Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
82. Terbangun


__ADS_3

Sret … dor …


Gieno terus mencari cela saat serangan musuh mulai beruntun. "Besok kau belajar menyetir mobil." Gieno berbicara sambil terus memperhatikan keadaan lawan.


Mentari yang mendengar itu hanya bisa diam tidak tahu harus menanggapi perkataan Gieno seperti apa. Gieno nampak mengambil sesuatu dari saku celananya. Mata Mentari melotot saat melihat satu pistol yang berada di dalam genggaman Gieno. "Menyetir mobil adalah satu hal dasar yang harus kau bisa." Gieno menyambung kalimatnya sambil membidik salah satu lawannya.


Dor … duar …


Gieno menyeringai sambil menatap pistol di tangannya. "Mantap, percobaan perdana yang memuaskan," desis Gieno.


Gieno menatap spion mobil guna melihat keadaan mobil lawan yang saat ini sudah meledak. Meledak hanya dengan satu peluru dari pistol mematikan di tangan iblis gila itu. "Kau menggunakannya?" suara Rangga terdengar di telinga Gieno.


Gieno tersenyum miring. "Mereka pas sekali dengan puluncuran produk baru, jadi aku tidak perlu mencari mangsa dulu untuk melakukan percobaan," ucap Gieno.


"Gila sih hasilnya, akan panen lagi kita," papar Rangga senang. Gieno kembali menyeringai mendengar perkataan Rangga.


Brum … Brum … Brak …


Mentari menutup mulutnya saat merasakan mobil yang ditumpanginya kembali ditabrak. Namun, kali ini mobilnya dipepet langsung oleh dua mobil dari arah kiri dan kanan. "Ambil pistol ini," tutur Gieno.


"Hah?" Mentari menatap Gieno dengan pandangan terkejut.


"Cepat, tidak ada waktu," sambung Gieno. Dengan tangan bergetar Mentari mencoba meraih pistol itu. Namun, belum sempat pistol itu berpindah tangan, suara Gieno mengejutkan Mentari.


"Menunduk!" teriak Gieno begitu keras. Dengan rasa terkejutnya, Mentari menundukkan tubuhnya dengan cepat.


Prang …. "Akhh." Mentari merintih saat merasakan kulit kepalanya terasa perih.


Gieno menoleh dan terkejut saat melihat kepala Mentari sedikit tergores pecahan kaca. "Sh**!" umpat Gieno marah.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Rangga di seberang telepon.


"Mereka memang menargetkan Mentari," desis Gieno.


"Seperti dugaanku, dia terluka?" tanya Rangga.


"Tergores pecahan kaca," sahut Gieno. "Buka sabuk pengamanmu," titah Gieno kepada Mentari.


Meski kepalanya terasa begitu perih, Mentari masih mendengar perintah dari Gieno. Gadis itu dengan tangan bergetar membuka sabuk pengamannya. "Ke sini," titah Gieno lagi.


Mentari menatap paha Gieno dengan pandangan ragu. "Apa tidak apa-apa? Nanti Kakak kesulitan," tutur Mentari pelan.


"Tidak, cepatlah," balas Gieno.


Mendengar jawaban itu, Mentari akhirnya bergerak mendekat ke arah Gieno yang masih fokus ke arah jalanan. "Menghadapku," sambung Gieno.


"Ta-tapi aku tidak bisa menggunakannya," cicit Mentari.


"Kau tinggal lihat sasaran dan tekan pelatuknya," tutur Gieno.


"Bagaimana ka …."


"Cepat saja," sela Gieno cepat.


Glek …. Mentari menelan salivanya kasar, mata gadis itu menatap mobil yang saat ini sedang mengikuti mereka. Nampak mobil itu berusaha untuk menyalip, tetapi satu mobil yang berada di samping mobil Gieno menghalanginya. Sepertinya mobil itu adalah mobil dari salah satu anggota Zero Beta. "Siap?" tanya Gieno menyadarkan Mentari.


"Su-sudah," sahut Mentari kaku.


"Santai dan lakukan saja," kata Gieno mencoba menenangkan Mentari.

__ADS_1


"Baiklah," sahut Mentari. Gadis itu menghela napas panjang kemudian menghembuskannya pelan.


"Satu …." Gieno mulai menghitung memberi aba-aba kepada Mentari.


"Dua …."


"Shoot!"


Klik … Dor … Duar …


Mentari membuka matanya kala mendengar suara ledakan begitu besar. Gadis itu menatap mobil yang sedari tadi mengikuti mereka sudah meledak sempurna. Gadis itu menghela napas lega saat merasa beban berat tadi menghilang dari pundaknya. "Akhirnya," gumam Mentari pelan.


Sedangkan Gieno saat ini sudah tersenyum miring melihat hasil tembakan Mentari. "Kau boleh juga," celetuk Gieno.


Mentari tersadar saat mendengar suara berat Gieno mengalun begitu jelas di telinganya. Gadis itu baru ingat jika dirinya sedang berada di atas pangkuan Gieno. "Apa ak …."


Brak … Sret …


"Bangsat!" Gieno mengumpat kala laju mobilnya mulai tidak seimbang saat satu mobil baru saja menabrak mobil mereka. Gieno cukup kesulitan mengendalikan arah mobil.


"Berpegangan!" teriak Gieno. Dengan cepat Mentari segera berpegangan di kepala kursi kemudi. Mata gadis itu melotot saat merasakan mobil itu seakan sedang terkena gempa.


Mentari menoleh dan melotot saat melihat mobil mereka saat ini sedang menuruti tangga pejalan kaki. 'Matilah,' batin Mentari panik.


Sedangkan Gieno saat ini sudah memejamkan matanya merasakan sesuatu yang lain mulai terbangun di bawah sana. "Sh**, kenapa dalam keadaan seperti ini dia malah bangun?" desis Gieno frustasi.


Bagaimana tidak, posisi duduk mereka membuat sang junior di bawah sana terus beradu dengan tubuh bagian bawah Mentari. Sedangkan Mentari yang merasakan hal lain di antara kedua pahanya, menoleh menatap Gieno. "Kak, kenapa aku merasakan ad …."


"Jangan berbicara," sela Gieno cepat.

__ADS_1


__ADS_2