
Mentari sedang berdiri di depan sebuah kolam ikan di sekitar taman di dekat mansion Gieno. Gadis itu merasa sangat bosan berada di lingkungan mansion. Mentari akhirnya meminta izin kepada Yezo untuk berjalan keluar dari lingkungan mansion. "Mentari," panggil seorang laki-laki.
Mentari yang sedang sibuk dengan air kolam, menoleh ke arah sumber suara. "Tomi?" balas Mentari sedikit terkejut.
Laki-laki yang bernama Tomi itu tersenyum senang saat melihat jika wanita yang sedang berada di depannya benar-benar Mentari. "Benar kamu, kamu sendiri?" tanya Tomi.
"Iya," balas Mentari sedikit canggung.
"Boleh aku duduk di sini?" izin Tomi.
"Oh, boleh … silakan." Mentari menggeser tubuhnya memberi ruang untuk Tomi.
"Aku tidak menyangka jika kita akan bertemu di sini. Sudah hampir dua bulan aku mencari keberadaan kamu di kampus. Tapi aku tidak pernah menemukan kamu. Berita beredar kamu memilih jalur kuliah online, apa benar begitu?" pungkas Tomi.
"Ah, iya … aku sekarang kuliah online," sahut Mentari apa adanya.
Tomi menatap Mentari seakan menilai sesuatu. "Kenapa kamu memilih kuliah online? Padahal kamu terlihat sehat-sehat saja," tutur Tomi bingung.
__ADS_1
Mentari menggaruk kepala belakangnya bingung. Dia bingung ingin menjelaskan keadaanya seperti apa kepada Tomi, salah satu laki-laki yang menyukai Mentari di kampus. "Em, itu … aku hanya sedang ingin saja," papar Mentari kikuk.
Tomi yang melihat wajah canggung Mentari hanya tersenyum tipis. Laki-laki itu mengerti, sepertinya Mentari tidak nyaman dengan pembahasan itu. "Tapi aku senang akhirnya bisa melihatmu lagi. Aku pikir kamu pindah ke luar negeri, sampai aku tidak melihat peredaranmu lagi," canda Tomi.
Mentari terkekeh kecil mendengar kalimat Tomi. "Aku masih di sini," sahut Mentari singkat.
"Oh iya, apa kamu mengganti nomor teleponmu?" tanya Tomi.
"Iya, ada sesuatu sehingga aku harus menggantinya kemarin. Kenapa?" balas Mentari balik bertanya.
"Tidak, aku mencoba menghubungi nomormu. Tapi sampai saat ini masih tidak aktif," sahut Tomi.
"Apa aku boleh meminta nomor barumu itu?" tanya Tomi.
"*** …."
"Tidak." Kalimat Mentari terputus oleh suara berat nan dingin seseorang.
__ADS_1
Mentari dan Tomi menoleh dan melihat sosok tinggi yang begitu tampan mendekat ke arah mereka. Tomi mengernyit melihat laki-laki itu, hanya beberapa detik sampai Tomi melotot saat melihat ukiran di leher laki-laki tampan itu. Berbeda dengan Mentari, gadis itu sempat terkejut dengan keberadaan Gieno. Namun, beberapa detik kemudian gadis itu memilih menunduk. Mentari sedang berusaha untuk melupakan perasaannya kepada Gieno.
"Pulang," ucap Gieno kepada Mentari.
Mendengar itu, Mentari berdiri tanpa menyahut dan juga tidak membantah. Sedangkan Tomi yang sudah terdiam kaku, memiliki beribu pertanyaan di dalam benaknya. 'Mentari, ada hubungan apa dengan Tuan De Larga,' batin Tomi penasaran.
"Dan kau … jangan dekati Mentari lagi, itu pun jika kau masih sayang nyawa," ancam Gieno.
.
.
.
Kening Gieno berkerut saat melihat ada sesuatu yang berbeda dari sifat Mentari. Gadis itu sedari tadi hanya diam tanpa mengeluarkan suaranya. Bahkan saat ini, Mentari sedang menoleh ke samping melihat jalanan kota. "Kau kenapa?" tanya Gieno.
Mentari menoleh singkat ke arah Gieno yang sempat tertegun melihat tatapan sendu dari bola mata Mentari. "Tidak ada, Kak," sahut Mentari. Setelahnya gadis itu kembali memfokuskan pandangannya ke arah jalanan.
__ADS_1
Gieno semakin dibuat bingung. 'Ada apa dengannya? Apa dia sedih karena aku mengganggu waktunya dengan laki-laki itu?' batin Gieno.