Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
112. Misi Lorong


__ADS_3

"Misi B selesai," ucap Ferry. Laki-laki itu terus berjalan sampai menyusuri lorong sempit itu. Lorong kecil dan begitu gelap, langkah Ferry hanya terlihat dari sorot lampu yang ada di atas kepala laki-laki itu.


"Kau di mana?" Terdengar suara Gieno menggema di alat yang ada di belakang telinga Ferry.


Ferry melihat benda yang melingkar di tangan kirinya sebelum menyahut pertanyaan Gieno. "Lorong L seperempat bagian," sahut Ferry.


"Persimpangan kedua," tutur Gieno.


"Baiklah," sahut Ferry.


Beda tempat dan posisi, Gieno saat ini sedang berjalan hampir sama dengan Ferry. Lorong sempit yang begitu gelap. Langkah laki-laki itu terkesan santai, tidak terburu-buru tapi juga tidak pelan.


"No, kau berada di lorong S tiga per empat bagian?" Suara Melvin menggema di alat yang menyangkut di telinga Gieno.


"Hem," deham Gieno menyahut pertanyaan Melvin.


"Lima langkah, sebelah kanan," ucap Melvin.


Gieno menaikkan sebuah alisnya sambil menyeringai. Laki-laki itu masih nampak berjalan santai tanpa terganggu dengan kalimat Melvin. Iblis gila itu menghitung langkahnya di dalam hati.


'Dua … tiga ….'

__ADS_1


'Empat ….'


Syut … Klap …


Tepat saat langkah kelima, sebuah tangan yang memegang pisau muncul berniat menusuk leher Gieno. Namun, dengan cepat Gieno menghindar dan menarik tangan itu. Seorang laki-laki memakai topeng dan berpakaian serba hitam, langsung menyerang Gieno membabi buta.


Pertempuran diantara dua laki-laki itu pun terjadi. Gieno nampak santai tidak terlihat kewalahan. Meski melawan laki-laki itu saat ini sedang memegang pisau. Gieno nampak begitu cekatan menghindar dari pisau bahkan menangkis serangan lawan.


Bugh … Pats … Syut …


Laki-laki bertopeng dan berbaju hitam itu sudah kewalahan menghadapi Gieno. Bahkan laki-laki itu sering kali terbentur ke dinding lorong dan ke lantai lorong itu. Sebenarnya dengan begitu gampang dan mudah bagi Gieno untuk melumpuhkan laki-laki itu. Hanya saja Gieno sengaja untuk mempermainkan lawan seperti biasa.


Syut … Prang … Krak …


Bruk … Krak …


"Akhh." Setiap kali Gieno menghempaskan tubuh laki-laki itu, setiap itu pula suara tulang belulang patah terdengar bahkan sampai memekakkan telinga.


Merasa puas dengan aksinya, Gieno menginjak tubuh laki-laki yang sudah tidak bernyawa itu dan kembali melanjutkan langkahnya. Tidak sampai beberapa langkah, Gieno menemukan persimpangan lorong. Laki-laki itu berbelok ke kiri, tetapi langkahnya terhenti saat mendengar suara tembakan.


Dor … Dor … Pats …

__ADS_1


Suara tembakan dan bunyi peluru terpelanting ke dinding lorong menggema di dalam lorong sempit itu. Gieno merapat ke dinding lorong sambil mematikan lampu di atas kepalanya. Secara perlahan Gieno mengambil sebuah benda di dalam saku celananya.


Dalam kegelapan lorong itu Gieno menyeringai iblis tanpa sepengetahuan lawannya. Jika saja lawannya melihat seringnya iblis laki-laki itu. Sudah dipastikan mereka akan memilih kabur terlebih dahulu. Beruntungnya seringai itu tertutupi oleh gelapnya malam ditambah dengan lorong sempit itu.


Gieno melangkah begitu pelan sehingga suara langkahnya itu hampir tidak terdengar. Mata tajam iblis gila itu menatap satu titik, di mana lawannya saat ini menggunakan satu laser merah. Jarak mereka masih cukup jauh mungkin ada sekitar lima puluh meter.


Secara perlahan, Gieno mengangkat tangannya yang sedang memegang pisau kecil khas milik iblis gila. Mata tajam iblis gila itu menatap intens ke arah satu titik laser yang menjadi bidikannya saat ini. Mulai menghitung di dalam hati saat melihat laser itu mulai bergerak tidak tidak seimbang.


Sepertinya orang yang sedang memegang senjata itu sedang panik bercampur khawatir. Jelas saja karena lawan mereka adalah Gieno. Iblis gila, sang penguasa Zero.


Syut … Pats … Bruk …


Dor … Dor … Dor …


Bidikan Gieno tempat sasaran, pisau kecil kesayangan laki-laki itu tepat bersarang di leher salah satu pemegang senjata laser itu. Tidak menunggu lama korban dari pisau kecil itu langsung ambruk di atas lantai lorong. Jelas aja hal itu membuat panik satu temannya, yang secara spontan langsung menembakkan peluru secara tidak beraturan.


"Hehehe." Gieno terkekeh sehingga membuat lawan terkejut dan merasa merinding. Suara tawa pelan Gieno sukses membuat bulu kuduk lawan berdiri karena begitu tertekan dan merasa takut. Hal yang semakin membuat dia merasa takut, karena dia tidak bisa melihat keberadaan Gieno.


"Are you ready to go to the hell?"


Dor … Dor … Dor …

__ADS_1


Suara tawa keras Gieno menggema di lorong sempit dan gelap itu. Setelah mengucapkan kalimat tadi lawan nampak panik dan langsung menembakkan pelurunya ke segala arah. Hal itu malah semakin membuat Gieno merasa senang. Mempermainkan mental lawan adalah kesenangan tersendiri bagi iblis gila itu.


__ADS_2