Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
6. Pertempuran


__ADS_3

Gieno keluar dari dalam mobil dengan wajah datarnya. Enam laki-laki tampan berjalan gagah di lorong kampus Universitas BY. Keadaan kampus yang awalnya begitu ramai tiba-tiba berubah sunyi. Semua mahasiswa yang melihat kehadiran gengster Zero, memilih diam tidak berani bersuara. Seluruh manusia yang berada di koridor kampus dengan segera menyingkir dari sana.


Gieno berjalan mendahului para anggota inti. Tidak sedikit mahasiswa yang menatap kagum ke arah Gieno yang terlihat begitu tampan. Bahkan mahasiswa laki-laki pun ikut menatap berbinar ke arah Gieno karena begitu kagum.


Gieno menggerakkan matanya awas sambil meneruskan jalannya. "Jam dua," tutur Gieno.


"Iya," sahut lima anggota inti.


'Satu … dua … tiga …,' batin Gieno.


Dor … dor … dor …


Tepat setelah Gieno selesai menghitung di dalam hati, bunyi peluru yang ditembakkan beradu memekkan telinga. Gieno tersenyum miring, begitu pula dengan lima temannya. Dengan gerakan santai Gieno menarik sebuah pisau kecil dibalik jas hitamnya. Setelahnya tanpa menatap sasaran, Gieno melayangkan pisau kecil itu ke arah sebuah tembok.

__ADS_1


Pats …. "Akhh …." Ternyata dibalik tembok berdiri seorang laki-laki dengan senjata api ditangannya. Laki-laki itu terjatuh dan tersungkur ke lantai dengan keadaan mengenaskan. Pisau kecil milik Gieno tadi sudah bersarang sempurna di leher laki-laki itu.


Dor … dor … dor …


Sahutan penembakan beradu keras dengan teriakan histeris para penghuni kampus. Mahasiswa dan dosen berlarian ketakutan, mereka mencari tempat aman untuk melindungi diri dari pertempuran berdarah itu. Jika sudah membawa nama Zero, maka tidak pernah ada pertempuran tanpa darah. Sebab itu nama Zero seperti sebuah nyanyian kematian bagi orang yang mendengarnya.


Apakah tidak ada tindak hukum untuk Zero? Zero adalah gengster satu-satunya milik negara yang mendapat izin legal. Hal itu membuat Zero begitu bebas melakukan tindakan, termasuk secara terbuka seperti ini. Tidak jarang pemerintahan meminta bantuan kepada Zero untuk menangkap orang-orang yang mungkin tidak terjangkau tangan pemerintahan.


Mayat berserakan disepanjang koridor kampus. Gieno dan lima temannya masih berjalan santai tanpa merasa terganggu. Tepat saat enam laki-laki itu sampai di depan sebuah ruangan kelas. Gieno menendang pintu ruangan itu kasar.


Tak … tak … tak …


Suara langkah kaki Gieno seakan menjadi sebuah alarm bahaya bagi penghuni ruangan. Gieno berjalan santai dengan wajah datar, kedua tangan laki-laki itu disimpan di dalam saku celananya. Seluruh penghuni ruangan meneguk ludahnya kasar merasa begitu ketakutan melihat secara langsung sang pemimpin Zero yang terkenal dengan julukan iblis gila itu.

__ADS_1


Sedangkan laki-laki paruh baya yang sudah pucat denga kaki bergetar mencoba mundur dari tempatnya. "Ja-jangan mendekat," ucap laki-laki paruh baya terbata-bata.


Tak … tak … tak …


Tanpa menghiraukan kalimat itu, Gieno masih melangkah santai ke arah laki-laki paruh baya itu. "Selamat siang Tuan Andreas."


Suara berat yang begitu dingin itu mampu memaksa bulu roma penghuni ruangan untuk berdiri. Suara berat yang begitu menggoda ditelinga para wanita dan mengerikan secara bersamaan. "Pergi kau," ucap laki-laki paruh baya itu lagi.


"Bagaimana hidupmu setelah kepergian Papaku? Sepertinya kau terlihat baik-baik saja, dan … begitu bahagia," sambung Gieno dingin.


Glek …. Laki-laki paruh baya itu menelan salivanya susah payah. Napasnya memburu sebab begitu ketakutan. "Ka-kau?" tuturnya terbata.


"Aku adalah anak laki-laki yang menyaksikan secara langsung pembantaian Papaku. Meski saat itu umurku baru delapan tahun, tapi aku ingat betul wajah-wajah orang yang terlibat," balas Gieno.

__ADS_1


"A-aku hanya mengikuti perintah Tuan Barka, aku tidak salah di sini," papar Andreas membela dirinya.


__ADS_2