
Gieno berjalan dengan wajah dinginnya disepanjang koridor rumah sakit. Semua mata mencuri pandang ke arah laki-laki tampan itu. Meski terlihat begitu mengerikan, tetap tidak menutup kenyataan bahwa wajah Gieno tidak dapat mereka tolak.
Cklek …. Gieno membuka pintu kamar inap Mentari tanpa mengetuk terlebih dahulu. Laki-laki dingin itu menangkap mata indah Mentari sedang menatap ke arahnya. Gieno berjalan mendekat dan menunduk menatap wajah lebam Mentari intens. "Hai, Kak." Mentari menyapa Gieno lembut dengan senyum manisnya seperti biasa.
Entah kenapa, dapat melihat senyum itu lagi membuat hati Gieno menghangat. Laki-laki itu melirik ke arah Yezo yang juga sedang menatapnya. "Kenapa kau berteriak?" tanya Gieno datar.
Kedua alih Yezo bersatu, tetapi beberapa detik kemudian laki-laki itu tersenyum miring. "Kenapa? Kau panik?" goda Yezo.
Gieno tidak menghiraukan perkataan Yezo. Laki-laki itu lebih memilih duduk di samping Mentari dan kembali menatap wajah gadis itu intens. Sedangkan Mentari yang ditatap sedemikian rupa, merasa begitu gugup. "Karena kau sudah di sini, aku ingin pergi. Sepertinya Melvin dan Rangga membutuhkan aku." Yezo berdiri dari duduknya.
Yezo menyempatkan menoleh ke arah Mentari dan tersenyum kepada gadis itu. "Aku pergi, ya. Baik-baik kamu dengannya, jangan sampai diterkam," peringat Yezo.
Gieno menatap datar wajah Yezo yang sedang tersenyum mengejek ke arah dirinya. Setelah kepergian Yezo, keadaan terasa semakin canggung. Mentari tidak tahu harus bagaimana, belum lagi tatapan Gieno yang sedari tadi tidak lepas memandangnya. "Kak, bisa ambilkan aku air?" ucap Mentari pelan.
__ADS_1
Gieno tidak menyahut, tetapi laki-laki itu mengikuti keinginan Mentari. Gieno menyodorkan sebuah gelas kepada Mentari. Dengan kesulitan, Mentari mencoba meraih gelan itu dengan tangan lemah yang bergetar. Sedangkan Gieno yang menyadari itu, menarik kembali gelas itu. Setelahnya Gieno memperhatikan meja dan menangkap sebuah sedotan di sana.
Terlihat begitu lembut, Gieno menyodorkan ujung sedotan ke dalam mulut Mentari. "Terima kasih, Kak." Mentari tersenyum kepada Gieno yang hanya diam tanpa menyahut.
"Kau ingin aku apakan laki-laki itu?" tanya Gieno tiba-tiba.
"Hah?" Kening Mentari berkerut menandakan kebingungan.
"Januar, laki-laki yang membuatmu berada di sini. Akan aku apakan laki-laki itu?" jelas Gieno.
Mengingat kejadian kala itu, jelas membuat Mentari merasa takut. Bayangan perlakuan kasar Januar kepadanya masih terlintas jelas di dalam otaknya. Tiba-tiba air mata gadis itu meleleh membasahi pipi pucat Mentari. Gieno yang melihat itu terkejut, laki-laki itu menatap Mentari intens. "Ada apa? Apa ada yang sakit?" tanya Gieno.
Meski masih terdengar begitu datar, tetapi Mentari dapat menangkap aura kekhawatiran di dalam diri Gieno. Mentari mendongak dan menggeleng pelan. Melihat itu kening Gieno berkerut bingung. "Terus kenapa kau menangis?" tanya Gieno.
__ADS_1
"Aku hanya merasa kotor, aku … sudah tidak suci lagi," lirih Mentari. Air mata yang mengalir deras dari sumbernya bisa menjadi sebuah buktu rasa sakit di dalam hati Mentari.
"Aku sudah kotor, Kak. Aku kotor." Gieno berdiri menatap Mentari yang mulai histeris.
Laki-laki itu memencet sebuah tombol di dekat ranjang guna memanggil para tenaga medis. "Tenanglah, kau tidak kotor. Dia belum melakukan apa-apa," tutur Gieno mencoba membujuk.
"Tidak, dia sudah menyentuhku. Bibirku, tubuhku, dia sudah menjamah dan melihat semuanya. Aku gadis kotor, aku kotor …." Tangan Gieno mengepal kuat mendengar jeritan pilu dari gadis dihadapannya. Rahangnya mengeras pertanda emosi mengambil alih raganya.
Cklek …. Para tenaga medis datang dengan terburu-buru. "Mohon tunggu di luar dulu, Tuan," ucap seorang perawat.
Gieno menatap wajah pucat Mentari sejenak, setelahnya laki-laki itu keluar dari ruangan itu. Bught …. Gieno memukul dinding rumah sakit dengan emosi memuncak. Entah kenapa perasaannya terasa begitu sakit dan tidak terima melihat keadaan Mentari yang seperti itu. "Brengsek!" teriak Gieno.
Langkah kaki bersahutan menggema di lorong rumah sakit. Para inti Zero datang mendekat ke arah Gieno yang tanpa mulai kehilangan kesabaran. "No," panggil Yezo. Napas Gieno memburu merasakan sesak di dalam hatinya.
__ADS_1
Cklek …. Pintu ruangan terbuka memperlihatkan para tenaga medis. Yezo mendekat dan mulai bertanya. "Bagaimana, Dok?" tanya Yezo.
"Pasien sepertinya mengalami trauma, psikisnya terguncang akibat kejadian yang pernah diterima fisiknya tetapi tidak diterima oleh batinnya. Saya sudah memberikan suntik penenang, ke depannya cobalah untuk tidak mengungkit hal yang berhubungan dengan rasa takut dan rasa sakit pasien," jelas dokter.