Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
63. Gadis Polos


__ADS_3

"Mana bisa begitu, Ma. Aku tidak setuju, siapa yang memberi saran seperti itu? Aku tidak ingin memiliki adik apa lagi dari wanita selain Mama," protes Naraya tidak setuju.


Nayry kembali menghela napas mendengar kalimat protes dari mulut anaknya. Dia juga bisa apa jika itu sudah perintah dari Abraham. "Apa ini usul Papa? Atau Kakek?" tanya Naraya.


Nayry menoleh dan menatap wajah cantik putrinya. "Perintah dari Kakek kamu," jawab Nayry.


Mata Naraya menajam mendengar itu. "Kakek ada-ada saja, apa Papa setuju?" tanya Naraya lagi.


Nayry menggeleng pelan. "Mama tidak tahu, tapi waktu itu Papa kamu bilang dia tidak setuju. Entah untuk sekarang, Mama tidak tahu," sahut Nayry.


"Mama protes ke Kakek, mana bisa begitu. Dipikir enak dimadu," celoteh Naraya kesal.


Nayry tersenyum miris mendengar perkataan Naraya. "Mama bisa apa selain menyetujuinya, Ray. Mama di sini hanya seorang menantu yang benar-benar menumpang. Sebab keluarga Mama sudah tidak ada. Mama hanya sedang berusaha untuk tetap mempertahankan posisi di rumah ini," ungkap Nayry lemah.


Hati Naraya tercubit mendengar kalimat pelan yang keluar dari mulut Mamanya. Wanita itu mendekat dan memeluk erat tubuh wanita paruh baya yang begitu disayanginya. "Mama jangan sedih, nanti Ray yang akan berbicara kepada Kakek. Sebelum itu Ray akan tanya dulu kepada Papa, dia setuju atau tidak. Yang pasti, Ray tidak akan pernah merestui hal itu," ucap Naraya mencoba menenangkan Nayry.

__ADS_1


"Tapi tidak usah bersikeras nanti, Ray. Mama tidak mau kalau Kakek kamu marah kepada kamu nanti," tutur Nayry.


"Tidak apa-apa, Ma. Mama tenang saja … huft, andai saja abang sepupu aku itu masih hidup. Pasti tidak akan seperti ini, aku tidak akan dipaksa untuk meneruskan perusahaan," celetuk Naraya.


Deg …. Detak jantung Nayry sempat terhenti mendengar penuturan Naraya. 'Dia masih hidup, Ray. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, aku sempat melupakan dia karena frustasi dengan rencana pernikahan Mas Heiki,' batin Nayry.


...*****...


Gieno menoleh melihat keberadaan Mentari. Mata laki-laki itu memicing saat melihat kepala gadis itu terkulai ke bawah. Laki-laki itu berdiri tanpa aba-aba sehingga membuat Rangga yang sedang menjelaskan sesuatu terhenti karena terkejut. Begitu pula dengan empat laki-laki lainnya.


Secara perlahan Gieno membaringkan tubuh Mentari di atas sofa itu. Gieno membuka jaket yang sedang dipakainya dan menutup tubuh Mentari yang sedikit terekspos. Sedangkan lima anggota inti Zero yang sedari tadi memperhatikan aksi Gieno sudah saling pandang. "Masih banyak?" tanya Yezo kepada Rangga.


"Tidak, hanya daftar laporan," jawab Rangga. Yezo mengangguk singkat mendengar perkataan Rangga. Setelahnya laki-laki itu menoleh ke arah Gieno.


"No," panggil Yezo.

__ADS_1


Gieno menoleh saat mendengar suara Yezo. "Kau bawa saja Mentari ke dalam kamar. Kau juga ingin bersih-bersih, bukan? Rangga hanya perlu menjelaskan laporan, nanti aku kirim kepadamu," ucap Yezo.


Tanpa menyahut, Gieno mulai membawa tubuh Mentari ke dalam pelukannya dan mengangkat tubuh mungil itu. "Aku pergi." Setelah mengucapkan itu, Gieno keluar dari ruangan pertamuan inti itu.


"Aku yakin dia sudah menyukai gadis itu," ucap Patrik.


"Benar, hanya saja dia tidak menyadari," sambung Ferry.


"Lebih tepatnya mendahulukan egois, jadinya dia tidak menghiraukan perasaannya," tutur Rangga.


"Entahlah, aku hanya berharap dia cepat sadar. Kasihan sekali gadis polos nan baik seperti Mentari harus dikurung oleh maniak wanita seperti Gieno," papar Yezo.


"Ya, semoga saja. Aku lihat sepertinya gadis itu sudah memiliki rasa kepada Gieno. Itu malah akan semakin membuatnya sakit," balas Rangga.


"Iya, aku juga melihat tatapan tulus gadis itu kepada Gieno. Sayang sekali," sambung Patrik.

__ADS_1


"Sudahlahlah, kita bisa apa kalau Gieno sudah seperti itu," tutur Yezo.


__ADS_2