Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
25. Iblis


__ADS_3

Brak …. Abraham menghela napas lega saat Heiki datang dengan dua belas laki-laki yang merupakan pengawal bayaran keluarga Barka. Gieno masih saja duduk santai di atas sofa tanpa merasa terganggu dengan kedatangan mereka. "Hajar dia," titah Heiki.


Jleb …. "Akhhh …." Belum sempat sekumpulan laki-laki itu bergerak. Salah satu dari mereka sudah meregang nyawa. Sebelas laki-laki yang melihat benda yang menacap di leher temannya melotot terkejut. "Iblis gila?" gumam mereka.


Tidak kalah berbeda dengan Abraham dan Heiki yang bahkan tidak dapat melihat gerakan tangan Gieno yang begitu secepat kilat. Abraham mundur kala Gieno berdiri dari duduknya dan secara perlahan membalikkan badan menatap Heiki dan sebelas laki-laki yang sudah menegang ditempat. "Hai, Paman," sapa Gieno dingin.


"Apa yang kalian tunggu? Cepat habisi dia," teriak Heiki.


Sebelas laki-laki itu saling tatap ragu. Mereka meneguk ludah kasar merasa sudah begitu terintimidasi oleh tato kekuasaan di leher kanan laki-laki dihadapan mereka. Gieno tersenyum miring melihat keterdiaman sebelas laki-laki itu. "Sebelas orang, kalian masih tidak percaya diri untuk mengeroyokku?" ejek Gieno. Mendengar itu sebelas orang itu mulai mendekat ragu ke arah Gieno.


Pak … krak …


Satu orang laki-laki menjerit kesakitan saat pukulannya disambut dengan begitu mudahnya oleh Gieno. Yang membuatnya menjerit, pengelangan tangannya sudah bengkok karena ulah Gieno. Semua orang yang melihat itu bergidik ngeri. 'Dia benar-benar iblis gila,' batin Heiki takut.

__ADS_1


"Ck, kalian pengecut. Lebih baik pulang saja kalau ke sini hanya untuk berdiri seperti itu," ejek Gieno lagi.


"Cepatlah, nanti aku tambah gaji kalian," tutur Heiki merasa geram.


Mendengar kalimat Heiki membuat sepuluh laki-laki yang tersisa saling tatap dan maji secara bersamaan. Gieno tersenyum senang melihat itu. "Bagus," gumam Gieno.


Bugh … pak … krak …


Dua laki-laki lagi tumbang dengan tangan dan kaki yang cedera. Aksi pertarungan itu terus berlanjut, Gieno begitu menikmati pertarungan tanpa rasa takut sedikit pun. Heiki yang merasa ada kesempatan segera mengambil pisau kecil yang tertancap di leher laki-laki yang sudab tidak bernyawa. "Aku bunuh kau," gumam Heiki.


Tepat saat Heiki akan menancapkan pisau kecil itu ke area perut Gieno. Sang iblis gila membanting seorang laki-laki sekaligus membalikkan tubuh laki-laki lainnya. Heiki melotot saat melihat Gieno tersenyum miring ke arahnya. "Kau ingin menyentuhku? Silakan bermimpi dulu," ucap Gieno sinis.


Bruk …. Gieno menjatuhkan laki-laki yang baru saja terkena tusukan pisau dari Heiki di perutnya. Heiki mundur kala Gieno menatapnya dengan tatapan dingin. Ruangan kerja Abraham sudah sangat mengerikan dengan darah bertebaran di mana-mana. Dua belas laki-laki tadi sudah tergeletak di atas lantai, dengan sebagian mungkin sudah tidak bernyawa.

__ADS_1


"Aku belum minat untuk menghabisi kalian. Akan sangat bagus, sebelum kalian mati … menderita dulu. Seperti yang aku katakan tadi, hal seperti ini tidak akan bisa membuat kalian membawaku ke meja hukum. Bahkan jika aku membunuh kalian, aku tidak akan terendus oleh aparat," ucap Gieno.


Gieno melangkah pelan, mendekat ke arah Heiki dan Abraham yang terus mundur. "Bagaimana rasanya? Senjata yang kalian buat, malah menyerang kalian sendiri. Karakter di dalam diriku ini, adalah ciptaan kalian. Aku gila seperti ini, adalah ciptaan kalian. Aku tidak memiliki hati seperti ini, adalah ciptaan kalian. Karena aku tidak memiliki hati, jadi … tidak apa-apa jika aku bermain dengan sepupu cantikku itu bukan?" Gieno tersenyum miring melihat wajah terkejut Heiki dan Abraham yang begitu terlihat jelas.


"Jangan sentuh Naraya, dia tidak salah apa-apa di sini," geram Heiki.


Gieno terkekeh sinis. "Sudah aku katakan aku adalah iblis gila. Iblis mana yang memiliki hati?" Gieno menyeringai.


"Lagi pula, bukan aku yang mendekatinya. Dia sendiri yang pergi menghantarkan tubuh kepadaku," sambung Gieno.


Setelah merasa puas bercakap, Gieno melangkah ke sebuah jendela kaca ruangan itu. "Sampai bertemu lagi."


Jleb …. "Akkhh …." Heiki menjerit kesakitan karena dengan tiba-tiba sebuah pisau kecil sudah menancap sempurna di telapak tangan kananya.

__ADS_1


Gieno tersenyum miring. "Itu hukuman karena Paman terlalu berani kepadaku." Setelah mengatakan itu Gieno melompat dan menghilang.


Abraham yang melihat itu terkejut tidak percaya. Laki-laki tua itu mendekat ke arah jendela dan melihat ke bawah. Tidak ada apa-apa, ruangannya berada di lantai empat puluh. Jika Gieno melompat dari sana, jelas saja seharusnya laki-laki itu sudah tidak berbentuk mendarat di bawah. Namun, nyatanya laki-laki itu malah menghilang tanpa jejak. "Dia benar-benar bukan manusia, iblis," gumam Abraham tidak percaya.


__ADS_2