Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
32. Aneh


__ADS_3

Kening Gieno berkerut saat melihat Mentari berjalan menunduk. Bahkan gadis itu tidak menyadari keberadaannya yang sedang duduk di sofa ruang tamu. "Mentari," panggil Gieno.


Mentari terlonjak mendengar suara berat milik Gieno. Gadis itu mendongak dan mendapati keberadaan Gieno di sofa. Laki-laki itu sedang menatap Mentari datar. "Selamat pagi, Kak," sapa Mentari.


Setelah mengucapkan itu, Mentari kembali melanjutkan langkahnya. Hal itu tentu saja membuat Gieno semakin bingung. Tidak biasanya gadis itu terlihat muram begitu. "Ada apa dengannya?" gumam Gieno.


Gieno berdiri dan melangkah mengikuti langkah kaki Mentari. "Kau kenapa?" celetuk Gieno tiba-tiba.


Untuk kedua kalinya Mentari dibuat terlonjak oleh suara Gieno. Mentari mengusap dadanya terkejut. "Aku tidak apa-apa, Kak. Oh iya, terima kasih sudah mengizinkan aku menemui orang tuaku." Mentari tersenyum manis ke arah Gieno.


Laki-laki itu mengernyit, dia merasa ada yang aneh dengan sikap dan bawaan gadis dihadapannya itu. "Kenapa kau malah terlihat lesu? Bukannya kau seharusnya senang ingin bertemu dengan keluargamu?" ucap Gieno.


Mentari terdiam. 'Entahlah, dari tadi malam aku merasa audah tidak bertenaga,' batin Mentari.


"Tidak lesu, Kak. Aku hanya sedang menyimpan energi untuk menghabiskan waktu bersama keluargaku nanti." Mentari kembali tersenyum ke arah Gieno.


Namun, bukannya merasa lega dengan itu. Gieno malah semakin merasa aneh dengan Mentari. Mentari memang sering tersenyum kepada dirinya. Namun, biasanya gadis itu akan memberikan senyum canggung, senyum kikuk atau pun senyum takut. Entah kenapa kali ini terlihat berbeda.

__ADS_1


Gieno menangkap sebuah ketulusan di dalam senyum itu, dan sebuah kesedihan ditatapan mata bulat itu. "Kalau begitu aku pergi, Kak. Sampai bertemu lagi."


Suara Mentari menyadarkan lamunan Gieno. Laki-laki itu menatap tubuh mungil Mentari yang mulai menghilang dibalik pintu mobil. "Ck, apa yang aku pikirkan? Kenapa juga aku harus memikirkan hal seperti ini," gumam Gieno.


...*****...


Gieno menatap datar wajah cantik seorang wanita dihadapannya. "Kamu ingin memesan apa, Tuan?" tanya Naraya lembut.


Gadis itu benar-benar pantang menyerah. Naraya dengan beraninya mendatangi perusahaan De Larga di saat jam makan siang. Setelah melalui sedikit bujukan, akhirnya Naraya bisa makan bersama dengan laki-laki incarannya itu. "Puding terlur," sahut Gieno singkat.


"Wah, Anda menyukai puding telur? Papaku malah tidak menyukai itu, katanya makanan itu adalah makanan kesukaan mendiang bibiku. Jadi dia mencoba menghindarinya karena takut rindu," ucap Naraya panjang lebar.


"Aduh, maaf. Aku malah terdengar seperti curhat," sambung Naraya. Makan siang antara Naraya dan Gieno terus berlanjut. Jelas saja kendali dari awal diambil alih oleh Naraya yang tidak berhenti berbicara.


...*****...


"Maaf, Nona Mentari. Sesuai perintah Ketua, sudah saatnya kembali," tutur seorang laki-laki.

__ADS_1


Mentari yang sedang asik bercengkrama bersama keluarganya menoleh dan melirik jam di tangannya. "Ah, cepat sekali. Sudah jam dua satu saja," gumam Mentari.


"Maaf, Bu, Pak. Aku harus kembali lagi," tutur Mentari lesu.


Sepasang suami istri dan dua adik Mentari terlihat ikut bersedih. Melihat raut kesedihan di mata keluarganya membuat Mentari merasa bersalah. "Tidak apa-apa, Nak. Kami mengerti jika berada di posisi kamu. Jaga diri baik-baik di sana, jangan sampai membuat Tuan De Larga marah," nasehat Anita, ibu Mentari.


"Iya, Nak. Bapak dan Ibu di sini hanya bisa mendoakan kamu. Semoga kamu diberi kemudahan ke depannya. Seringlah berkunjung ke sini, Nak," tambah Narwan, ayah Mentari.


Mentari tersenyum tipis. "Terima kasih, Bu, Pak. Akan aku usahakan untuk lebih sering ke sini. Sepertinya, Kak Gieno juga tidak akan melarang selagi itu di dalam pantauannya." Mentari tersenyum kepada kedua orang tuanya.


"Kakak kapan pulang lagi?" celetuk seorang anak laki-laki.


Mentari menoleh dan tersenyum manis ke arah sang adik. "Tidak lama, Kakak akan pulang dan membawa mainan banyak lagi untuk Bara," ucap Mentari.


"Janji." Anak laki-laki yang dipanggil Bara itu menyodorkan kelingking kecilnya kepada Mentari.


"Janji." Mentari terkekeh kecil sambil menyahut jari mungil itu.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku pergi ya, Buk, Pak," pamit Mentari.


"Iya, Nak. Hati-hati, nanti kalau sudah sampai, hubungi segera," sahut Anita.


__ADS_2