Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
78. Penurut


__ADS_3

"Bagaimana ini, Pa? Ini sudah semakin menjadi, sudah korban ke empat. Tinggal satu korban lagi, setelah itu pasti kita," ucap Heiki takut.


Abraham diam tidak menanggapi perkataan putranya. Laki-laki tua itu nampak sedang memikirkan sesuatu. Pandangan matanya terus tertuju kepada kotak besar yang berada di ujung pintu belakang rumah mereka. Hari ini mereka kembali mendapatkan paket misterius dengan isi yang sangat mengerikan. Mereka juga jelas tahu siapa pengirim dari paket itu.


Abraham menghela napas berat merasa kepalanya begitu sakit memikirkan cara menghindar dari Gieno. Laki-laki tua itu memijat keningnya merasa begitu frustasi dengan keadaan keluarganya yang semakin berantakan. Sedangkan Heiki yang melihat itu hanya bisa menghela napas pelan. "Masalah Naraya bagaimana?" tanya Abraham.


Mendengar pertanyaan itu Heiki kembali menghela napas. "Dia masih saja keras kepala, sangat sulit untuk memberitahunya," sahut Heiki.


Mendengar itu Abraham di buat semakin sakit kepala. "Tapi kau masih menyewa orang untuk mengikuti mereka, bukan?" tanya Abraham lagi.


"Masih, tapi aku tidak yakin dengan semua ini. Entahlah, Papa tahu sendiri bagaimana gilanya Gieno. Aku yakin dia mengetahui setiap pergerakannya diikuti oleh orang suruhan kita. Aku merasa semua ini sia-sia saja kita lakukan dan aku merasa kita hanya buang-buang uang saja," ucap Heiki.


Untuk kesekian kalinya Abraham menghela napas. "Terus apa yang harus kita lakukan selain itu? Hanya itu yang nampak Nisa kita lakukan saat ini. Jika harus menghadapinya secara terang-terangan, jelas aja itu sama mencari mati," pungkas Abraham.

__ADS_1


"Tapi aku rasa seperti apapun kita bergerak. Hasilnya akan tetap sama, Pa. Entah kenapa, aku malah merasakan kalau Gieno sedang mencoba mempermainkan kita. Dia tahu kalau kita tidak akan bisa melawannya. Sehingga dia dengan sengaja mempermainkan kita saat ini. Mempermainkan psikis kita yang jelas sedang takut kepadanya," papar Heiki.


"Andai aku bisa mempertahankan anak gila seperti dia. Aku yakin sekarang terusan kita sudah berada di puncak kesuksesan," celetuk Abraham.


Heiki yang mendengar kalimat itu jelas saja merasa tidak suka. "Aku rasa tidak seharusnya kita membahas masalah itu lagi, Pa. Sekarang yang harus kita pikirkan, adalah bagaimana supaya nasib kita masih aman di dunia ini. Aku tahu sejauh apapun kita pergi dia akan tetap mengejar kita. Karena itu aku merasa pusing apa yang harus kita lakukan sekarang," kata Heiki.


"Sudahlah, kepalaku sakit jika harus memikirkan permasalahan yang menurutku tidak nampak jalan keluarnya. Yang pasti, sekarang kau buang kotak besar berisi potongan tubuh itu. Perutku mual, seharian ini aku pasti tidak akan makan apapun karenanya."


Abraham berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan Heiki yang masih menatap kotak besar itu dengan pandangan frustasi. "Apa yang harus aku lakukan?" gumam Heiki frustasi.


Mentari menatap Gieno yang nampak sedang sibuk dengan tablet di tangannya. Wajah serius laki-laki itu membuat mentari merasa terlena. Tiba-tiba saja di dalam otak gadis itu kembali terngiang perlakuan manis Gino kepadanya tadi. 'Jangan percaya lagi Mentari,' batin Mentari.


Mentari merebahkan tubuhnya di atas sofa ruangan tamu itu. Setelah selesai makan malam tadi, Gieno tidak mengizinkan dirinya masuk ke dalam kamar. Laki-laki itu malah meminta Mentari untuk menemaninya duduk di ruangan tamu itu. Entah apa peran Mentari saat ini di situ. Laki-laki itu malah sibuk sendiri dengan tabletnya. Menghiraukan mentari yang nampak sudah kebosanan.

__ADS_1


"Huhhftt." Gieno menoleh saat mendengar Mentari menghela napas panjang. Laki-laki itu terdiam saat melihat Mentari sedang berguling tidak jelas di atas sofa yang cukup luas itu. Lengkungan tipis terbentuk dan terlihat di wajah datar laki-laki tampan itu.


'Seperti anak kecil saja,' batin Gieno gemas. Mata laki-laki itu melotot saat tubuh Mentari hampir saja mengenai sanding meja kaca sofa itu. Untung saja Gieno dengan sigap menahan kepala Mentari. Sehingga kepala Mentari tidak jadi terbentur sudut meja kaca itu.


"Hati-hati." Mentari terkejut saat melihat Gieno sudah berdiri di sampingnya dengan tangan menahan kepalanya.


"Oh, maaf, Kak," tutur Mentari pelan.


"Kau mengantuk?" tanya Gieno.


"Iya, tapi … yang jelas aku merasa bosan," balas Mentari jujur.


Gieno mengangguk pelan mendengar jawaban jujur dari gadis itu. Laki-laki itu akhirnya duduk tepat di samping Mentari yang saat ini masih terbaring di atas sofa luas itu. "Tidur saja, aku masih ingin di sini," ucap Gieno.

__ADS_1


"Aku tidak boleh ke kamar?" tanya Mentari.


"Tidak, tetap di sini. Kalau kau ingin tidur tidur saja," sahut Gieno. Mentari mengangguk mendengar jawaban Gieno. Entahlah, mungkin karena sudah terbiasa mengikuti semua perintah Gieno. Sehingga gadis itu selalu mengiyakan perkataan Gieno tanpa membantah. Gieno pun merasa senang dengan sifat menurut Mentari itu.


__ADS_2