
Gieno menatap dingin wajah pucat Tuan Liam. "Ingin dimulai sekarang penghitungan nyawanya?" tutur Gieno datar.
"Ma-maafkan saya Tuan, silakan Tuan ambil barang itu. Aku meletakkannya di belakang lemari," ucap Tuan Liam ketakutan.
"Mencoba bernegosiasi?" papar Gieno.
"Sa-saya sebenarnya hanya ingin lebih mengenal Anda Tuan De Larga," timpal Tuan Liam.
Gieno tersenyum miring. "Sayangnya saya tidak ingin mengenalmu," sahut Gieno dingin.
Pats …. "Akkkhh …." Gieno menarik kasar pisau kecil yang bersarang di betis Tuan Liam. Hal itu tentu saja membuat Tuan Liam menjerit kesakitan. Darah mengucur dari bekas pisau kecil itu. Tuan Liam terus merintih kesakitan.
"Saya rasa kau tahu siapa dan bagaimana saya. Saya bukan orang yang akan menerima sebuah negosiasi," bisik Gieno.
__ADS_1
Pats …. "Akkhhh …." Tuan Liam kembali berteriak kala Gieno menancapkan pisau kecil tadi ke area yang berbeda.
"To-tolong maafkan saya Tuan," pinta Tuan Liam memohon.
"Bukannya kau punya banyak nyawa? Setelah kau mati nanti, cari aku lagi," ucap Gieno santai.
Pats …. Untuk ke sekian kalinya Gieno menusuk kaki Tuan Liam yang sudah berteriak kesakitan. Gieno bak iblis yang terus menyiksa korbannya. Tuan Liam tak mampu berteriak, hanya rintihan kekasitan yang keluar dari mulutnya. Kaki Tuan Liam hancur sebab Gieno terus menusuk tanpa ampun.
Gieno mengambil sebuah benda yang menjadi tujuannya datang ke sini. Sekotak kecil peluru beracun, Gieno tersenyum miring melihat itu. "Sebentar lagi, De Larga akan menghasilkan ini," gumam Gieno.
Gieno mendekat ke arah Tuan Liam yang masih merintih. Ternyata laki-laki itu masih hidup, sungguh tersiksa sekali bukan? Gieno yang melihat itu tersenyum miring. "Ingin saya bantu?" tutur Gieno.
Setelahnya laki-laki itu menarik kerah baju Tuan Liam dan menyeretnya di lantai kasar itu. Tuan Liam yang sudah tak mampu menjerit hanya bisa terus merintih kala daging kakinya mulai terseret dan tertinggal. Gieno memasukkan tubuh Tuan Liam ke dalam mobil yang sempat membawanya ke sini. "Secepatnya penderitaanmu akan berakhir," ucap Gieno.
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu, laki-laki iblis itu berjalan santai menjauhi mobil. "Yezo, musnahkan," titah Gieno.
"Oke," sahut Yezo.
Duar …. Tidak sampai satu menit setelah perintah itu. Mobil yang diduduki oleh Tuan Liam meledak. Gieno tersenyum miring sambil memacu langkahnya ke arah jalan utama. "Misi selesai."
...*****...
Gieno yang baru saja selesai membersihkan tubuhnya berjalan ke arah kamar Mentari. Setelah misi tengah malam Zero selesai, laki-laki itu langsung kembali ke mansionnya. Secara perlahan Gieno membuka pintu kamar itu. Dia melihat seorang gadis sedang terlelap begitu nyenyak di atas ranjang.
Gieno mendekat dan memperhatikan wajah Mentari. "Entah kau memiliki apa, sehingga membuat aku ingin mengurungmu di sini," gumam Gieno.
Setelahnya laki-laki itu menaiki ranjang itu dan ikut membaringkan tubuhnya di sana. Gieno memeluk tubuh Mentari dan menghirup aroma lembut dari rambut gadis itu. Perlahan Gieno menutup mata tajamnya dan menyusul Mentari ke alam mimpi.
__ADS_1