Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
51. Takut dan Aman


__ADS_3

"Tapi kau belum boleh memakan sambal, sudah makan bubur saja," ucap Gieno.


"Aku tidak selera dengan bubur," cicit Mentari.


"Kau ingin perutmu itu meledak?" tanya Gieno.


Mendengar kalimat Gieno membuat Mentari memajukan bibirnya. Jujur saja perutnya sudah terasa begitu lapar, tetapi melihat makanan rumah sakit membuat nafus makannya hilang. "Yang lain, selain yang pedas," papar Gieno lagi.


Bibir Mentari bergerak, senyum manis itu kembali hadir di wajah gadis polos itu. "Aku ingin oseng telur puyuh," celetuk Mentari.


Kening Gieno kembali berkerut. "Apa lagi itu?" tanya Gieno tidak tahu.


"Itu, telur puyuh yang dioseng. Hanya menggunakan bawang, tanpa cabe," jelas Mentari.


"Aku pesan dulu, tapi … apa telur tidak membuat lukamu menjadi basah lagi?" Mendengar itu mata berbinar Mentari tadi kembali meredup. Bahu gadis itu merosot sambil menghela napas kecewa.


"Apa tidak ada yang lain? Atau makan saja bubur ini." Mentari menggeleng cepat, nafsu makannya sudah begitu sulit untuk dipancing. Jika dipaksa untuk tetap menelan bubur itu, yang ada dia mual.


"Ini yang terakhir, aku harap tidak ada lagi kendala," tutur Mentari polos.


"Kendala? Kau pikir apa?" celetuk Gieno tidak habis pikir.

__ADS_1


"Ya, itu … sudah dua, tapi tidak bisa aku dapatkan," sahut Mentari lesu.


Gieno kembali terkekeh kecil melihat wajah lesu Mentari. "Sudah, apa yang terakhir?" tanya Gieno.


"Ikan bakar kecap," jawab Mentari.


"Kalau ini aku tahu, ingin ikan apa?" kata Gieno.


"Ikan nila saja," sahut Mentari singkat.


"Aku sudah memesannya. Setelah itu datang, kau makan, aku harus pergi." Gieno berdiri dari duduknya, membuat Mentari menunduk sedih. Sudah beberapa hari ini dia selalu saja sendiri di dalam ruangan inapnya.


"Aku selalu sendiri di sini, aku kesepian dan bosan," ungkap Mentari jujur.


Gieno kembali menghela napas mendengar perkataan Mentari. "Di luar ada yang menjagamu, inti Zero juga bergantian menjaga di luar. Mereka tidak bisa masuk karena kau selalu mendapat serangan panik. Jika kau ingin apa-apa, kau bisa berteriak kepada mereka. Kau tidak sendiri, mereka banyak di luar," ujar Gieno.


"Tapi aku tidak ingin mereka," celetuk Mentari.


"Terus?" tanya Gieno bingung.


"Aku hanya ingin Kakak," cicit Mentari.

__ADS_1


Suara Mentari yang begitu pelan membuat kening Gieno kembali mengernyit. Samar-samar laki-laki itu mendengar kalimat Mentari. Beberapa detik terdiam, Gieno tersenyum miring saat bisa menganalisa kalimat Mentari tadi. "Kau ingin aku di sini?" tanya Gieno.


Mentari yang masih menunduk, mengangguk pelan. Sedangkan Gieno yang melihat gerakan kepala Mentari kembali tersenyum miring. Laki-laki itu mendekat, Gieno membungkukkan tubuhnya dan menarik dagu Mentari untuk menatap ke arahnya. Untuk kesekian kalinya, Gieno terpana dengan mata bulat itu. Beberapa detik terdiam menatap mata indah Mentari, Gieno mulai bersuara. "Kau tidak takut berada didekatku?" tanya Gieno datar.


Mentari mengedipkan matanya dua kali, hal itu membuat Gieno semakin merasa gemas. "Takut," sahut Mentari.


Gieno mengernyit mendengar jawaban Mentari. "Terus kenapa kau tetap ingin aku di sini?" tanya Gieno lagi dengan wajah nampak sedikit bingung.


"Aku juga tidak tahu," jawab Mentari jujur, dia memang takut kepada Geino dan dia juga tidak tahu kenapa dia tetap ingin Geino berada di sampingnya.


Gieno terkekeh mendengar jawaban Mentari. 'Gadis aneh,' batin Gieno.


"Aku memang takut, apa lagi mata Kakak itu tajam dan mengerikan." Kalimat jujur Mentari tidak membuat Gieno tersinggung sama sekali. Namun, laki-laki itu malah mengulum bibir mencoba menahan senyum.


"Tapi, aku juga merasa aman jika bersama Kakak," sambung Mentari pelan. Gadis itu kembali menunduk, hal itu sukses membuat Gieno terdiam.


Sekarang laki-laki itu mengerti, jika gadis dihadapannya ini masih merasakan takut dan trauma atas kejadian yang menimpanya beberapa hari yang lalu. Menurut Mentari keberadaan Geino mampu memberikan perasaan aman di dalam hati dan pikirannya.


Gieno menghela napas mendengar kalimat Mentari. "Aku hanya pergi sebentar, setelah urusanku selesai aku akan kembali ke sini. Kau aman, banyak anggota Zero yang berjaga di depan. Aku mengerahkan Zero Alfa untuk menjagamu, kau tahu seluk beluk Zero bukan?" ungkap Gieno.


Mentari mengangguk pelan. Jelas saja dia tahu seluk beluk Zero, sebab itu bukan lagi rahasia bagi semua orang. Setelah iblis gila, ada lima inti Zero yang menempati posisi tinggi di perkumpulan itu. Kemudian diikuti dengan Zero Alfa yang juga memiliki bagian dari Alfa satu, dua, tiga, dan under. Seterusnya ada Beta, Try, Cross, dan anggota bawah lainnya.

__ADS_1


__ADS_2