
Gieno membawa tubuh Mentari melalui pertempuran panas itu. Anggota Zero yang melihat kedatangan ketua mereka, tanpa aba-aba melindungi langkah kaki Gieno. Aura mencekam yang di keluarkan oleh Gieno cukup membuat pertempuran terhenti sejenak.
"Yezo, Ferry, habisi cepat. Lima belas menit lagi, gedung ini akan diledakkan Petrik dari jarak jauh," ucap Melvin.
"Baik, sisa sedikit," balas Ferry.
"Yezo, ambil langkah ke ruangan tengah. Mereka melakukan rencana B," papar Rangga.
"Rencana B? Ketuanya saja sudah hampir meregang nyawa," ejek Yezo.
"Mereka belum tahu, apakah para inti sudah kalian amankan?" ucap Rangga lagi.
"Sudah, sisa satu. Sepertinya dia ingin kabur," balas Ferry.
"Petrik, ambil bagian," titah Yezo.
"Ini yang aku tunggu, orangnya?" sahut Petrik kesenangan.
__ADS_1
"Pohon di sudut timur," ujar Melvin.
Petrik mengedarkan senjata kesayangannya mencari mangsa yang disebutnya. "Dapat kau," gumam Petrik.
"Jangan bunuh, titah Gieno," peringat Melvin.
"Baiklah," sahut Petrik.
Dor …. "Argh …." Petrik menembak tepat di mata kaki laki-laki itu.
Gieno membawa mobil dengan keadaan gila. Sesekali laki-laki itu melirik ke arah Mentari yang tampak mulai memejamkan matanya. "Jangan tidur, angkat kepalamu," ucap Gieno.
Mentari yang mendengar suara Gieno tersenyum tipis. "Aku sudah … tidak, kuat, Kak," lirih Mentari terpotong-potong.
"Aku bilang buka matamu," desis Gieno panik.
Namun, semua itu hanya tinggal perintah. Gadis yang biasanya begitu penurut kepada Gieno, untuk pertama kalinya tidak melanggar ucapan laki-laki itu. Mata Mentari perlahan tertutup dengan kepala yang mengulai lemas. Setidaknya Gieno memasangkan seatbelt sehingga ada yang menahan tubuh mungil itu untuk tidak terjatuh.
__ADS_1
Gieno yang melihat mata Mentari sepenuhnya tertutup mengumpat keras. Jantung laki-laki itu berdegum kencang, pikirannya kalut dan tidak tenang. Darah dari kepala Mentari masih mengalir, hal itu semakin membuat Gieno hilang akal. Laki-laki yang biasanya begitu tenang dan santai, kini terlihat kelimpungan dengan kepanikan yang mendera.
"Brengsek! Minggirlah." Gieno mengumpat dan menggerutu marah saat melihat jalanan kota malah begitu padat.
Melihat jalan mobil yang seperti semut membuat Gieno menggeram marah. Laki-laki itu keluar dari mobilnya dan berteriak keras ke arah depan jalanan. "Minggirlah, bangsat! Cepat minggir sebelum mobil kalian aku buat hancur!"
Semua orang sempat terkejut dan bingung dengan aksi tiba-tiba Gieno. Namun, saat mereka menangkap sebuah tato berukiran De Larga di leher kanan laki-laki itu, membuat mereka memilih mengalah dan menepi. Melihat ada secerca jalan untuk mobilnya, Gieno kembali ke dalam mobilnya.
"No, aku sudah menyuruh Zero Cross satu untuk menuntun jalanmu. Mereka sudah hampir sampai, jalanan cukup padat karena sekarang jam pulang kantor." Suara Yezo terdengar dari benda kecil yang masih terpasang di telinga Gieno.
Tidak berselang lama, puluhan mobil mendekat dan berjejer membuat jalan untuk Gieno. Sedangkan para pengendara lain yang jelas mengenali mobil dan motor penguasa jalanan itu memilih mengalah. "Astaga, ini Zero Cross. Ada apa mereka membuka jalan? Apa ada Tuan De Larga?" ucap salah satu pengendara mobil terkagum.
Gieno yang melihat itu memacu mobilnya ke arah rumah sakit. Hampir lima belas menit, mereka habiskan untuk membuka jalan menuju rumah sakit terdekat. Brum … ckitt …. Gieno membawa mobilnya masuk ke dalam lobi rumah sakit sehingga membuat kekacauan. Para keamanan rumah sakit yang berniat menangkap pelaku kekacauan terhenti saat melihat wajah Gieno.
Semua orang menatap takut ke arah Gieno yang tampak terburu-buru ke arah bangku penumpang. "Siapkan ruangan," desis Gieno.
"Ba-baik, Tuan," sahut seorang dokter ketakutan.
__ADS_1