
Cklek …
“Aku bilang jangan ganggu aku!” teriak Gieno.
Laki-laki itu saat ini sedang mengurung dirinya di dalam kamar Mentari. Dia bahkan tidak bersedia ikut untuk menghadiri pemakaman Mentari. Setelah dinyatakan meninggal, Gieno pergi begitu saja dan mengurung dirinya di dalam kamar.
Ini sudah hari ketiga laki-laki itu mengurung diri. Selama itu, Gieno tidak keluar dari dalam kamar itu. Keadaan laki-laki itu sangat memprihatinkan. Wajah pucat karena sudah tiga hari tidak makan. Iblis gila itu nampak seperti mayat hidup.
Sekadar untuk mendengarkan orang berbicara saja dia enggan. Tidak ada siapa pun yang dia izinkan untuk masuk ke dalam kamar itu. Gieno beralasan kebersamaannya bersama Mentari tidak boleh diganggu. Sungguh kepergian Mentari menghasilkan pengaruh yang sangat besar bagi Gieno.
Gieno nampak berdiri tanpa baju di depan dinding kaca yang sering ditunggui oleh Mentari. Entah sudah berapa lama laki-laki itu berdiri di sana. Yang jelas saat ini punggung kekar nan putih itu nampak begitu rapuh dengan keadaannya.
Grep …
Tiba-tiba seseorang memeluk tubuh Gieno dari belakang. Jelas saja hal itu membuat Gieno marah besar. “Lepaskan bangsat!” murka Gieno.
Laki-laki itu membalikkan tubuhnya dan menatap tajam orang yang baru saja memelukknya. Namun, beberapa detik kemudian mata laki-laki itu melotot melihat wajah gadis di depannya. Merasa tidak percaya dengan pandangannya, Gieno menggosok kedua matanya.
__ADS_1
“Tidak, sepertinya aku sedang berkhayal. Aku sepertinya terlalu pusing karena tidak makan tiga hari,” gumam Gieno seperti orang bodoh.
“Jadi benar Kakak tidak makan tiga hari? Apa Kakak ingin ke neraka?”
Gieno terlonjak saat sosok gadis di depannya itu berteriak marah. Bahkan Gieno juga terpana dengan mata bulat yang saat ini sedang melotot ke arahnya. Laki-lakii itu menggelengkan kepalanya mencoba menyaadarkan dirinya sendiri. Nampaknya laki-laki itu masih berpikir jika sosok dihadapannya adalah angan semata.
“Kenapa diam? Benar ingin ke neraka dan meninggalkan aku di sini sendiri?” sambung gadis itu.
Glek …
“Apa sih, Kak?” ucap gadis itu.
Mata Gieno melotot sempurna, laki-laki itu menatap gadis di depannya dengan pandangan tidak percaya. “Lux?” panggil Gieno ragu.
“Iya, ini aku,” sahut Mentari.
Ya, gadis yang saat ini sedang berada di depan Gieno adalah Mentari. Gadis yang masuk dan langsung memeluk tubuh Gieno. Gadis yang sukses membuat Gieno seperti orang gila bahkan selama enam bulan ini.
__ADS_1
“Ka-kamu benar-benar Lux? Bukan roh kan?” tanya Gieno dengan wajah bodohnya.
Mata bulat Mentari melotot menatap Gieno. “Jadi Kakak mendoakan aku mati?” gerutu Mentari kesal.
Gieno menggelengkan kepalanya cepat mendengar suara Mentari yang jelas terasa nyata. “Jadi aku tidak berkhayal kan?” tanya Gieno lagi.
Mentari menghela napas pelan mendengar kalimat Gieno. “Tidak, Kak. Ini aku, Mentari. Lux-nya Kakak,” ucap Mentari mencoba meyakinkan Gieno.
Grep …
Tanpa banyak bicara lagi, Gieno langsung menyerang tubuh Mentari dengan pelukan hangat. Bahkan Gieno mengangkat tubuh kecil gadis itu dan menciumi seluruh wajah Mentari. Gieno nampak begitu bahagia dan haru dalam bersamaan.
“Bagaimana bisa? Waktu itu aku ….”
“Kakak langung pergi, padahal aku sudah memanggil Kakak,” sela Mentari.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Gieno tidak paham. Laki-laki itu dengan jelas melihat tubuh Mentari ditutup dengan kain putih rumah sakit. Setelah itu dia memang langsung pergi begitu saja karena tidak sanggup dengan sakit di dadanya.
__ADS_1