Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
15. Kepala


__ADS_3

Brak …. Gieno menendang kasar pintu utama kediaman Barka, sehingga membuat pintu itu rusak. Sedangkan Abraham dan Heiki yang sedang bermusyawarah untuk mengembalikan kondisi perusahaan mereka sudah terlonjak kaget. Sepasang ayah dan anak itu berdiri dari duduknya dengan wajah penasaran. Baru saja mereka akan melangkah, sekumpulan laki-laki mampu membuat mereka terkejut. Gieno yang melihat wajah terkejut mereka sudah tersenyum miring.


"Siapa kalian? Kenapa tidak sopan sekali bertamu ke rumah orang?" geram Abraham.


Tidak ada satu pun di antara mereka yang menyahut perkataan pria tua itu. Gieno terus berjalan gagah ke arah sofa dan duduk di sana dengan mengangkat satu kakinya angkuh. Niat Abraham dan Heiki yang ingin memaki Gieno terhenti kala mereka melihat tato berukira De Larga di leher kanan laki-laki itu. Sepasang ayah dan anak itu menelan salivanya kasar melihat itu. "Ka-kau, Tuan De Larga, pemilik De Larga Company dan … pemimpin Zero?" cicit Heiki.


Gieno tersenyum miring. "Pintar," sahut Gieno dingin.


"Ada keperluan apa Anda ke sini? Dan … kenapa Anda membuat perusahaan kami menjadi berantakan?" tanya Heiki lagi.


"Karena aku ingin saja," sahut Gieno datar.


Abraham dan Heiki mengepalkan tangannya marah. "Apa maksud Anda?" geram Abraham.


Gieno menatap datar Abraham yang sudah terkesiap ditempatnya. 'Mata itu?' batin Abraham terkejut.


"Aku hanya sedang rindu melihat suasana rumah yang membentu jati diriku," ucap Gieno.

__ADS_1


Abraham dan Hieki terkejut mendengar perkataan Gieno. "Aku juga rindu dengan dua laki-laki, yang membuat aku menjadi seorang iblis gila darah," sambung Gieno.


Deg …. Abraham dan Heiki kembali teekejut. Wajah mereka memucat merasa begitu terkejut. "Ka-kau?" tutur Abraham tergagap.


Gieno menoleh dan menatap Abraham dingin. "Ya, aku adalah Gieno De Larga. Cucu kesayanganmu, Kakek." Gieno menekan kata kesayangan di dalam kalimatnya.


Abraham dan Heiki kembali melotot, mereka tidak percaya kalau laki-laki dihadapan mereka saat ini adalah bocah kecil yang dulunya masih mengerang minta ampun di bawah kaki mereka. "Tidak mungkin," ucap Heiki.


Gieno tersenyum miring. "Apa yang tidak mungkin, Paman? Apa kau tidak merindukan aku?" tanya Gieno.


"Kau, tidak mungkin mau masih hidup," ujar Heiki.


"Kalian pikir aku akan lupa begitu saja tentang kejadian tujuh belas tahun yang lalu. Tepat saat kepala mendiang Papaku kau buat berpisah dari tubuhnya," sambung Gieno.


Glek …. Abraham dan Heiki menelan salivanya susah payah kala mendengar suara rendah dari Gieno. "Bukankah seharusnya kalian senang dan bangga, sebab kalian berhasil membangkitkan kegilaan iblis di dalam diriku. Aku bisa seperti ini sekarang, itu karena ulah kalian," bisik Gieno.


"Aku lupa, setelah dua belas tahun kita tidak bertemu. Aku … ada hadiah untuk kalian," tutur Gieno.

__ADS_1


"Aaaaa …." Berselang beberapa detik setelah Gieno menyelesaikan kalimatnya. Abraham dan Heiki dikejutkan oleh teriakan Nayry, istri Heiki.


Abraham dan Heiki dengan segera berlari ke arah sumber suara. Mereka dapat melihat Nayry sedang duduk di lantai di depan pintu utama sambil menutup matanya takut. "Ada apa, Sayang?" tanya Heiki.


"I-itu, Mas." Nayry menujuk sebuah kotak besar di dekat kaki Nayry.


"Paket siapa ini?" tanya Abraham.


"Biar aku buka, Pa," tutur Heiki. Setelahnya laki-laki itu menyibak penutup bagian atas kotak besar itu.


Duar …. Heiki dan Abraham terlonjak kala kepala Andreas menyapa mata mereka. Ya, isi dari kotak besar itu adalah kepala Andreas yang masih mengeluarkan darah segar. Heiki dan Abraham menahan mual dan mencoba untuk tidak muntah. "Bagaimana? Suka dengan hadiahku?"


Suara Gieno mengejutkan Abraham dan juga Heiki. Sepasang ayah dan anak itu menatap takut ke arah Gieno yang sedang tersenyum miring. "Tenang saja, untuk saat ini aku belum berniat untuk membuat kalian menyusulnya. Aku rasa melakukan sedikit permainan tidak masalah bukan?" sambung Gieno.


Dari kejauhan Gieno melihat seorang wanita cantik yang baru saja keluar dari mobilnya. Sangat terlihat mata berbinar wanita itu saat menatap wajah tampannya. Gieno tersenyum licik. "Anak perempuan Paman, cantik juga." Setelah mengucapkan itu Gieno pergi dari sana meninggalkan perasaan was-was seorang ayah untuk anak gadisnya.


"Naraya! Ke sini!" teriak Heiki memanggil anaknya.

__ADS_1


Sedangkan Naraya masih saja menatap kagum wajah tampan Gieno yang sudah mendekat ke arahnya. Gieno tersenyum miring kala melirik wajah merah milik Naraya. 'Ini akan lebih menarik,' batin Gieno licik.


__ADS_2