
Brum … brak …
Gieno menutup pintu mobilnya kasar, setelahnya laki-laki itu menatap dingin tembok tinggi yang merupakan pagar markas Darkness. Gieno mengambil sesuatu di dalam jam tangannya dan meletakkan benda itu ke telinganya. Setelahnya laki-laki itu memencet sebuah tombol kecil yang berada pada jam tangan itu. "Melvin," panggil Gieno datar.
Sedangkan Melvin yang masih berada di atas mobil bersama Rangga sudah bersiap dengan aksi ITnya. "Stay, sepuluh langkah ke kiri, panjat," papar Melvin.
Dengan gerakan cepat Gieno melangkah ke kiri sepuluh langkah sesuai aba-aba dari Melvin. Setelahnya dengan begitu mudah, Gieno memanjat tembok tinggi itu dan mendarat sempurna di lingkungan markas. "Lurus, setelahnya belok kiri, di sana akan ada dua penjaga," jelas Melvin lagi.
Tanpa banyak cakap, Gieno mengikuti setiap interuksi yang diucapkan Melvin. Laki-laki itu berjalan cepat, sampai ketika berbelok ke kiri Gieno menatap dingin dua laki-laki yang sudah memucat karena terkejut. "Iblis gi …."
Bruk … krak …
__ADS_1
Belum sempat dua laki-laki itu berteriak memberi tahu keberadaan Gieno. Tubuh mereka sudah lebih dulu terhempas ke dinding. Tanpa ampun, Gieno mengambil tangan mereka dan mematahkannya begitu mudah. Jika biasanya laki-laki itu akan bermain santai dengan seringai kesenangan. Berbeda dengan sekarang, Gieno benar-benar tampak seperti iblis yang haus akan darah.
"Lurus dan belok kanan, setelahnya kau akan menemukan tangga. Terus naik sampai lantai dua," sambung Melvin.
Gieno tidak menyahut, tetapi laki-laki itu terus berjalan sesuai perkataan Melvin. "Di lantai dua belok ke kiri, kau akan bertemu dengan seorang laki-laki, dia memiliki pistol. Aku dan Rangga sudah sampai, tinggal menyusup ke dalam ruangan IT. Masalah halaman utama, akan diurus oleh Yezo dan Ferry," sambung Melvin.
"Ruangan penyekapan, ada CCTV?" Gieno bertanya di sela langkahnya.
"Tidak. Hanya ada di luar ruangan, dan Januar sudah masuk ke ruangan itu sekitar delapan menit yang lalu," sahut Melvin.
"Aku sampaikan," balas Melvin.
__ADS_1
Gieno menatap dingin seorang laki-laki yang belum menyadari kedatangannya. Iblis gila itu masih berjalan tanpa beban, padahal sang lawan memiliki senjata api. Tidak berselang lama, laki-laki itu menoleh dan terkejut melihat keberadaan Gieno.
Dor … dor …
Dengan gerakan cepat, laki-laki itu menembakkan pelurunya ke arah Gieno yang tampak santai. Kecepatan peluru itu masih belum bisa menadingi kecepatan Gieno dalam mengelak. Iblis gila itu menunduk dan berlari secepat kilat menipu mata lawan.
Bruk … tratak …
Gieno menendang kaki laki-laki itu sampai terpelanting jauh bersama pistolnya yang ikut terjatuh. Laki-laki itu tampak panik, dengan kecemasan dia bergerak cepat mencoba menggapai pistolnya lagi. Namun, kelincahannya jelas kalah oleh kecepatan kaki Gieno yang sudah lebih dulu menginjak tangan laki-laki itu.
Krak …. "Akhhh …." Laki-laki itu berteriak histeris kala kaki Gieno sukses mematahkan jari-jari tangannya. Gieno menunduk dan mengambil pistol laki-laki itu cepat.
__ADS_1
Dor …. Tanpa aba-aba, iblis gila itu menembakkan peluru ke dalam mulut laki-laki itu. Sehingga dalam hitungan detik sang lawan meregang nyawa. "Naik ke tangga dan belok kanan. Dua ruangan sebelah kiri dengan pintu berwarna hitam, berdekatan dengan sofa perkumpulan. Di sana ada lima orang, kau membawa pistol tadi?" tutur Melvin.
"Hanya lima orang? Aku tidak perlu pistol," ucap Gieno angkuh. Iblis gila itu melangkah cepat menyusuri tangga dengan wajah dinginnya. Laki-laki itu bergerak cepat mendekati area perkumpulan yang dimaksud oleh Melvin.