
Namun, saat ini Gieno kembali melihat wajah basah gadis itu setelah beberapa bulan lamanya. Ada desiran sakit di dalam hati laki-laki itu saat melihat wajah basah milik gadisnya. Apalagi tatapan kesakitan, kekecewaan dan tatapan luka dapat laki-laki itu tangkap dari bola mata bulat itu.
"Lux," panggil Gieno begitu lembut.
Mentari tidak menyahut, gadis itu nampak menangis dalam diam. Bahkan sangat terlihat Mentari seakan sedang menahan isakannya. Gadis itu terus menatap laki-laki tampan yang sudah sedari dulu sukses mengisi hatinya. Namun, mengetahui sifat laki-laki itu, membuat rasa sakit di hati Mentari kembali hadir bahkan semakin dalam.
"Lux, kenapa? Kenapa kamu di situ? Ayo turun, jangan bermain di sini. Itu berbahaya," sambung Gieno pelan.
Laki-laki itu berucap sambil bergerak pelan ke arah Mentari. "Jangan mendekat," lirih Mentari.
__ADS_1
Gieno patuh, laki-laki itu menghentikan langkahnya. Namun, mata tajam laki-laki itu tidak berpaling sedikitpun dari Mentari. Sangat terlihat raut wajah laki-laki itu saat ini begitu tegang, takut dan cemas. Tempat berpijak gadis itu sangatlah kecil. Sehingga jika Mentari bergerak sedikit saja sudah dipastikan tubuh gadis itu akan terjatuh ke bawah.
"Aku akan di sini, tapi kamu turunlah. Jangan seperti ini, katakan kepadaku kenapa kamu melakukan ini? Jangan seperti ini, ayo kita bicarakan masalahnya baik-baik. Kamu ada masalah apa? Katakan kepadaku," ucap Gieno mencoba begitu tenang.
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya saat ini, Gieno begitu cemas dan takut. Wajah laki-laki itu bahkan sudah begitu pucat. Selama hidupnya tidak ada rasa takut yang berhasil menyelinap di dalam hati laki-laki itu. Bahkan jika iblis gila itu dihadapkan dengan maut.
Namun, kali ini di situasi ini, rasa takut sukses merasuki setiap bilik hati laki-laki dingin itu. Bahkan jantung Gieno yang biasanya selalu berdetak normal. Sekarang sedang berdetak berpuluh kali lipat lebih kencang dari biasanya. Gieno begitu takut jika Mentari benar-benar menjatuhkan tubuhnya itu.
"Kamu, kamu orang itu," lirih Mentari.
__ADS_1
Deg …
Napas Gieno tercekat, laki-laki itu menatap Mentari dengan pandangan bingung sekaligus bertanya. "Maksud kamu apa, Lux? Aku? Ada apa denganku? Apa aku tidak sengaja menyakitimu? Katakan kepadaku, jangan seperti ini, ayo kita berbicara. Tapi kamu turun dulu," bujuk Gieno.
Mentari tersenyum getir, air mata terus menetes dari bola mata indah itu. Hal yang paling dibenci oleh Gieno, melihat Mentari menangis. Laki-laki itu hanya bisa menggeram tertahan sambil mengumpati dirinya sendiri di dalam hati.
"Aku sudah tidak kuat, Kak. Aku lelah dengan kehidupanku yang seperti ini. Aku selama ini mencoba bertahan, tapi Kakak seperti mempermainkan hidupku. Setelah Kakak berbuat manis kepadaku tapi Kakak meruntuhkannya dengan masih berhubungan dengan perempuan lain. Kakak pikir hati aku apa? Aku juga manusia, sakit … ini, di sini sangat sakit, hiks." Mentari berucap sambil memukul-mukul dadanya yang memang terasa begitu sakit.
Gieno tertegun, laki-laki itu terdiam sambil menatap sendu ke arah Mentari yang sedang menangis dan terisak di sana. Gieno mencoba mendekat, tetapi teriakan Mentari mengejutkan dan menghentikannya. "Aku bilang jangan mendekat!" teriak Mentari.
__ADS_1
"Aku minta maaf, Lux. Aku benar-benar minta maaf jika aku memang salah. Tapi jangan seperti ini, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Kamu bisa melakukan apa saja kepadaku untuk melampiaskan kemarahanmu. Terserah, aku pasrah, tapi jangan ini. Jangan seperti ini, turunlah. Aku mohon," bujuk Gieno frustasi.