Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
132. Ditarik


__ADS_3

“Lepaskan aku! Lepaskan ….” Heiki berteriak sambil memberontak saat tubuhnya ditarik paksa oleh dua laki-laki bertubuh kekar. Siapa lagi kalau bukan anggota dari Zero.


Bukan hanya dia yang ditarik paksa oleh sekumpulan anggota Zero. Namun, Nairy dan Abraham pun juga diseret paksa. Hanya saja dua manusia itu hanya diam tidak memberontak seperti yang dilakukan oleh Heiki.


Nairy diam sebab wanita paruh baya itu seakan sudah tidak ada tenaga dan semangat hidup. Berbeda dengan Abraham yang sadar diri dengan kekuatannya. Percuma jika harus memberontak, hanya akan melelahkan diri sendiri.


“Diamlah,” bentak seorang laki-laki kepada Heiki.


“Lepaskan kami, kalian tidak tahu siapa kami?” teriak Heiki.


“Kalian adalah calon mayat selanjutnya untuk markas Zero,” sahut laki-laki itu sinis.


Mendengar itu, rasa takut Heiki tiba-tiba muncul saat membayangkan hal yang mengerikan. Laki-laki paruh baya itu secara spontan terdiam dengan wajah pucat. Begitu pula dengan Abraham dan Nairy yang ikut merasa takut.


“Mungkin tidak apa-apa, kita bisa menyusul Naraya. Kasihan dia sendirian di sana,” ungkap Nairy lemah.


Jelas saja kalimat wanita paruh baya itu membuat tekejut Heiki dan Abraham. Mereka menoleh dan menatap Nairy dengan pandangan tidak dapat diartikan. Mereka paham dan tahu bagaimana frustasinya Nairy dengan kematian Naraya, putri tunggalnya.


...*****...


“Mereka sudah kami bawa ke lapangan belakang, Ketua.” Perhatian Gieno teralihkan saat suara seseorang menggema di indera pendengarannya.


Laki-laki tampan nan kejam itu menoleh dengan pandangan dinginnya. “Semua sudah disiapkan?” tanya Gieno.


“Sudah, Ketua. Sesuai dengan perintah dari, Ketua,” balas laki-laki itu.

__ADS_1


Gieno menyeringai iblis mendengar itu. “Bagus, inti lain sudah di sana?” tanya Gieno lagi.


“Sedang dalam perjalanan, Ketua,” balas laki-laki itu lagi.


Tanpa banyak bicara lagi, Gieno berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan itu. Wajah laki-laki itu nampak sangat menyeramkan. Rahangnya semakin mengeras saat membayangkan hal menyenangkan apa yang akan dia lakukan kepada tiga manusia itu.


.


.


.


Tap … Tap … Tap …


Aura dingin Gieno membuat tiga manusia itu merinding ketakutan. Mereka bahkan nampak kesulitan hanya untuk menelan air liur masing-masing. Aura gelap yang keluar dari tubuh Gieno mampu menekan mereka secara tidak langsung.


Gieno berdiri tidak jauh dari tempat tiga manusia itu. Gieno menatap mereka satu per satu dengan wajah dinginnya. Beberapa detik kemudian Gieno semakin mendekat sambil menyeringai iblis. “Aku ucapkan selamat datang di markas Zero. Bagaimana, apa kalian akan betah di sini?” papar Gieno datar.


Tiga manusia itu tidak menyahut kalimat Gieno. Mereka hanya diam dengan perasaan takut dan ngeri di dalam hati dan benak mereka masing-masing. Melihat kediaman mereka, Gieno terkekeh kecil terdengar begitu mengerikan.


Secara perlahan Gieno mendekat ke arah Nairy dan menatap wanita paruh baya itu dengan panjangan dinginnya. “Hai, Bibi. Sudah lama aku tidak memanggilmu dengan panggilan itu, ya. Apa Bibi masih ingat dengan sosok Gieno De Larga sekitar lima belas tahun yang lalu? Juga tentang semua hal yang pernah kita lakukan, apa masih ingat, Bibi?” tutur Gieno dingin.


Nairy diam, wanita paruh baya itu jelas ingat bagaimana perlakuan kejamnya kepada Gieno kecil dulu. Heiki dan Abraham ikut terdiam tidak mampu mengingat kejadian lima belas tahun yang lalu. Untuk kesekian kalinya Gieno tertawa jahat melihat kediam mereka.


“Pasti masih ingat, ya? Begitu pula dengan Paman dan Kakek-ku tersayang,” sambung Gieno.

__ADS_1


Gieno membalikkan tubuhnya dan menjauh sekitar tiga langkah dari tiga manusia itu. “Aku masih baik kan? Meletakkan kalian di atas kursi seperti ini,” papar Gieno.


Memang saat ini, Heiki, Nairy dan Abraham sedang duduk di atas kursi dengan keadaan tubuh terikat. “Tapi bagaimana dengan pemakaman sepupu tersayangku? Apa berjalan dengan lancar?” lanjut Gieno.


Mendengar kalimat Gieno yang membawa Naraya, tiga manusia itu menoleh dengan tatapan menajam. Membahas Naraya nampaknya bisa membawa keberanian kepada mereka. Hal itu membuat Gieno senang dan suka merasa tertantang. Terbukti pemimpin Zero itu saat ini sudah tersenyum miring melihat ekspresi mereka.


“Kau laki-laki bangsat! Kau tega melakukan itu kepada Naraya yang merupakan sepupumu sendiri,” murka Heiki.


Gieno menyeringai mendengar kalimat Heiki. “Sepupu? Apa kata keluarga kalian terapkan juga dulu? Tepatnya saat kalian dengan tidak punya hati memenggal kepala Papaku dan menyiksaku yang saat itu masih di bawah berumur,” desis Gieno.


Tiga manusia itu kembali terdiam mendengar kalimat Gieno. Mereka seakan terpukul oleh kata-kata sendiri. “Aku sudah muak harus berbicara dengan kalian. Lebih baik kita mulai saja, tanganku sudah gatal. Ambilkan pisau itu.”


Deg …


Kalimat Gieno jelas saja membuat tiga manusia itu terkejut dan ketakutan. “A-apa yang akan kau lakukan?” ucap Heiki ketakutan.


“Aku? Tentu saja memulai permainan kita. Tenang saja, aku tidak akan langsung membunuh kalian. Itu tidak akan seru, kita main-main dulu,” balas Gieno santai.


“Kau, kami ini keluargamu!” teriak Abraham.


Gieno menoleh dan menatap tajam ke arah Abraham. Rahang Gieno mengeras saat mengingat perlakukan Abraham kepadanya dan papanya. “Diamlah, tua bangkat keparat!”


Bugh … Brak …


“Papa!” teriak Heiki dan Nairy bersamaan saat tanpa rasa kasihan Gieno menedang kursi Abraham sampai laki-laki tua itu terjatuh bersama kursi itu.

__ADS_1


__ADS_2