Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
46. Darah yang sama


__ADS_3

"Di mana bedebah itu?" tanya Gieno.


"Di dapur, dia sedang bertempur dengan putri kandungnya sendiri. Memang si brengsek tidak ada otak, seperti tidak ada wanita lain saja," papar Rangga tidak habis pikir.


Gieno tersenyum miring mendengar kalimat Rangga. "Arahnya?" tanya Gieno.


"Dari sofa kau terus lurus, kau akan menemukan sebuah jalan di sebelah kanan. Setelahnya kau akan menemukan pemandangan hot," tuntun Rangga.


Gieno berjalan mengikuti arahan dari Rangga. Baru saja sampai ke bagian lorong, dia sudah mendengar raungan kenikmatan dari dua suara yang berbeda. Mendengar itu Gieno menjilat bibirnya sambil menyeringai.


Sedangkan di sebuah meja luas di area dapur, seorang wanita sedang berbaring melenguh kenikmatan dengan tubuh tanpa sehelai benang pun. Dia sedang terbuai kenikmatan karena menerima hantaman buas dari benda panjang itu. Dua orang manusia berbeda generasi itu saling menyatu tanpa memikirkan status dan darah yang sama mengalir di tubuh mereka.


Puk …. "Aakhh …." Aksi panas sepasang manusia itu terhenti saat dengan tiba-tiba seseorang melemparkan sesuatu ke atas kepada Tanuta.


"Bangsat!" Tanuta mengumpat saat merasakan kepalanya dipenuhi saos dan benda lainnya. Laki-laki itu menoleh dan mendapati seorang laki-laki pakai masker hitam dan berseragam pizza. Itu adalah Gieno, laki-laki sedang berdiri tidak jauh dari sana dengan tangan masuk ke dalam saku celana.

__ADS_1


"Berani sekali kau bangsat!" murka Tanuta. Laki-laki paruh baya itu melepas penyatuannya dengan sang putri dan menatap tajam ke arah Gieno.


Sedangkan Iraya, wanita yang merupakan putri dari Tanuta sudah mendengus kesal saat merasakan kenikmatannya terganggu. Iraya ikut menatap Gieno dengan pandangan tajam, begitu tidak suka. "Siapa dia, Pa? Kenapa bisa masuk dan berbuat kurang ajar seperti ini?"


"Tanuta Wijaya, kau benar-benar binatang ternyata. Apakah kau kekurangan wanita, sampai anak perempuanmu sendiri kau masuki? Dan anehnya anak perempuanmu ini malah begitu menikmatinya,. Terlihat sekali kau tadi kesal karena orgasmemu tertunda karena kedatanganku, bukan?" Gieno bersuara sambil menatap Tanuta dan Iraya bergantian.


"Apa kau juga kekurangan laki-laki muda, Nona. Sampai bergaul dengan ayah kandungmu sendiri? Padahal badanmu cukup bagus." Gieno menyambung kalimatnya sambil menatap intens tubuh telanjang Iraya.


"Apa urusanmu, bangsat? Kenapa kau bisa masuk ke sini. Penjaga!" Tanuta berteriak memanggil penjaga keamanan mansionnya.


Tanuta menarik resleting celananya sambil memanggil penjaga mansion. Sedangkan Gieno yang melihat itu sudah terkekeh sinis. "Mereka sedang sibuk," ucap Gieno santai.


"Penjaga! Penjaga! Ke mana perginya mereka, tidak becus."


"Sudah aku katakan mereka sedang sibuk, aku memberikan mereka sedikit pelajaran."

__ADS_1


Tanuta menatap tajam Gieno. "Siapa kau bangsat, buka maskermu itu," geram Tanuta.


"Kau ingin melihat wajahku? Baiklah." Setelahnya Gieno membuka topinya, dan secara perlahan membuka masker hitam itu.


Mata Iyara melotot melihat wajah tampan dihadapannya. 'Tampan sekali, ya ampun. Keinginanku untuk bercinta kembali tumbuh, ah … sepertinya aku sudah basah,' batin Iraya.


Gieno menatap Tanuta yang masih menatapnya tajam. Setelahnya laki-laki itu melirik Iraya yang jelas begitu menginginkan sentuhannya. Laki-laki itu tersenyum miring ke arah Iraya yang masih menatapnya memohon. "Berani sekali kau ke sini," geram Tanuta.


"Jelas, karena aku punya kuasa." Gieno bersuara sambil membuka benda yang melekat di lehernya. Benda yang dia gunakan untuk menutupi tato kebanggaannya.


Tepat saat tato itu dibuka dan terpampang jelas. Tanuta dan Iraya melotot terkejut. "Tu-tuan De Larga." Tanuta bergumam sambil menelan salivanya kasar.


Sedangkan Iraya sudah tersenyum senang. 'Jadi dia adalah Tuan De Larga? Ternyata dia memang begitu tampan, ah … sepertinya pas sekali saat ini aku sedang bertelanjang. Dia kan memiliki nafsu yang tinggi, aku ingi sekali disentuhnya,' batin Iraya lagi.


Gieno menghiraukan tatapan terkejut Tanuta. Laki-laki itu lebih memilih mendekat ke arah Iraya yang sedari tadi menatapnya penuh kabut gairah. Gieno menatap wajah Iraya dengan jarak yang begitu dekat. Sedangkan Iraya sudah terdiam kaku dengan perasaan penuh bunga. "Kau ingin aku melanjutkan rasa yang tidak tersampaikan tadi?" bisik Gieno kepada Iraya.

__ADS_1


__ADS_2