijalan, asistenku yang membawanya. Aku ke sini sekalian pulang dari kantor," ujar Gieno dengan nada datarnya.
Hari Naraya serasa berbunga mendengar kalimat Gieno. 'Ah, senangnya aku. Kira-kira dia memberi aku hadiah apa, ya? Apa jangan-jangan dia akan memberi aku kejutan?' batin Naraya berharap.