
"Aku tidak kerasukan." Gieno berucap sambil mengambil tangan Mentari yang berada di keningnya.
"Terus kenapa tertawa tiba-tiba?" tanya Mentari nampak bingung.
"Tidak ada, tadi ada cicak menari di depanku," sahut Gieno asal.
"Wah, benarkah? Mana cicaknya, aku juga ingin lihat." Mentari menyahut sambil menoleh cepat ke arah depan. Mungkin saat ini gadis itu bisa dikatakan bodoh atau terlalu polos.
Merasa tidak melihat apa pun, Mentari kembali menoleh ke arah Gino yang sedang sibuk dengan jari tangan Mentari. "Kak, mana cicaknya?" tanya Mentari nampak penasaran.
"Sudah pergi," sahut Gieno. Laki-laki itu masih nampak sibuk dengan tangan Mentari.
'Ini tangan atau apa? Kenapa kecil sekali?' batin Gieno.
"Kok sudah pergi, panggil lagi, Kak," ucap Mentari.
Suara Mentari kali ini mengambil alih perhatian Gieno. Laki-laki itu menatap Mentari sambil tersenyum manis. Setelahnya laki-laki itu mengangkat tubuh kecil Mentari dan meletakkannya di atas pangkuan laki-laki itu.
__ADS_1
"Untuk apa juga melihat cicak? Lebih baik kamu melihat wajahku saja," tutur Gieno dengan nada datarnya seperti biasa. Memang nada datar Gieno masih tidak berubah. Hanya saja kesan hangat dan lembut lebih terasa saat laki-laki itu berbicara dengan Mentari.
"Aku kan memang selalu melihat wajah Kakak. Bahkan di dalam tidur pun wajah Kakak tetap hadir di otakku," kata Mentari jujur.
Gieno terkejut mendengar jawaban Mentari yang begitu jujur. Setelahnya laki-laki itu terkekeh kecil sambil mencubit pipi gadis yang berada di pangkuannya itu. "Baguslah, jangan pikirkan laki-laki lain," balas Gieno nampak begitu posesif.
"Ada laki-laki lain, kok," sahut Mentari.
Mata Gieno melotot terkejut mendengar jawaban Mentari. Setelahnya laki-laki itu menegakkan tubuhnya sambil menatap Mentari dengan pandangan serius. "Siapa laki-laki itu?" tanya Gieno datar.
"Bapak aku," sahut Mentari polos.
"Kan Bapak juga laki-laki, Kak," cetus Mentari.
"Iya, iya. Aku tahu, Bapak kamu itu memang laki-laki. Kalau tidak, mana mungkin kamu akan hadir di dunia ini," celoteh Gieno.
Mentari nampak menatap Gieno dengan pandangan tidak mengerti. Kalimat laki-laki itu memang tidak dimengerti oleh Mentari. Melihat wajah bingung Mentari, Gieno malah merasa gemas kepada gadis itu.
__ADS_1
"Akhh, kok digigit?" Mentari terpekik kecil saat dengan tiba-tiba Gieno malah menggigit pipi kanannya. Sedangkan Gieno hanya terkait kecil melihat wajah cemberut milik gadis itu. Laki-laki itu berniat kembali mendekat ke arah wajah Mentari. Namun, suara seseorang menghentikan aktivitas sepasang manusia itu.
"Di kamar, woi!" teriak Petrik.
Mentari sempat terkejut mendengar suara berat Petrik. Berbeda dengan Gieno yang saat ini sudah mendengus kesal sambil menatap sinis lima laki-laki yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka. "Ck, mengganggu," tutur Gieno begitu datar.
"Weis, dia bilang kita mengganggu," ejek Petrik. Lima laki-laki itu terkekeh mendengar kalimat Petrik. Mereka terus berjalan mendekat ke arah sepasang insan itu.
"Hai, Kak … hmmp." Suara Mentari terputus saat dengan tiba-tiba Gieno menutup mulut gadis itu dengan tangan kekarnya.
"Tidak usah sapa mereka," ucap Gieno.
"Wah, Anda sungguh parah Tuan De Larga. Bahkan hanya untuk sekedar menyapa pun kau tidak mengizinkan gadismu? Aku tidak menyangka ternyata jiwa posesifmu jauh lebih tinggi dari dugaanku," tutur Yezo mengejek.
"Benar, apa kau akan mengurung Mentari di dalam kamar terus?" tambah Rangga meledek Gieno.
"Ide yang bagus, Mentari … kamu ke kamar dulu. Nanti aku susul," tutur Gieno.
__ADS_1
Lima laki-laki itu saling pandang dengan mata melotot dan mulut terbuka. Padahal Rangga tadi hanya berniat meledek laki-laki. Siapa sangka jika Gieno malah menganggap serius perkataan Rangga.