
Cklek …. Mentari baru saja keluar dari kamar mandi sambil bernyanyi kecil. Gadis itu belum menyadari keberadaan Gieno yang sedang menatapnya dengan mata buas sebagai laki-laki normal. Gadis itu keluar hanya memakai handuk untuk menutupi tubuh putihnya itu. Handuk melilit kepada sehingga membuat leher putihnya begitu terekspos.
'Anj***, kenapa dia malah terlihat begitu menggoda? Padahal aku sudah sangat sering melihat wanita telanjang tanpa sehelai benang pun. Ditambah bodi wanita-wanita itu bahkan lebih berisi dari padanya. Apa yang dimiliki gadis ini, bangsat,' umpat Gieno di dalam hati.
Gieno terus memperhatikan pergerakan Mentari yang masih belum menyadari keberadaanny. Gadis itu masih sibuk dengan skincare di wajahnya. Tepat saat gadis itu membalikkan badannya, Mentari terlonjak dan terjatuh karena terlalu terkejut. "Astaga, punggungku," gumam Mentari.
Mata tajam Gieno yang sedari memperhatikan Mentari sukses membuat Mentari terkejut tanpa batas. Gadis itu menoleh ke arah Gieno yang mulai mendekat. 'Matanya kenapa begitu tajam? Aku serasa dipandangi setan, entah lebih horor lagi,' batin Mentari.
Gieno menatap Mentari yang masih tertidur di lantai ruangan itu. Setelahnya laki-laki itu menarik tubuh Mentari ke dalam gendongannya. Mentari terkejut saat tangan hangat Gieno bersentuhan dengan kulitnya secara langsung. Mata Mentari membola kala baru menyadari dirinya masih memakai handuk. "Akkhhh …."
Gieno meringis saat teriakan Mentari sukses membuat telinganya berdencing keras. Bruk …. Tanpa perasaan laki-laki itu mengehempaskan tubuh Mentari ke atas ranjang, sama seperti kala itu. Namun, kali ini Mentari dengan cepat masuk ke dalam selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Benar-benar serasa dejavu, saat ini Mentari menatap wajah Gieno dengan tubuh terlilit selimut.
"Dari kapan Kakak di sini?" tanya Mentari pelan.
"Saat kau mandi," sahut Gieno jujur.
__ADS_1
Mata bulat Mentari melotot terkejut. "Ja-jadi dari tadi, kenapa Kakak diam saja," cicit Mentari.
Gieno menaikkan sebelah alisnya, setelahnya laki-laki itu mendekat dan kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang Mentari. Mentari menunduk menatap wajah tampan Gieno yang sedang memejamkan matanya. 'Tampannya, ya Tuhan,' batin Mentari berteriak.
"Kau ingin pakai baju atau ingin tetap seperti itu?" Suara dingin Gieno mengejutkan Mentari dari keterpesonaannya.
"Pa-pakai baju, tapi … kenapa Kakak ke sini? Bukannya Kakak sedang … anu, itu." Mentari berucap bingung.
Gieno membuka matanya dan menatap Mentari sambil menyeringai. "Apa?" tanya Gieno.
Glek …. Mentari menelan salivanya melihat senyum mengerikan Gieno. "Eh, tidak ada," sahut Mentari gugup.
"Hah? Tidak!" teriak Mentari tanpa sadar. "Eh, maaf … maksudku, tidak. Aku ingin memakai baju dulu, permisi."
Setelah mengatakan itu, Mentari bergerak cepat ke arah walk in closet dengan tubuh berbalit selimut. Sedangkan Gieno yang melihat kepergian Mentari sudah tersenyum miring. "Kau tidak akan pernah bisa keluar dari sini. Sesuatu yang sudah aku inginkan, harus aku dapatkan," desis Gieno licik.
__ADS_1
...*****...
Mentari tidur kaku tidak berani bergerak. Tubuhnya saat ini sedang dipeluk begitu erat oleh Gieno. 'Bagaimana ini? Tubuhku rasanya ingin patah,' batin Mentari mengeluh.
Dengan sedikit keberanian Mentari menggerakkan tubuhnya mencoba melepaskan penat tulang punggungnya. Namun, ternyata pergerakan kecil itu berhasil membangunkan sang iblis. Mata Gieno perlahan terbuka membuat Mentari menelan salivanya pelan. 'Aku membangunkannya,' batin Mentari.
"Jam berapa?" tanya Gieno.
Mentari mendongak menatap wajah Gieno seakan ingin protes. Namun, gadis itu malah memberikan senyum paksa. "Aku tidak tahu, Kak. Tubuhku terlilit," kata Mentari.
Gieno menunduk dan baru menyadari dia sedang memeluk erat tubuh gadis itu. "Kau ingin aku lepas?" tanya Gieno.
"Tentu saja, Kak. Badanku sudah kaku," sahut Mentari.
"Cium aku," papar Gieno.
__ADS_1
Mata Mentari melotot, setelahnya gadis itu menggerutu tidak jelas. "Kau yang mencium, atau aku?" tanya Gieno.
"Aku," sahut Mentari cepat tanpa sadar. Gieno tersenyum miring melihat wajah malu Mentari.