Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
61. Kalimat Laknat


__ADS_3

Aku benar-benar terkejut melihat keberadaan Kak Gieno. Memang sekarang ini sudah empat hari dari keberangkatannya saat itu. Namun, dia sama sekali tidak memberi kabar akan pulang hari ini. Tentu saja, aku hanyalah seorang manusia kurungan menurutnya. Jika ditanya senang atau tidak, jelas saja aku merasa senang.


Namun, saat ini aku sekuat tenaga mencoba menjaga jarak dengannya. Aku tidak ingin perasaanku ini semakin dalam. Aku tidak kuat menahan rasa sakit, cukup sampai saat ini. Entah akan sampai kapan, aku … ingin segera menghilangkan perasaan ini. "Turun," suara Kak Gieno menyadarkan lamunanku.


Ingin sekali rasanya aku menatap wajah tampannya itu. Namun, aku tidak ingin masuk perangkap lagi. Aku sedang berusaha, dan aku harus konsisten dengan itu. Semoga saja terus bertahan hingga nanti. "Kau kenapa sedari tadi seakan menghindar dariku? Aku tidak suka di saat aku berbicara, orang lain menatap ke arah yang berbeda. Lihat aku."


Suara tegas Kak Gieno membuat aku kembali terkejut. Mendengar suara tegas itu, membuat aku dengan terpaksa mengangkat pandangan menatap wajah tampan tanpa cela itu. Benar-benar tampan dan memabukkan, apalah dayaku yang hanya manusia rendah ini.


.


.

__ADS_1


.


Keningku berkerut saat melihat wajah murung milik Mentari. Apa yang sedang dipikirkan gadis itu sehingga membuatnya tampak tidak bersemangat. "Ayo." Aku meraih tangan mungilnya dan menarik pelan ke dalam markas Zero.


Hari ini aku memilimi pertemuan inti, saat diperjalanan aku malah mendapat laporan dari Yezo jika Mentari sedang berada di taman. Tidak aku sangka dia malah sedang bercerita sambil tertawa senang dengan laki-laki lain. Entah apa, yang jelas aku tidak suka melihat itu semua. Mengingat itu, aku membalikkan tubuhku dan menatap wajah Mentari yang tampak terkejut dengan pergerakanku yang tiba-tiba. "Jangan berhubungan lagi dengan laki-laki lain, kau paham?" tekanku.


Aku melihat garis kebingungan di kening gadis itu. "Maksud Kakak?" tanya dia begitu lembut. Suara lembut yang begitu aku rindukan selama kurang lebih empat hari ini.


"Tapi … Kakak memberi aku pengawal, mereka kan laki-laki," tuturnya polos. Sangat polos sehingga aku ingin segera mengurungnya dan merenggut kepolosannya itu. Sayangnya sampai saat ini aku tidak bisa, entah apa penyebabnya.


"Selain mereka, kau harus menjaga jarak dari laki-laki mana pun. Bahkan pengawal sekali pun, mereka hanya bertugas mengawalmu," terangku. Mentari nampak mengangguk pelan, setelahnya aku melihat mulutnya nampak bergerak. Sepertinya dia sedang menggumamkan sesuatu.

__ADS_1


"Aku juga ingin Kakak menjauh dari wanita lain."


Niatku yang ingin kembali melangkah, terhenti saat mendengar suara Mentari. "Kau bilang apa? Kurang jelas," pancingku.


Aku dapat melihat wajah terkejut Mentari sambil menutup mulutnya. Semburat kemerahan perlahan hadir di pipi berisi gadis itu. Salah satu hal seperti ini sudah mulai menjadi canduku. Pipi bulat itu memerah malu, apa lagi merasa salah tingkah. Aku hanya memberikan senyum miring ke arah Mentari yang masih terdiam.


"Kau ingin aku menjauh dari wanita lain? Apa kau bisa memberi aku kenikmatan yang bisa mereka berikan?"


Mulutku secara spontan mengucapkan itu semua. Sedikit perasaan bersalah menyelinap masuk ke dalam hatiku saat melihat wajah sendu gadis itu. Mentari kembali menunduk tidak menyahut kalimatku. Aku hanya bisa menghela napas pelan merasa menyesal melontarkan kalimat laknat itu. "Ayo, kau masuk ke dalam kamarku dulu. Aku ada urusan," paparku.


Aku merasakan pegangan tangan Mentari pada telapak tanganku semakin erat. Aku menoleh dan menatap Mentari bertanya. "A-aku … takut di kamar Kakak, menyeramkan," cicit Mentari. Aku lupa, jika gadis ini sangat penakut. Dia memang takut berada di kamarku yang berada di sini.

__ADS_1


__ADS_2