
Brak …. Naraya terlonjak saat dengan tiba-tiba Gieno berdiri dari duduknya. Sehingga membuat kursi yang sempat diduduki oleh laki-laki itu terjatuh. "Kau di mana?" desis Gieno.
"Kak." Naraya berdiri dan memanggil Gieno yang pergi begitu saja meninggalkan dirinya.
Wanita itu mendengus kesal saat Gieno tidak menghiraukan dirinya. "Siapa yang meneleponnya sampai pergi begitu saja, meninggalkan aku di sini tanpa pamit," gumam Naraya kesal.
Sedangkan Gieno, kini sedang melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat gila. Pikiran laki-laki itu tidak tenang, entah apa yang membuatnya sampai seperti itu. "Seharusnya aku yang menemaninya tadi" gumam Gieno marah.
Tring … tring … tring …
Tanpa menunggu lama, Gieno menerima panggilan dari Yezo. "Menurut identifikasi, mayat itu merupakan salah satu anggota Zero. Ada gelang pengenal yang masih tergantung di tubuhnya," jelas Yezo.
Huft …. Informasi yang diberikan Yezo cukup membuat Gieno menghela napas merasa sedikit lega. "Penumpang yang satunya?" tanya Gieno.
"Gadis itu?" tutur Yezo balik bertanya.
"Iya, cepatlah," balas Gieno tidak sabar.
__ADS_1
"Melvin sedang melacak black box mobil yang sempat di bawa kabur oleh orang yang meledakkan mobil, tunggu sebentar," papar Yezo.
"Pelakunya?" tanya Gieno.
"Kita akan tahu, kau sabarlah. Tinggal dua puluh persen lagi. Kau sudah sampai mana?" ucap Yezo.
"Simpang tiga," sahut Gieno singkat.
"Seperti apa perasaanmu saat ini? Apa kau khawatir?" pancing Yezo.
Gieno terdiam mendengar pertanyaan Yezo. Dia tidak tahu harus menjawab apa, sebab dia sendiri bingung dengan perasaannya. "Aku tidak tahu, yang jelas ini tidak mengenakkan," jawab Gieno jujur.
Gieno mengernyit, setelahnya mata laki-laki itu menajam mendengar nama Darkness. "Sempat ada aksi kejar-kejaran antara mereka. Huh … Darkness memang pengecut, mereka melawan satu anggota Delta Zero empat sebanyak itu?" ejek Yezo.
"Gadis itu bagaimana?" tanya Gieno tidak sabar.
"Percepat, Mel," pungkas Yezo. "Setelah mobil terhenti, mereka membawa gadis itu pergi. Hanya sampai di sana, beberapa menit setelah itu mereka meledakkan mobil," jelas Yezo.
__ADS_1
Gieno mencengkram setir mobil kuat. "Cari lokasi," desis Gieno.
"Baik, kau cepatlah ke sini," papar Yezo.
...*****...
"Shhh …." Mentari meringis sambil memegang kepalanya yang terasa begitu sakit.
Perlahan gadis itu membuka matanya. Setelah beberapa detik terisam, Mentari mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Kening gadis itu mengernyit kala merasa tidak mengenali tempat itu. "Di mana aku?" gumam Mentari.
Gadis itu terdiam kala mendengar suara heboh para laki-laki di luar ruangan itu. Setelah mencoba mengingat kejadian. Mentari memucat kala tahu bahwa dirinya sedang diculik. "Bagaimana ini?" Mantari duduk dan menatap was-was ke arah pintu.
Gadis itu bergerak pelan turun dari ranjang. Perlahan Mentari mendekat ke arah pintu mencoba menguping pembicaraan orang-orang dibalik pintu. "Setelah ini kita harus apa, Ketua?" Mentari dapat mendengar suara seorang laki-laki berucap.
"Kita lihat, seberapa besar kekuatan Zero yang selalu merusak indera pendengaranku setiap hari. Jika dalam kapasitas kita, Darkness bisa mencapai target dalam waktu satu jam saja. Kira-kira bagaimana dengan iblis gila itu?" Januar tersenyum miring.
"Sembari menunggu, gadis itu kita apakan?"
__ADS_1
Deg …. Mentari jelas mengetahui maksud kata gadis itu tertuju kepadanya. Jantung Mentari bergerak semakin cepat di dalam sana. 'Mereka ingin apa?' batin Mentari takut.
"Aku ingin mencicipinya."