Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
50. Tampannya Subahanallah


__ADS_3

Heiki menatap sepotong tangan yang sudah keluar dari dalam tas. Tato di tangan mayat itu begitu dikenalnya. Itu adalah tangan salah satu dari orang yang ikut di dalam aksi pembantai mendiang Papa Gieno kala itu. Heiki berkeringat dingin. "Dia tidak main-main, bagaimana ini?" gumam Heiki bergetar.


"Heiki, kau …." Mata Abraham membola saat melihat sepotong tangan di atas lantai. Laki-laki tua itu melirik Heiki yang sudah pucat dengan keringat sebesar jagung.


"Dia datang lagi?" tanya Abraham.


"Iya, kali ini sudah dua. Aku takut, Pa. Dia tidak main-main," ucap Heiki ketakutan.


Abraham terdiam, jujur saja dia juga merasa takut. Nama besar Gieno yang menyandang status sebagai pemimpin Zero, sudah cukup membuat mereka ketakutan. "Kita harus menambah keamanan," tutur Abraham.


"Pengawal kita tidak ada apa-apanya dibanding Zero, Pa. Apa perlu kita memohon ampun saja kepadanya?" cetus Heiki hilang akal.


"Kau pikir dia segampang itu untuk mengampuni? Apa kau lupa kalau julukannya adalah iblis gila?" papar Abraham.


"Terus kita harus apa? Belum lagi dengan Naraya yang terus mendekatinya," tutur Heiki frustasi.

__ADS_1


"Setidaknya kita masih ada waktu untuk berpikir. Dia memulai dari para bawahan kita, berarti masih ada tiga orang lagi. Selama itu, kita pikirkan rencana."


...*****...


Mentari menatap wajah Gieno yang baru saja masuk ke dalam ruangan inapnya. Wanita itu terus memandang wajah tampan laki-laki yang sedang berjalan mendekat ke arahnya. 'Benar-benar tampan, pantas saja wanita berlomba menginginkannya, meski tahu dia lami-laki gila wanita,' batin Mentari.


Sedangkan Gieno tersenyum miring saat melihat mata Mentari tidak berkedip menatapnya. Laki-laki itu memajukan wajahnya menatap wajah pucat Mentari. Cup …. Satu kecupan mendarat di pipi kanan gadis itu. Jelas saja aksi tiba-tiba Gieno itu sukses membuat Mentari terkesiap. Mentari tersadar dari lamunannya, wajah tampan Gieno yang masih berada beberapa inci dari wajahnya membuat wajah pucat itu mulai memerah. Gieno kembali tersenyum melihat wajah merona Mentari.


"Sudah makan?" tanya Gieno. Meski suara Gieno masih begitu datar, tapi kesan hangat mulai meraba hatinya laki-laki dingin itu.


"Kenapa?" tanya Gieno lagi.


"Tidak enak," balas Mentari jujur.


Gieno menaikkan sebelah alisnya, kemudian laki-laki itu tersenyum miring. "Atau kau ingin aku memakanmu?" celetuk Gieno.

__ADS_1


Mentari yang sudah mengerti maksud dari kata makan, melotot sambil menutup bibirnya cepat. Wajah wanita itu kembali memerah mengingat kejadian kemarin malam. Sedangkan Gieno yang melihat itu terkekeh kecil. Mata Mentari melotot saat melihat wajah Gieno dengan ukiran senyum tipis itu. Bukan lagi senyum miring yang biasa dia lihat, tetapi senyum tulus.


"Tampannya subahanallah," celetuk Mentari tanpa sadar.


Gieno yang mendengar suara pelan Mentari berganti menjadi tersenyum miring. Pujian orang lain untuk wajahnya sudah begitu biasa dia dengar. Namun, kalimat Mentari terdengar berbeda di dalam hatinya. "Kau ingin makan apa?" tanya Gieno tiba-tiba.


Mentari yang sedang tertegun di dalam rasa terpesonanya terkesiap saat mendengar suara berat itu. Gadis itu menatap Gieno dan nampak berpikir. "Aku ingin pecel lele," sahut Mentari.


Kening Gieno berkerut. "Pecel lele?" tanya Gieno bingung.


"Ah, apa Kakak tidak tahu pecel lele?" balas Mentari balik bertanya.


"Kalau lele aku tahu, ikan kan?" sahut Gieno.


Mentari mengulum bibirnya, setelahnya gadis itu mengangguk kecil. "Lele memang ikan, Kak. Jadi, aku sedang ingin memakan ikan itu. Tapi pakai sambalnya, itu pecel lele," ungkap Mentari.

__ADS_1


__ADS_2