Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
70. Minuman Dingin


__ADS_3

"Ayo pulang." Gieno akhirnya menghiraukan pertanyaan Naraya dan mengajak Mentari untuk pulang.


"Bukannya kita akan makan dulu?" sela Naraya cepat.


Gieno menunduk mendengar perkataan Naraya. "Kau makanlah, aku pesankan. Aku akan membawanya pulang," tutur Gieno.


Mata Naraya melotot mendengar perkataan Gieno. "Mana bisa begitu, masa aku makan sendiri?" protes Naraya.


"Ya sudah, kau ajak saja temanmu," balas Gieno santai.


Naraya kembali melotot mendengar jawaban santai laki-laki itu. Naraya menatap tajam Mentari yang juga sedang menatapnya santai. "Ayo." Gieno meraih tangan Mentari berniat membawa gadis itu pulang.


Namun, langkah kaki Gieno terurungkan saat mendengar suara sorakan yang berasa dari perut Mentari. Gieno menoleh dan menatap wajah Mentari yang saat ini sudah memerah karena malu. "Kau belum makan?" selidik Gieno.


Mentari menggeleng pelan dengan kepala menunduk merasa malu sendiri. Gieno yang mendengar itu menatap tajam ke arah dua laki-laki di belakang Mentari. "Ka-kami sudah menawarkan Nona Mentari untuk makan siang tadi, Ketua. Tapi Nona Mentari menolak dengan alasan ingin cepat menemukan bukunya. Nona Mentari sudah di sini sedari lima jam yang lalu," jelas salah satu dari laki-laki itu.


Gieno menatap Mentari yang masih menunduk. "Kenapa tidak makan?" tanya Gieno.


"Aku ingin cepat menemukan buku itu, terus langsung pulang ke mansion," sahut Mentari jujur.

__ADS_1


"Memangnya buku apa yang kau cari?" tanya Gieno lagi.


"Bisnis umum jilid baru, tapi aku tidak menemukannya di sini. Bahkan ini sudah toko terakhir, mereka juga sudah membantu mencari," terang Mentari.


Gieno menghela napas berat mendengar perkataan Mentari. "Lain kali ingin apa-apa katakan kepadaku. Bukannya sudah aku ingatkan itu?" cetus Gieno.


Naraya yang mendengar perkataan Gieno sangat terkejut. 'Siapa sebenarnya perempuan ini? Kenapa Kak Gieno seperti begitu memanjakannya? Bahkan perempuan ini memiliki nomor kontak pribadi Kak Gieno,' batin Naraya kesal.


"Aku ingin sekalian jalan-jalan, aku bosan di mansion terus," ungkap Mentari pelan.


Gieno terdiam mendengar perkatan Mentari. "Lain kali katakan kepadaku, biar kau berjalan keluar itu bersamaku. Kau terlalu polos untuk berkeliaran sendiri," papar Gieno.


"Tapi, aku tidak sendiri. Itu, mereka kan Kakak yang suruh." Mentari menunjuk dua laki-laki di belakangnya.


"Aku ikut ya, Kak," ucap Naraya tidak ingin tertinggal.


Gieno menoleh singkat ke arah Naraya. "Hem," deham Gieno.


Mentari menatap Naraya dengan pandangan malas. 'Kenapa juga dia ingin ikut?' batin Mentari kesal.

__ADS_1


Sedangkan Naraya juga sedang menatap Mentari dengan pandangan sinis. 'Dia pikir dia bisa mengambil alih Kak Gieno? Heh, jelas aku jauh lebih cantik dari pada dia,' batin Naraya sinis.


Gieno duduk disebuah kursi di dalam kafe itu. Mentari yang berniat duduk di samping Gieno terkejut saat dengan tiba,-tiba kursi itu lebih dulu diduduki oleh Naraya. Mentari mematap kesal ke arah Naraya yang saat ini sedang tersenyum remeh ke arahnya. 'Ck, Tante-tante ini,' ucap Mentari di dalam hati.


"Duduklah." Suara Gieno mengalihkan perhatian Mentari yang masih diam berdiri.


Mentari menghela napas kesal, setelahnya gadis itu memilih tempat duduk di depan Gieno. "Kau ingin pesan apa?" Gieno bertanya sambil menatap wajah Mentari.


"Aku pesan chees cake dan coklat dingin," papar Naraya cepat.


Mentari menatap wajah Naraya dengan pandangan tidak percaya. 'Astaga, tidak tahu malu sekali. Padahal jelas Kak Gieno sedang bertanya kepadaku,' batin Mentari tidak habis pikir.


Gieno melirik Naraya sekilas, setelahnya laki-laki itu kembali menatap Mentari. "Tari." Suara Gieno kembali menyadarkan Mentari.


"Aku nasi goreng seafood dan es buah, Kak," sahut Mentari.


"Minuman ganti," tutur Gieno.


Mentari menatap Gieno dengan pandangan bingung. Sedangkan Gieno yang melihat mata bulat gadis itu sudah menggeram di dalam hati. Laki-laki itu sedang menahan rasa gemasnya yang begitu ingin menyerang gadis dihadapannya itu. "Maksud Kakak?" tanya Mentari.

__ADS_1


"Hari panas, tidak bagus minum dingin. Nanti kau demam, ganti yang lain," jelas Gieno.


Mendengar itu, Naraya kembali dibuat terkejut dan kesal. 'Padahal aku juga memesan minuman dingin. Kenapa dia tidak melarangku?' batin Naraya kesal.


__ADS_2