
Tiga hari yang lalu.
“Tidak, aku tidak bisa menahan ini. Aku tidak bisa ….”
“No! Kau ingin ke mana?” Lima inti Zero berteriak saat melihat Gieno tiba-tiba berlari begitu saja dari sana.
“Ferr, kau kejar di ….”
“Kak Gieno.” Kalimat Yezo terputus saat mendengar suara seseorang dari balik kain putih itu. Semua orang saling tatap dengan wajah terkejut.
“Itu, buka kain itu,” titah Rangga.
Seorang perawat membuka kain penutup tubuh Mentari. Setelahnya mata mereka melotot saat melihat mata Mentari sudah terbuka meski begitu sayu tidak berdaya. “Mentari,” teriak lima laki-laki itu.
“Kak, mana Kak Gieno?” tanya Mentari begitu lemah.
“Di-dia sudah kabur, maksudku dia baru saja pergi saat Dokter menyatakan kamu meninggal,” sahut Yezo masih nampak tidak percaya.
“Aku meninggal?” tanya Mentari nampak bingung.
“Iya, nanti kami jelaskan. Sekarang kamu istirahatlah dulu, kami akan membawa Gieno ke sini. Tolong kembali pasang alat-alat pembantu untuk Mentari. Maksudnya, silakan kalian lanjutkan. Kami akan keluar, ayo.”
“Gila, itu bagaimana bisa setelah dinyatakan meninggal malah hidup lagi?” celetuk Petrik nampak terkejut.
“Sudah, sekarag siapa yang akan menyusul Gieno? Dia bisa saja berbuat yang aneh-aneh nanti,” ucap Yezo.
“Aku dan Petrik, kalian tetap di sini,” balas Rangga.
__ADS_1
“Baiklah.”
...*****...
Tok … Tok … Tok …
“No!” Rangga mengetuk pintu kamar Mentari yang saat ini sedang dihuni oleh Gieno. Sudah beberapa menit mereka di sana, tetapi masih tidak ada sahutan dari Gieno.
“Apa dia bunuh diri?” celetuk Petrik asal.
“Jangan asal bicara bangsat,” balas Rangga kesal.
“Ya, habisnya kita sudah di sini dari lima belas menit yang lalu. Tidak ada salahnya kita suruh cek ke Melvin,” papar Petrik. Mendengar itu, Rangga akhirnya memutar otak.
“Kita cari saja kunci cadangannya. Pasti di kamar Gieno,” ujar Rangga. Beberapa menit mencari kunci cadangan, Rangga dan Petrik berhasil membuka pintu kamar itu. Namun, baru pintu itu dibuka mereka kembali menutup pintu itu karena dengan tiba-tiba Gieno membanting sebuah vas bunga ke arah mereka.
Brak … Prang …
“Jangan ganggu aku!” murka Gieno dari pintu itu.
“Kami hanya ingin mengatkan masalah Mentari. Dia ….”
“Diam, bangsat!” sela Gieno marah.
Mendengar kemarahan Gieno, dua laki-laki itu saling tatap. “Sepertinya biarkan saja dia tidak tahu. Salah dia sendiri tidak ingin mendengar kita,” cetus Petrik.
“Iya, biarkan saja. Supaya dia tahu rasanya kehilangan itu seperti apa. Biar dia tidak lagi menyia-nyiakan Mentari lagi,” balas Rangga.
__ADS_1
...*****...
Gieno menatap tajam lima sahabatnya terkhusus Rangga dan Petrik. Melihat tatapan tajam itu, bukannya merasa takut. Rangga dan Petrik malah tersenyum miring. “Kenapa? Bukan salah kami, memang kau yang tidak mau kami ajak berbicara,” tutur Petrik.
“Iya, bukan salah kami,” tambah Rangga.
“Bagaimana? Enak rasanya kehilangan?” ejek Yezo.
“Kalian sepertinya sudah bosan di sini. Apa ingin ke kota tua?” Gieno berucap sambil menyeringai licik.
“Licik.” Lima laki-laki itu menyahut serentak sambil mendengus kesal.
“Kak … Kak Gieno!” Perdebatan enam inti Zero itu terhenti saat suara teriakan seorang perempuan menggema di dalam mansion mewah itu.
“Aku di sini, Lux,” sahut Gieno.
Tidak lama kemudian, nampak Mentari datang sambil membawa sebuah piring ke arah mereka. “Ayo makan ini, ini bagus untuk menambah tenaga Kakak. Kakak kan sudah tiga hari tidak makan,” ucap Mentari.
Gieno menarik tangan Mentari dan membawa tubuh gadis itu ke atas pangkuannya. “Eh, aku di bawah saja. Kakak pasti lelah,” tutur Mentari.
“Aku kuat, Lux. Aku kan sudah makan tadi.” Gieno membalas kalimat gadis itu sambil menenggelamkan kepalanya di ceruk leher gadis itu.
‘Aku sangat merindukan ini. Aku tidak akan pernah membuat kamu meninggalkan aku lagi, Lux. Meski itu dalam sebuah ketidak sadaran,’ batin Gieno.
“Tapi kan ….”
“Aku bahkan bisa menggendongmu, Sayang. Yang aku perlukan sekarang adalah pelukanmu. Jadi ayo kita ke kamar dan temani aku tidur. Aku sudah tiga hari tidak tidur. Oh … tidak, sudah enam bulan aku tidak bisa tidur nyenyak.”
__ADS_1
Gieno berucap sambil menggendong tubuh Mentari dan membawa gadis itu ke arah lift. Lima laki-laki yang melihat aksi sepasang manusia itu sudah saling tatap tidak percaya. “Jadi … apa kita sudah tidak terlihat kawan?” ucap Petrik.
“Atau kita ini sudah berubah menjadi pajangan tidak penting?” sambung Yezo.