Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
108. Patuh


__ADS_3

Semua mata menatap terkejut ke arah Gieno dan Mentari. Mereka jelas terkejut dengan sifat dan bawaan Gieno dalam memperlakukan Mentari. Laki-laki gila dan dingin itu membuat heboh hati orang lain.


Mereka mengira jika Gieno hanya mampu bersikap dingin dan kasar kepada orang lain. Siapa sangka, ternyata laki-laki itu juga bisa bersikap lembut dan nampak memanjakan seseorang, apalagi perempuan. Bukan tanpa alasan mereka terkejut, sebab Gieno memiliki julukan sang iblis gila.


"Apa itu benar iblis gila?" ucap seorang perempuan terkejut.


"Iya, aku saja tidak percaya dengan pemandangan ini," sahut seorang perempuan lagi.


Heboh, klub malam itu saat ini cukup heboh dengan suara bisikan para manusia yang berada di sana. Begitu pula dengan Naraya, wanita itu saat ini sedang menatap ke arah Mentari dengan pandangan penuh kebencian.


'Kak Gieno itu milikku, perempuan sok polos seperti dia malah ingin bersaing denganku? Lihat saja, akan aku buat kau pergi dengan sendirinya,' batin Naraya licik.

__ADS_1


Kembali kepada sepasang manusia yang menjadi pusat perhatian. Mentari saat ini sudah melotot saat gadis itu baru menyadari luka kecil di pipi kiri Gieno. Sedari tadi gadis itu tidak sadar karena sorot lampu klub yang cukup temaram.


Tanpa sadar karena bergitu terkejut, Mentari menarik leher Gieno mendekat ke arahnya. Jelas saja aksi gadis itu membuat semua orang terkejut. Mereka tegang, sebab Mentari begitu berani kepada Gieno. Gadis itu juga nampak seakan ingin mencium Gieno.


Tidak kalah terkejut, Gieno sempat melotot dengan aksi Mentari. Bahkan wajah dan telinga laki-laki itu sudah memanas karena ulah Mentari. Saat ini bahkan Mentari masih saja memegang leher Gieno yang masih menunduk mengikuti tangan mungil itu.


Anehnya, Gieno malah nampak diam saja tidak membantah. Iblis gila itu malah terlihat begitu patuh kepada Mentari. Kenyataan itulah yang membuat semua orang semakin merasa terkejut dan tidak percaya.


"Wah, siapa perempuan itu? Kenapa sepertinya Tuan De Larga begitu patuh kepadanya?" bisik seorang perempuan.


Mentari saat ini masih menatap pipi kiri Gieno dengan mata memicing seakan memastikan. Setelah yakin jika itu benar-benar luka, bukan hanya sekadar percikan darah. Gadis itu akhirnya menoleh dan menatap mata tajam Gieno yang begitu dekat dengannya.

__ADS_1


"Ayo kita cepat pulang, Kakak luka. Itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Nanti malah infeksi."


Kembali, aksi Mentari kembali membuat heboh para pengunjung klub. Bahkan mereka semua saat ini sudah ternganga tidak percaya. Bagaimana tidak, dengan beraninya Mentari menarik tangan kekar Gieno untuk keluar dari sana.


Hal mengejutkan lagi, Gieno malah patuh mengikuti langkah kaki Mentari. Iblis gila itu saat ini nampak seperti seorang anak yang patuh mengikuti langkah kaki orang tuanya. Terlihat lucu dan menggemaskan di mata orang lain.


'Astaga, kenapa aku malah tidak bisa menolak keinginan dia sekarang? Aku bahkan tidak mampu membantah,' batin Gieno merasa bingung dengan dirinya sendiri.


"Urus," titah Gieno kepada lima inti Zero.


Lima anggota inti Zero yang menatap kejadian itu sudah tertawa merasa terhibur melihat kepatuhan ketua mereka itu. "Ppfft, lucu juga melihat Gieno patuh seperti itu. Laki-laki egois seperti dia, ternyata bisa juga patuh kepada perempuan," ucap Petrik.

__ADS_1


"Aku rasa dia malah akan lebih patuh setelah ini," tutur Rangga.


"Ya, aku harap seperti itu. Mentari gadis yang baik, tidak masalah jika Gieno patuh kepada gadis seperti Mentari," papar Yezo.


__ADS_2