Iblis Penguasa Zero

Iblis Penguasa Zero
106. Kepolosan


__ADS_3

Tok … Tok … Tok …


Mentari yang sedang tertidur senang harus terganggu dengan suara pintu kamarnya yang diketuk dari luar. Mata gadis itu terbuka secara perlahan dan mulai memperhatikan sekitar. Jika tadi sebelum tidur di samping gadis itu ada Gieno. Maka sekarang gadis it tidak menemukan keberadaan laki-laki itu di sampingnya.


Mentari menghela napas berat saat mengingat jika Gieno memang sempat mengatakan akan pergi ke suatu tempat kepadanya. Mata gadis itu hampir kembalo terpejam saat suara pintu diketuk kembali menyadarkannya. “Siapa ya?” gumam Mentari.


“Maaf kami mengganggu, Nona. Tapi kami mendapat perintah dari Tuan Yezo.” Suara berat seorang laki- mengambil alih perhatian Mentari. Gadis itu duduk dan nampak diam sejenak di atas kasur.


Kring … Kring … Kring …


Suara telepon mansion mengejutkan Mentari yang masih setengah sadar. Secara perlahan gadis itu mendekat ke arah benda berisik itu. Tangan gadis itu meraih telepon mansion dan mulai bersuara. “Halo,” sapa Mentari.


“Mentari, maaf mengganggu tidur nyenyakmu. Tapi ini sangat genting dan kami tidak punya pilihan lain selain meminta tolong kepadamu,” ucap Yezo di seberang telepon.


Kening Mentari berkerut tidak paham dengan maksud kalimat Yezo. “Tidak apa-apa, Kak. Tapi ada apa? Apa sesuatu yang genting itu?” balas Mentari bingung sekaligus penasaran.

__ADS_1


“Ini tentang Gieno, dia ….”


“Kak Gieno? Dia kenapa, Kak?” sela Mentari karena sangat terkejut.


Yezo tertawa kecil mendengar suara cemas milik gadis itu. “Dia tidak kenapa-napa, hanya saja kami memang membutuhkan bantuanmu sekarang,” balas Yezo.


“Kalau tidak kenapa-napa, terus apa?” tanya Mentari bingung.


“Dia hilang kendali, setannya kambuh. Dia bisa saja membunuh orang lain dengan sekali cekik,” ungkap Yezo.


Mentari terkejut mendengar kalimat Yezo. Gadis itu malah ikut merasa ngeri membayangkan kemarahan Gieno. Laki-laki itu jarang laepas kendali, tetapi sekalinya lepas tidak akan main-main. “Memangnya kenapa dia bisa lepas kendali, Kak?” tanya Mentari.


Mentari terdiam sejenak mendengar kalimat Yezo. “Tapi apa nanti aku akan berpengaruh? Kenapa tidak Kakak dan yang lain saja?” tutur Mentari ragu.


“Tidak, jika sisi iblis Gieno sudah muncul. Maka tidak bisa menghentikannya secara sembarangan apalagi secara paksa dan kasar. Kami masih sayang nyawa untuk mendekatinya. Dia itu iblis gila yang menyerang orang tanpa pandang bulu. Sebab dia sudah dikuasai jiwa iblisnya,” terang Yezo.

__ADS_1


“Kalau begitu bagaimana dengan aku? Jika kalian saka takut, aku juga takut. Bagaimana kalau seandainya nanti Kak Gieno membanting tubuh kurusku ini? Bisa patah tulang aku,” ucap Mentari seraya bergumam di ujung kalimatnya.


Gadis itu dapat mendengar suara tawa Yezo di seberang telepon. “Tidak mungkin Gieno akan membantingmu. Jiwa iblisnya muncul karana kamu, jadi juga kamu yang mampu menghentikan kegilaannya. Sudahlah, cepatlah ke sini. Aku sudah mengirimkan lima anggota Zero. Nanti keburu tempat ini dibuat rata oleh Gieno,” tutur Yezo.


Mata Mentari melotot mendengar kalimat Yezo. “Ka-kalau begitu aku segera ke sana, Kak.”


Yezo tertawa saat melihat sambungan telepon sudah dimatikan oleh Mentari. “Astaga, kepolosannya ini cukup berguna di saat seperti ini,” gumam Yezo.


.


.


.


“Nah, itu yang ditunggu akhirnya sampai juga.” Suara Ferry mengalihkan perhatian semua orang. Sosok gadis manis mendekat dikawal oleh sekitar enam anggota Zero.

__ADS_1


Mentari datang nampak tergesa dengan wajah cemasnya. Semua pengahuni klub malam itu menatap Mentari yang jelas saja menjadi pusat perhatian. Sebab gadis itu datang dan masuk ke dalam klub malam itu dengan baju tidur yang nampak begitu imut.


Mentari saat ini sedang menggunakan baju tidur bermotif hello kitty berwarna merah muda. Belum lagi dengan sendal bulu yang digunakan gadis itu. Bagaimana tidak, Mentari datang dengan keadaan terkejut dan tergesa.


__ADS_2