Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
99. Klub Mayor


__ADS_3

"Apa?" Abraham terkejut suara keras dari Heiki saat sedang menelepon. Laki-laki berumur itu menoleh ke arah sang putra yang nampak memucat. Perasaan Abraham menjadi tidak tenang melihat raut wajah Heiki.


"Ada apa?" tanya Abraham.


Heiki tidak langsung menyahut pertanyaan dari sang ayah. Laki-laki paruh baya itu mendudukkan dirinya terlebih dahulu di atas sofa. Setelahnya Heiki menghela nafas mencoba menenangkan dirinya. "Hufft … Damar menghilang, Pa," sahut Heiki pelan.


Duar …. Seakan disambar petir di siang bolong, Abraham begitu terkejut mendengar perkataan Heiki. Laki-laki tua itu saat ini sudah ikut memucat. "Bagaimana sekarang, Pa?"


Heiki bersuara sambil mengusap wajahnya merasa frustasi dan takut yang menyatu menjadi satu. Sedangkan Abraham sudah terdiam ke aku duduk di atas sofa single itu. Dua laki-laki berbeda generasi itu saat ini merasa kalut dan takut.


"Persiapkan diri dalam beberapa hari ke depan. Iblis gila itu pasti akan segera mengirim potongan tubuh damar kepada kita seperti biasanya," tutur Abraham.


"Iya, dan jika itu sudah terjadi berarti secara tidak langsung itu adalah peringatan kepada kita untuk semakin bersiap-siap. Damar adalah lonceng bagi kita, jika dia menghilang berarti tamat sudah riwayat kita," balas Heiki frustasi.


"Kau tenanglah dulu kita perlu berpikir dengan pikiran yang jernih. Banyak yang harus kita pikirkan saat ini. Iblis gila itu masih belum menyentuh perusahaan kita sedikit pun. Jadi kita berawal dari sana, supaya bisa menopang diri sendiri nantinya. Jika dia sudah menggoyang perpijakan kaki perusahaan Barka, maka dengan itu hancurlah sudah," ungkap Abraham.


"Jauh dari kata perusahaan, aku lebih mengkhawatirkan Naraya, Pa. Dia sudah begitu nampak terbuat dan terikat kepada Gieno," tutur Heiki.


Abraham terdiam mendengar kalimat Heiki. Dia baru ingat jika cucu tunggalnya itu saat ini juga menjadi sasaran balas dendam Gieno. "Baiklah, kalau begitu kita bagi saja tugas. Supaya semuanya bisa terkoordinasi dengan lebih baik lagi. Sekarang sudah tidak main-main, sepertinya dia semakin mempercepat langkah. Aku mengurus perusahaan dan kau pantau Naraya terus," papar Abraham.


...*****...


Gieno tersenyum miring melihat wajah frustasi dua laki-laki yang berada di layar laptop miliknya. Saat ini laki-laki tampan itu sedang berada di ruangan kerjanya sambil melihat video yang baru saja dikirimkan oleh Melvin kepadanya. "Heh, akhirnya kalian semakin merasa tertekan. Baiklah kita mulai dari cucu manjanya dulu," gumam Gieno.

__ADS_1


"Mungkin memberi sedikit bumbu-bumbu permainan, sebelum menembak sang lawan. Itu akan lebih baik dan lebih menyenangkan," sambung Gieno bergumam.


Tring …. Perhatian Gieno teralihkan saat mendengar suara telepon genggamnya berbunyi. Laki-laki itu meraih benda pipih yang berada di atas meja kerjanya. Saat melihat nama seseorang terpampang di layar pintar itu, Gieno tersenyum miring. "Panjang umur," papar Gieno.


Satu notifikasi masuk di layar telepon genggam milik iblis gila itu. Nama Naraya adalah hal yang membuat Gieno tersenyum miring. "Kira-kira apa yang dikirimkan perempuan manja ini?" ucap Gieno.


From : Naraya


[Kak, nanti Kakak bisa ikut ke pesta temanku tidak? Aku tidak punya pasangan, bisa bantu aku?]


Gieno nampak diam sejenak sambil menaikkan sebelah alisnya setelah membaca pesan masuk dari Naraya. Merasa malas untuk mengetik, laki-laki itu memutuskan untuk menelepon Naraya secara langsung. Hanya beberapa detik tersambung, telepon itu langsung diangkat oleh Naraya.


"Halo, Kak," sapa Naraya antusias. Sepertinya perempuan itu begitu senang saat Gieno menelepon dirinya untuk pertama kalinya.


"Hah? Oh … itu besok malam, Kakak bisa membantu aku kan? Aku tidak punya pasangan, maklum aku tidak memiliki kekasih," balas Naraya seakan memberi kode kepada Gieno jika dirinya singel.


"Tempatnya?" tanya Gieno lagi.


"Klub Mayor," sahut Naraya.


Gieno terdiam mendengar nama tempat acara pesta itu. Beberapa detik kemudian sebelah sudut bibir laki-laki itu terangkat membentuk seringai licik. 'Sepertinya ini bisa semakin dipercepat,' batin Gieno.


"Kak, Kakak bisa kan menemani aku besok?" Suara Naraya dari seberang telepon mengembalikan kesadaran Gieno.

__ADS_1


"Iya, jam berapa?" balas Gieno sambil bertanya.


"Jam sepuluh acaranya dimulai, Kak. Jadi Kakak benar-benar bisa menemani aku kan?"


"Bisa," sahut Gieno.


Naraya di seberang telepon sana sudah meloncat kegirangan sambil menahan suaranya. Wanita itu merasa begitu senang saat Gieno bersedia menemaninya sebagai pasangan di acara temannya besok malam. Tanpa wanita itu sadari, jika besok malam adalah waktu bagi dirinya sendiri memulai sebuah bencana.


Sedangkan Gieno di sini sudah menyeringai licik dengan berbagai pikiran dan rencana di dalam otak iblis gila itu. 'Kenapa tempatnya pas sekali, klub malam. Pesta yang menyenangkan,' batin Gieno.


Setelah sambungan telepon itu terputus Gino menghubungi nomor kontak Yezo. "Halo," sapa Yezo di seberang telepon.


"Persiapkan besok malam, satu kamar di klub mayor," tutur Gieno.


Yezo yang mendengar itu merasa bingung, sejauh ini iblis gila itu sudah mulai menghentikan aksi gilanya dengan wanita, meski masih melakukan sesekali. "Untuk apa? Kau memesan wanita di sana?" tanya Yezo.


"Keturunan Barka," sahut Gieno singkat.


Yezo yang mendengar jawaban dari Gino jelas aja semakin terkejut. "Maksudmu sepupu, eh maksudku Naraya Barka?" tanya Yezo memastikan.


"Hem," deham Gieno singkat.


"Kau ingin melakukannya secara langsung? Aku sarankan jangan! Kau jangan gila, ingat Mentari," tekan Yezo serius. Mendengar kalimat Yezo membuat Gieno terdiam. Mendengar nama Mentari disebut oleh laki-laki itu, membuat Gieno malah ingin segera cepat pulang dan menemui gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2