
Gieno nampak frustasi, sudah lebih dari enam bulan Mentari dirawat dan terbaring di rumah sakit. Namun, sampai sekarang masih tidak ada perkembangan. Selama itu, sifat Gieno benar-benar berubah drastis. Laki-laki itu jauh lebih dingin dan jauh lebih kejam.
Dengan sifatnya itu, orang-orang semakin ngeri dan tidak berani berdekatan apalagi berurusan dengannya. Sifatnya sebagai seorang casanova juga sudah berubah drastis. Gieno bahkan merasa benci berdekatan atau hanya berpapasan dengan wanita. Hal itu membuat perusahaan De Larga membuat peraturan baru dengan menghindari berpasasan dengan Gieno. Jika sampai kedapatan berpapasan dengannya, mungkin mereka tidak akan kembali dengan nyawa.
“No, kau perlu menandatangani ini. Ini harus diserahkan hari ini,” ucap Yezo.
Gieno tidak menyahut, laki-laki itu hanya membuka berkas itu dan membacanya. Beberapa detik kemudian laki-laki itu menanda tanganinya. Seperti inilah Gieno saat ini, lebih irit bicara dan semakin dingin tak tersentuh.
“Nanti malam kau tidak akan ikut ke pesta dari perusahaan Andreas?” tanya Yezo.
Kembali hening, Gieno masih tidak menyahut kalimat Yezo. Laki-laki itu hanya menatap Yezo sejenak dan menggelengkan kepalanya singkat. Melihat itu Yezo hanya bisa menghela napas pelan.
‘Aku tidak tahu harus senang atau bagaimana dengan sifatmu ini. Aku senang karena kau sekarang sudah tidak melakukan hal gila seperti dulu lagi dengan para wanita. Tapi tidak sampai dengan tidak ingin berpapasan dengan kaum wanita juga. Jadinya aku juga kesulitan belum lagi dia semakin irit bicara. Bingung aku,’ batin Yezo.
Drett …
“Kau akan kemana?” tanya Yezo saat melihat Gieno berdiri dari duduknya.
“Markas,” sahut Gieno singkat.
“Ah, iya. Aku lupa ternyata sekarang sudah hampir jam satu,” tutur Yezo.
Ada apa dengan jam satu? Itu adalah waktu di mana Gieno selalu datang ke markas Zero untuk menyiksa Heiki, Nairy dan Abraham. Yah, tiga manusia itu memang masih hidup sebab Gieno memang sengaja ingin membuat mereka menderita dulu. Selama lebih kurang enam bulan itu, Gieno tidak pernah absen menyiksa tiga manusia itu.
__ADS_1
...*****...
“Aakkhh … sakit! Tolong hentikan, tolong ….” Jeritan kesakitan menggema di ruangan terbuka itu. Gieno memang selalu menyiksa Heiki, Nairy dan Abraham di luar penjara markas. Sebab laki-laki itu ingin melihat jelas raut kesakitan dari mereka.
“Tolong hentikan, sakit,” lirih Nairy.
Saat ini tubuh tiga manusia itu sangat memprihatinkan. Mereka sama-sama tidak memiliki jari tangan, sebab Gieno sudah memotong jari tangan mereka satu per satu. Rintihan kesakitan itu terasa merdu di telinga iblis gila itu. Bahkan Gieno saat ini sedang tertawa iblis merasa begitu menikmati aksinya.
“Karena anak bodoh kalian itu, sampai saat ini gadisku masih belum sadarkan diri. Karena dia sudah mati, maka kalian yang harus menanggung dosanya,” desis Gieno.
“Kau manusia gila! Perempuan itu pasti sebentar lagi akan segera mati! Aku sumpahi dia supaya segera mati!” murka Heiki.
Mata Gieno menggelap mendengar itu, rahang laki-laki itu mengeras. Kalimat Heiki kali ini jelas saja langsung membangunkan jiwa iblis yang sesungguhnya. Melihat itu, lima inti Zero hanya tersenyum miring. “Sepertinya ajal mereka sudah tiba,” papar Rangga.
Bugh … Bruk … “Akkkh.”
Gieno menendang tubuh Heiki dengan kekuatan terbesarnya. Tendangan itu sukses membuat Heiki melayang dan terhempas keras ke atas tanah kering itu. “Bawa dia ke sini!” titah Gieno.
Tanpa banyak bicara, beberapa anggota Zero langsung menarik tubuh Heiki dan menyeretnya kembali ke depan kaki Gieno. Gieno menatap dingin Heiki isyarat akan kemarahan yang begitu besar. “Mati? Mungkin kau yang akan segera mati. Ambilkan samuraiku,” desis Gieno.
Deg …
Napas tiga manusia itu tercekat saat mendengar kalimat Gieno. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana nasib mereka setelah ini. Sepertinya Gieno benar-benar marah besar.
__ADS_1
“Ini, Ketua.” Seorang anggota Zero datang dengan membawa sebuah samurai yang begitu mengerikan. Samurai itu secara perlahan sudah berpindah tangan saat ini. Melihat itu, tiga manusia itu semakin dibuat ketakutan.
“Ingat dengan benda ini? Dengan benda ini kalian merenggut nyawa Papaku. Maka sekarang, kalian harus merasakannya juga,” desis Gieno.
Nampak wajah tiga manusia itu memucat dengan tubuh menegang ketakutan. Mereka mulai bergerak tidak tenang di tempat mereka masing-masing. Apalagi saat Gieno mulai memainkan samurai itu.
“Tidak, aku tidak ingin mati seperti ini,” teriak Heiki dan Abraham ketakutan.
“Ayo kita mulai dari Bibiku tercinta. Paman siap melihat kematian sang istri?” bisik Gieno terdengar begitu mengerikan.
“Tidak, tidak! Jangan ….” Heiki berteriak panik memikirkan nasib istrinya.
“Tenang, tidak usah berteriak. Sebab kau juga akan mendapatkan jatah. Bawa dia ke sini,” tutur Gieno.
Beberapa anggota mulai membawa tubuh Nairy ke depan, tidak jauh dari tempat Gieno. Secara perlahan Gieno mulai mengangkat samurainya. Heiki terus berteriak sedangkan Nairy nampak sudah pasrah dengan memejamkan matanya.
Slass … Bruk … Gluduk …
Heiki berteriak histeris saat mata kepalanya melihat secara langsung kematian sang istri. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana kepala itu terpisah dari tubuhnya. Bahkan kepala Nairy menggelinding tepat di depan matanya.
"Tidak, Nairy. Nairy …," panggil Heiki frustasi.
Gieno menyeringai menatap wajah frustasi laki-laki paruh baya itu. "Bagaimana rasanya? Melihat orang yang disayang mati di depan mata bahkan dengan kepala yang terpisah?" desis Gieno.
__ADS_1
"Sekarang giliran si tua bangka," sambung Gieno.