Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
16. Kecil


__ADS_3

'Astaga, dia tampan sekali. Dia Tuan De Larga yang sedang terkenal itu kan?' batin Naraya. Wanita itu masih menatap punggung lebar Gieno yang akan segera masuk ke dalam mobil.


'Dia ke rumahku? Aa … ya ampun, aku harus bisa mendekatinya. Aku tidak menyangka kalau dia semenggoda itu,' sambung Naraya membatin.


"Naraya!" Wanita itu terkejut saat mendengar suara Heiki kembali memanggilnya.


"Iya, Pa. Aku ke sana," sahut Naraya.


...*****...


"Buat semuanya seakan tidak disengaja," tutur Gieno.


"Kau yakin? Dia sepupumu," papar Yezo.


"Ck … tidak ada kata sepupu bagiku. Tepat setelah mereka tega memenggal kepala Papaku, saat itu pula hubunganku dengan keluarga Barka terputus. Termasuk dengan wanita itu," ucap Gieno datar.


"Terserahmu," ujar Yezo.


Tring … tring … tring …


Gieno mengernyit kala melihat nama kepala pelayan mansionnya memanggil. "Hemm," deham Gieno.


"Maaf Tuan, Nona Mentari bersikeras ingin menemui keluarganya," ucap kepala palayan.

__ADS_1


"Baiklah, saya pulang," sahut Gieno.


"Ada apa?" tanya Petrik.


"Tidak, aku pulang. Nanti malam ke gudang senjata, kita butuh percobaan." Setelah mengucapkan itu, Gieno pergi begitu saja meninggalkan lima temannya.


.


.


.


"Tolonglah Bu, aku harus memberi tahu keluargaku. Mereka pasti khawatir dengan keberadaanku, sudah satu minggu aku bahkan tidak mengabari mereka," lirih Mentari.


"Aku yakin bapak sudah jatuh sakit sekarang, beliau tidak boleh banyak beban pikiran. Untuk melapor ke polisi pun mereka pasti tidak punya biaya," ucap Mentari sendu.


Kepala pelayan itu menatap Mentari iba. "Sebaiknya Nona sendiri yang meminta kepada Tuan, bicaralah baik-baik. Tuan De Larga sebenarnya orang baik, hanya saja sikap egois dan kerasnya membuat dia menjadi begitu menakutkan. Jika kita mengikuti apa keinginannya, dia akan bersikap lunak. Saya sudah meneleponnya, dia akan sudah dijalan," kata kepala pelayan.


Mentari terdiam mendengar perkataan itu, perasaan takut dan gugup menghampirinya. Dia tidak yakin berani berbicara kepada Gieno nantinya. Bayangan kejadian tadi pagi bahkan masih menghantui isi otaknya. Tiba-tiba wajah gadis itu memerah karena merasa malu. Sudah dua kali gadis itu merasakan berciuman dengan laki-laki yang sama. Namun, ciuman tadi pagi sukses membuat hati Mentari galau sepanjang hari ini.


"Ada apa?" Suara berat itu mengejutkan Mentari yang sedang melamun.


Mentari terlonjak saat melihat wajah Gieno berada begitu dekat dengannya. 'Sejak kapan dia di sini?' batin Mentari terkejut.

__ADS_1


"I-itu, aku …."


Gieno mengernyit saat Mentari tidak menyesaikan kalimatnya. "Apa?" tanya Gieno datar.


"Bolehkah aku menemui keluargaku?" cicit Mentari. Jari tangan gadis itu saling bertautan, wajahnya tertunduk tidak berani menatap wajah datar Gieno.


"Apa aku ada di lantai?" tutur Gieno.


Mentari terkejut, dengan gerakan cepat gadis itu mendongak dan menatap wajah tampan Gieno. Namun, itu hanya bertahan sebentar. Tidak sampai beberapa detik saling bersitatap Mentari menggulir bola matanya supaya tidak menatap wajah Gieno yang mampu membuat jantungnya berdisko. Entahlah, setelah kejadian tadi pagi, gadis itu rasanya tidak mampu berada didekat Gieno lagi.


"Ayo," ajak Gieno.


Mentari terkejut, gadis itu menoleh ke arah Gieno yang sedang menatapnya datar. "Maksud kamu?" tanya Mentari.


"Kau ingin pergi tidak?" tanya Gieno.


"Iya, iya." Mentari menganggukkan kepalanya cepat merasa begitu senang.


"Ya sudah, ayo." Gieno berbalik kemudian pergi ke area luar mansion. Mentari mencoba mengejar langkah lebar laki-laki itu. Namun, jelas saja kaki mungilnya itu tidak akan mampu bersaing.


Gieno berbalik dan berdecak saat melihat jarak Mentari masih sangat jauh. "Cepat!" teriak Gieno.


"Iya, kakiku kan pendek." Mentari menyahut sambil mempercepat langkahnya.

__ADS_1


Sedangkan Gieno yang mendengar itu menatap kaki Mentari dan tersenyum tipis. "Ck, aku baru sadar kalau dia ternyata begitu kecil," gumam Gieno.


__ADS_2